headerphoto

Sekolah Terpadu dengan Pondok Pesantren Sebagai Pola Pendidikan Alternatif

Senin, 21 Januari 2008 05:10:37 - oleh : redaksi - dilihat 1522
OLEH : LUQMAN H MUDHOFIR *), Dunia saat ini telah memasuki era baru, milenium ketiga. Banyak kecenderungan dan estimasi yang diberikan dalam memasuki milenium baru ini, baik yang bernada pesimis maupun optimis. Salah satu estimasi yang mengedepan tentang millennium ketiga adalah akan terjadinya pergeseran dan perubahan tatanan kehidupan sosial. Di mana seluruh tatanan sosial akan didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di samping itu, masyarakat dunia akan menhadapi persoalan kompleks yang memungkinkan terjadinya pergeseran nilai-nilai kemanusiaan, bahkan sampai terjadinya dehumanisasi. Pada milenium ini, juga akan terjadi liberalisasi dalam semua bidang kehidupan, termasuk pendidikan dan agama. Dampak dari liberalisasi ini akan memungkinkan terjadinya kesenjangan, ketegangan dan konflik.

Dampak ini terjadi karena masing-masing bidang kehidupan memiliki signifikansi yang bersifat simbiosis mutualisme, di mana liberalisai dalam satu bidang akan otomatis berpengaruh secara timbal balik dengan bidang yang lain. Selain berestimasi tentang menguatnya teknologi industri, globalisasi, dan liberalisasi, era milenium juga ditandai dengan kebangkitan agama dan spiritualitas.

Kebangkitan ini muncul menandai berakhirnya kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai media untuk mengatasi semua masalah manusia. Dalam realitasnya, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu memberikan solusi atas arti kehidupan, karena itu hanya dapat diperoleh melalui agama (spiritualitas). Kenyataan pentingnya spiritualitas ini berimbas pada dunia pendidikan, termasuk di Indonesia.

Pendidikan nasional kita bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Memiliki integritas yang tinggi akan terbentuk melalui penguatan moral (etika) dan penghayatan akan kebenaran spiritual. Ini bisa didapat dengan pendalaman dan pengalaman agama yang kuat. Penguatan moral dan spiritual pada hakikatnya untuk memenuhi kebutuhan batin sesorang yang nantinya menimbulkan aplikasi keluhuran moral dan integrita diri yang kuat.

Secara umum, agama hadir pada manusia baik secara individu maupun sosial dalam dua fungsi, yaitu fungsi transendental dan fungsi profetis, di mana agama menjadi pemimbing manusia dalam menjalani kehidupannya. Dengan kata lain, agama berfungsi sebagai alat mengidentifikasi individu dengan kelompok, menolong individu dalam ketidakpastian, dan menyediakan unsur-unsur identitas.

Agama juga bertindak menguatkan kesatuan dan stabilitas masyarakat dengan mendukung pengendalian sosial, menopang nilai-nilai dan tujuan yang mapan dan menyediakan sarana untuk mengatasi kesalahan dan keterasingan. Agama juga dapat melakukan peran risalah dan membuktikan dirinya sebagai sesuatu uang tidak terpecahkan.

Dari paradigma dasar ini, dapat dirangkaikan dengan operasionalisasi sistem pendidikan dalam benuk pelembagaan yang lebih subordinat. Untuk menguatkan integritas diri yang kuat, sistem asuhan, bimbingan dan pengawasan serta keteladanan dipandang sebagai suatu alternatif sistem yang efektif, di mana obyek batin, perasaan, jiwa dan hati serta etika menjadi sasaran pendidikan dan pembinaan.

Salah satu sistem yang terbukti bertahan dan efektif ada pola pendidikan seperti di atas adalah pondok pesantren. Sedang untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan, maka sistem pembelajaran dan alih teknologi serta pelatihan yang lazim disebut klasikal (schooling) merupakan pilihan yang efektif. Gabungan ideal dari keduanya bisa dijalankan melalui metode pesantren dan klasikal.

Perpaduan kurikulum dan manajemen sekolah serta sistem pembelajaran pesantren in diharapkan bisa membentuk kepribadian dan penguatan budaya Indonesia. Sistem ini dapat menjadi alternatif dari sistem pendidikan yang ada agar fungsi pendidikan bisa berjalan dengan seimbang. Dengan demikian manusia Indonesia seutuhnya tidak berhenti pada tataran teks tujuan pendidikan (*)

*) Guru SMA Negeri 7 Malang

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Hymne Guru" Lainnya