Masa Remajaku, Pilihan Masa Depanku
Selasa, 12 Agustus 2008 07:57:09 - oleh : redaksi - dilihat 796
Pasti banyak yang sepakat bahwa pada saat remaja yakni usia sekolah menengah yang biasa disebut dengan ABG atau singkatan dari Anak Baru Gede, konon tengah mencari jati diri. Pada saat itu merupakan masa-masa transisi dari sifat dan sikap yang kekanak-kanakan menuju ke sifat dan sikap yang lebih dewasa. Bahkan mereka dianggap merepotkan orang tua karena jiwa mereka cenderung labil dan bertentangan dengan pola pikir orang tua.
Kisah di balik remaja tak akan pernah sirna dari atas bumi ini dari generasi ke generasi. Banyak sekali aksi remaja turut menghiasi peradaban manusia yang makin canggih ini. Mengganggap dunia SMA adalah dunia paling menyenangkan untuk mencari pengalaman hidup membuat remaja merasa lebih bebas tanpa memikirkan tanggung jawab yang ada di pundak mereka. Tak sedikit remaja "cengengesan" yang hanya tahu senang dan bermain-main atau remaja "terbang" yang hanya tahu akan kenikmatan tiap hisapan rokok, narkoba, dan tegukan demi tegukan miras. Tapi tak sedikit juga remaja "pekerja otak" yang siap menyongsong hidupnya kelak dengan terus belajar. Atau remaja "timbangan" yang menikmati masa remajanya dengan diimbangi oleh tanggung jawab besar sebagai seorang remaja yang bersiap untuk menjadi sukses di kemudian hari. Lalu, remaja yang bagaimanakah kita ini?
Seorang remaja "cengengesan" sebenarnya tahu bahwa dia adalah seorang pelajar, tetapi dia tidak paham akan statusnya sebagai pelajar, artinya dia tidak melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya. Di sini dia menjadi remaja yang mudah sekali terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan pergaulannya. Remaja "terbang" yang terkenal karena kerap muncul di televisi dalam acara berita kriminal kini bukan lagi menjadi topik hangat. Bahkan karena aksi-aksinya itu sudah lama menjadi sorotan masyarakat. Perilaku menyimpang yang meresahkan ini banyak ditemui di berbagai tempat umum, tidak terkecuali di sekolah, remaja seperti inilah biang dari segala masalah. Tak heran jika lingkungan pergaulannya "urakan", teman-temannya "preman", dan gayanya pun tak enak dipandang. Temyata tak sedikit juga remaja "pekerja otak" yang hadir dalam setiap kelas. Remaja ini mewarnai kelas dengan pendapat dan debat hebat yang selalu keluar dari otak yang cemerlang dengan segala prestasi yang membuat siswa lain menjadi iri. Remaja seperti inilah remaja yang selalu fokus dengan kewajiban yang disandangnya. Masa depan cerah pun terbuka lebar untuk mereka.
Banyak sekali remaja "timbangan" yang berhamburan di setiap kelas. Remaja ini merupakan remaja yang tahu akan kebutuhan hidupnya. Mereka selalu menyeimbangkan antara kewajibannya sebagai pelajar tapi tak melupakan haknya sebagi seorang remaja. Remaja ini tidak hanya disibukkan oleh tugas-tugas sekolah tapi juga dengan kisah hidupnya sebagai "pecinta monyet" dengan remaja lainnya. Atau bahkan sibuk dengan kotak kecil play station yang siap membuat mereka duduk berlama-lama di depan televisi sambil beradu bersama remaja sebayanya. Lalu apakah yang terjadi jika jiwa remaja yang labil ini dipengaruhi oleh "tangan-tangan" jahat yang merenggut kehidupan remaja mereka? Apakah kehidupan mereka menjadi salah satu arena bermain yang tidak akan pemah menjadi berharga di kemudian hari?
Adanya free sex, pencurian, kehamilan di luar nikah, pemakai narkoba, peminum miras, dan perkelahian merupakan pengaruh negatif remaja yang didapatkannya dari lingkungan pergaulan. Bahan-bahan terlarang sudah beredar demikian luas, sarana transportasi mudah didapat, dan lahan terbuka sebagai sarana berekspresi. Tak heran orang tua menjadi "miris" akan nasib anaknya. Orang tua akhimya khawatir dengan pergaulan anaknya. Ternyata tak sedikit juga orang tua yang memberi kebebasan dan kepercayaan penuh terhadap anak-anak remajanya. Ini terjadi karena rasa sayang orang tua terhadap anak. Bahkan akibat perasaan ini harta pun menjadi tidak ternilai. Orang tua dengan senang hati "menaburkan" uang ke dompet anaknya tanpa memperhitungkan jumlah yang pantas untuk kebutuhan remaja. Perlakuan orang tua ini ternyata menjadi faktor pendorong kelamnya kehidupan remaja.
Ternyata penguruh negatif ini bisa terjadi pada diri setiap remaja. Tak ada yang dapat menghalangi pengaruh negatif untuk masuk ke dalam otak mereka. Remaja dengan otak yang "berkapasitas besar" pun tak dapat menghindar dari pengaruh-pengaruh tersebut. Hanya saja bagaimana sikap remaja tersebut terhadap pengaruh-pengaruh buruk yang ada di sekitarnya. Remaja yang aman dapat membentengi dirinya dari pengaruh-pengaruh tersebut. Seberapa besar pengaruh buruk ingin "memeluk" jika seorang remaja siap untuk melawan maka remaja tidak akan terpengaruh. Tidak ada yang tahu bagaimana pola pikir kita dan sifat kita kecuali diri kita dan Tuhan. Tinggal bagaimana kita mengolah segala pengaruh yang ada dengan sebaik-baiknya sehingga kita tidak sampai terjerumus dengan kejahatan dunia. Jika remaja menyayangi hidupnya, menyayangi ibunya, dan menyayangi ayahnya, remaja pasti akan sadar dengan hidup yang bagaimana yang akan dia pilih. Kesadaran hanya akan muncul karena diri seorang remaja itu sendiri.
Melihat dan berpikir akan sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda sangat penting untuk remaja. Kita melihat bukan karena tampak indah atau bagus tapi karena kualitas. Melihat segalanya bukan dari sudut kegagalan yang tengah dirasa tapi berpikir lagi untuk menjadi sukses setelah gagal. Melihat sesuatu hal jangan dari sisi jelek atau negatimya tapi dari segi manfaat yang bisa kita pergunakan. Mengubah pikiran buruk tentang diri kita dan belajar menjadi opdmis tanpa over confidance. Bukan berpikir reaktif tapi proaktif dalam menghadapi masalah.
Selalu bersyukur atas apa yang didapatkannya. Remaja patut bersyukur dengan apa yang sudah melekat pada dirinya. Bukan perhiasan atau kekayaan, melainkan kelebihan otak dan hati yang telah melekat di dalam diri kita. Bukan berarti seorang remaja itu pintar, maka dia menyombongkan dirinya. Bukan berarti dia memiliki kekayaan yang berlimpah karena kekayaan orang tuanya, dia dapat berbangga diri. Tetapi berbangga dirilah seorang remaja dengan akal dan hati yang bersih.
Percaya bahwa kebenaran suatu saat akan mengalahkan kebatilan. Meskipun langkah kebenaran selalu tertutup oleh perbuatan-perbuatan buruk tapi teryata jika kita percaya akan itu maka seorang remaja suatu saat akan menjadi seorang yang sukses karena kebenaran-kebenarannya. Hal-hal itulah yang perlu "diamankan" di hati remaja agar remaja terbentengi dari pengaruh-pengaruh buruk dari lingkungan pergaulan mereka. Ingin jadi remaja yang bagaimanakah kita? Masa depan sudah menunggu remaja yang "pintar" dengan "tangan" terbuka lebar. Jadi, mari menjadi sosok remaja yang tahu akan kewajiban kita, menikmati hidup, dan menyongsong hari depan.
Finna Ghoisi Ardillah SMA Negeri 9 Malang
Kisah di balik remaja tak akan pernah sirna dari atas bumi ini dari generasi ke generasi. Banyak sekali aksi remaja turut menghiasi peradaban manusia yang makin canggih ini. Mengganggap dunia SMA adalah dunia paling menyenangkan untuk mencari pengalaman hidup membuat remaja merasa lebih bebas tanpa memikirkan tanggung jawab yang ada di pundak mereka. Tak sedikit remaja "cengengesan" yang hanya tahu senang dan bermain-main atau remaja "terbang" yang hanya tahu akan kenikmatan tiap hisapan rokok, narkoba, dan tegukan demi tegukan miras. Tapi tak sedikit juga remaja "pekerja otak" yang siap menyongsong hidupnya kelak dengan terus belajar. Atau remaja "timbangan" yang menikmati masa remajanya dengan diimbangi oleh tanggung jawab besar sebagai seorang remaja yang bersiap untuk menjadi sukses di kemudian hari. Lalu, remaja yang bagaimanakah kita ini?
Seorang remaja "cengengesan" sebenarnya tahu bahwa dia adalah seorang pelajar, tetapi dia tidak paham akan statusnya sebagai pelajar, artinya dia tidak melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya. Di sini dia menjadi remaja yang mudah sekali terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan pergaulannya. Remaja "terbang" yang terkenal karena kerap muncul di televisi dalam acara berita kriminal kini bukan lagi menjadi topik hangat. Bahkan karena aksi-aksinya itu sudah lama menjadi sorotan masyarakat. Perilaku menyimpang yang meresahkan ini banyak ditemui di berbagai tempat umum, tidak terkecuali di sekolah, remaja seperti inilah biang dari segala masalah. Tak heran jika lingkungan pergaulannya "urakan", teman-temannya "preman", dan gayanya pun tak enak dipandang. Temyata tak sedikit juga remaja "pekerja otak" yang hadir dalam setiap kelas. Remaja ini mewarnai kelas dengan pendapat dan debat hebat yang selalu keluar dari otak yang cemerlang dengan segala prestasi yang membuat siswa lain menjadi iri. Remaja seperti inilah remaja yang selalu fokus dengan kewajiban yang disandangnya. Masa depan cerah pun terbuka lebar untuk mereka.
Banyak sekali remaja "timbangan" yang berhamburan di setiap kelas. Remaja ini merupakan remaja yang tahu akan kebutuhan hidupnya. Mereka selalu menyeimbangkan antara kewajibannya sebagai pelajar tapi tak melupakan haknya sebagi seorang remaja. Remaja ini tidak hanya disibukkan oleh tugas-tugas sekolah tapi juga dengan kisah hidupnya sebagai "pecinta monyet" dengan remaja lainnya. Atau bahkan sibuk dengan kotak kecil play station yang siap membuat mereka duduk berlama-lama di depan televisi sambil beradu bersama remaja sebayanya. Lalu apakah yang terjadi jika jiwa remaja yang labil ini dipengaruhi oleh "tangan-tangan" jahat yang merenggut kehidupan remaja mereka? Apakah kehidupan mereka menjadi salah satu arena bermain yang tidak akan pemah menjadi berharga di kemudian hari?
Adanya free sex, pencurian, kehamilan di luar nikah, pemakai narkoba, peminum miras, dan perkelahian merupakan pengaruh negatif remaja yang didapatkannya dari lingkungan pergaulan. Bahan-bahan terlarang sudah beredar demikian luas, sarana transportasi mudah didapat, dan lahan terbuka sebagai sarana berekspresi. Tak heran orang tua menjadi "miris" akan nasib anaknya. Orang tua akhimya khawatir dengan pergaulan anaknya. Ternyata tak sedikit juga orang tua yang memberi kebebasan dan kepercayaan penuh terhadap anak-anak remajanya. Ini terjadi karena rasa sayang orang tua terhadap anak. Bahkan akibat perasaan ini harta pun menjadi tidak ternilai. Orang tua dengan senang hati "menaburkan" uang ke dompet anaknya tanpa memperhitungkan jumlah yang pantas untuk kebutuhan remaja. Perlakuan orang tua ini ternyata menjadi faktor pendorong kelamnya kehidupan remaja.
Ternyata penguruh negatif ini bisa terjadi pada diri setiap remaja. Tak ada yang dapat menghalangi pengaruh negatif untuk masuk ke dalam otak mereka. Remaja dengan otak yang "berkapasitas besar" pun tak dapat menghindar dari pengaruh-pengaruh tersebut. Hanya saja bagaimana sikap remaja tersebut terhadap pengaruh-pengaruh buruk yang ada di sekitarnya. Remaja yang aman dapat membentengi dirinya dari pengaruh-pengaruh tersebut. Seberapa besar pengaruh buruk ingin "memeluk" jika seorang remaja siap untuk melawan maka remaja tidak akan terpengaruh. Tidak ada yang tahu bagaimana pola pikir kita dan sifat kita kecuali diri kita dan Tuhan. Tinggal bagaimana kita mengolah segala pengaruh yang ada dengan sebaik-baiknya sehingga kita tidak sampai terjerumus dengan kejahatan dunia. Jika remaja menyayangi hidupnya, menyayangi ibunya, dan menyayangi ayahnya, remaja pasti akan sadar dengan hidup yang bagaimana yang akan dia pilih. Kesadaran hanya akan muncul karena diri seorang remaja itu sendiri.
Melihat dan berpikir akan sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda sangat penting untuk remaja. Kita melihat bukan karena tampak indah atau bagus tapi karena kualitas. Melihat segalanya bukan dari sudut kegagalan yang tengah dirasa tapi berpikir lagi untuk menjadi sukses setelah gagal. Melihat sesuatu hal jangan dari sisi jelek atau negatimya tapi dari segi manfaat yang bisa kita pergunakan. Mengubah pikiran buruk tentang diri kita dan belajar menjadi opdmis tanpa over confidance. Bukan berpikir reaktif tapi proaktif dalam menghadapi masalah.
Selalu bersyukur atas apa yang didapatkannya. Remaja patut bersyukur dengan apa yang sudah melekat pada dirinya. Bukan perhiasan atau kekayaan, melainkan kelebihan otak dan hati yang telah melekat di dalam diri kita. Bukan berarti seorang remaja itu pintar, maka dia menyombongkan dirinya. Bukan berarti dia memiliki kekayaan yang berlimpah karena kekayaan orang tuanya, dia dapat berbangga diri. Tetapi berbangga dirilah seorang remaja dengan akal dan hati yang bersih.
Percaya bahwa kebenaran suatu saat akan mengalahkan kebatilan. Meskipun langkah kebenaran selalu tertutup oleh perbuatan-perbuatan buruk tapi teryata jika kita percaya akan itu maka seorang remaja suatu saat akan menjadi seorang yang sukses karena kebenaran-kebenarannya. Hal-hal itulah yang perlu "diamankan" di hati remaja agar remaja terbentengi dari pengaruh-pengaruh buruk dari lingkungan pergaulan mereka. Ingin jadi remaja yang bagaimanakah kita? Masa depan sudah menunggu remaja yang "pintar" dengan "tangan" terbuka lebar. Jadi, mari menjadi sosok remaja yang tahu akan kewajiban kita, menikmati hidup, dan menyongsong hari depan.
Finna Ghoisi Ardillah SMA Negeri 9 Malang
