Pak Caleg
Senin, 27 Oktober 2008 01:47:25 - oleh : redaksi
Komunitas jaga mendapat tamu, seorang calon legislatif. Meski demikian, mereka tidak menganggap istimewa, karena kebetulan yang bersangkutan tetangga satu RT. Terlebih anggota komunitas jaga kurang tertarik dengan perbincangan politik sehingga kehadiran Pak Caleg disambut layaknya tamu biasa. Suguhan yang tersaji juga sama seperti hari-hari biasa.
Beda jika yang datang tamu dengan kapasitas keilmuan dan orang tersebut belum dikenal baik, sambutan dan sajian akan berbeda dengan tamu yang sudah dikenal. Begitulah kebiasaan masyarakat yang lebih mengutamakan menghormati orang asing daripada orang yang dikenal meski statusnya sama-sama tamu.
Lha tamu satu ini…meski caleg dan (kalau lolos) akan menempati gedung terhormat, tetangga yang sudah dikenal watak kesehariannya, mulai bangun tidur sampai akan berangkat tidur lagi. Bahkan tiap hari bertemu Pak Becak, nongkrong di warung, ngopi bareng.
Tapi seandainya Pak Caleg bukan warga setempat, bisa jadi akan dihormati seperti tamu asing lain. Tapi apakah mungkin orang asing dari daerah lain yang tidak dikenal masyarakat setempat menjadi caleg di daerah tersebut?
Ketika ditanyakan ke Pak Caleg, dengan tegas dijawab, ”Tidak mungkin!”
Bahkan Pak Caleg membeberkan alasannya, ”Seperti saya. Tidak mungkin saya menjadi caleg daerah lain karena hakikatnya, caleg adalah wakil rakyat yang menampung aspirasi rakyat. Jika caleg tidak dikenal oleh rakyat, bagaimana mungkin dia bisa tahu kebutuhan rakyat? Apa kenalan dulu, kemudian tanya yang dibutuhkan rakyat? Butuh berapa lama bersosialisasi seperti itu? Yang betul itu ya caleg harus berasal dari daerah setempat seperti saya ini sehingga tahu apa yang menjadi prioritas kebutuhan masyarakat sini.”
Mungkin karena belum terbiasa bicara panjang lebar, Pak Caleg langsung menyambar kopi hangat di atas meja dan langsung ditandaskan dengan sekali teguk. Suara kopi yang mengalir di kerongkongan Pak Caleg terdengar sangat keras, ”cleguk…cleguk..cleguk.”
Semua anggota komunitas jaga, termasuk Mr Bond, tersenyum melihat pemandangan tak biasa itu. ”Mangkane nek ngomong gak athik ngotot,” komentar Pak Bengkel. ”Opo maneh nek ngomong idune muncrat nang endi-endi.”
”Biasa ae koyok nek ngomong sak bendinane ndik warung karo aku. Gak usah bahasa Indonesia barang, koyok ngomong karo wong Papua ae,” sambung Pak Becak bernada protes yang kali ini tampaknya sedang berbaikan dengan Pak Bengkel.
”Sorry friend…,” kata Pak Caleg sambil mengusap mulutnya yang basah dengan lengannya. Tentu saja lengan bajunya basah dijadikan serbet.
”Gak oleh bahasa Indonesia, saiki tambah nggawe bahasa Inggris….,” ujar Pak Hansip tanpa bermaksud mengipasi kondisi, tapi tetap saja suasana makin hangat.
”Sayange masiyo nggawe bahasa Inggris, tapi kemproh,” dengan entengnya Pak Becak berucap.
Pak Caleg tidak menghiraukan komentar-komentar miring itu. ”Mulai sekarang saya harus membiasakan diri berbahasa Indonesia supaya terlihat berpendidikan di depan konstituen. Ndahneyo…, opo rek bahasa Indonesiane ndahneyo?” sambil matanya berkeliling. Serius, tapi justru membuat anggota komunitas jaga terpingkal-pingkal.
”Aku setuju! Nek sampeyan dadi caleg kudu konsekuen,” celetuk Pak Hansip sambil mengangkat tangan seperti anggota dewan yang interupsi.
”Konstituen Pak!” ralat Mr Bond. ”Duduk konsekuen.”
”Bedane opo?” tanya Pak Hansip.
”Takokno Pak Caleg,” jawab Mr Bond. ”Nek aku caleg-e yo tak kandani. Mergo de’e sing caleg, yo cik de’e ae sing nerangno. Mosok se, isok ngomong gak ngerti artine?”
”Soal konstituen, kita bahas kapan-kapan. Sekarang, saya sangat membutuhkan saudara-saudara untuk mendukung saya menjadi caleg,” Pak Caleg tetap nekat berbahasa Indonesia dan mulai berkampanye. ”Saya tidak menjanjikan apa-apa kepada saudara, baik berupa uang atau barang, karena itu termasuk money politics. Kalau saya memberi sesuatu kepada saudara, pasti saya akan cari balen kalau terpilih nanti. Dukunglah saya dengan keikhlasan saudara-saudara.”
”Opooo….balen iku,” ledek Pak Bengkel sambil tersenyum mengejek..
”Ngomong liyane ae,” sergah Pak Becak sambil membalikkan badan setelah mendengar tidak adanya kompensasi apapun untuk mendukung Pak Caleg.
”Setuju!” potong Pak Hansip. ”Gak ngeke’i opo-opo kok kate nganggep sedulur. ”
”Sopo sing kate njaluk sampeyan dadi sedulur?” Tanpa sadar Pak Caleg yang sedang jengkel, mengeluarkan kebiasaan berbahasa Jawa dan menumpahkan kejengkelan ke Pak Hansip. Pak Caleg jengkel kepada Pak Bengkel yang meledek, juga Pak Becak yang dianggap meremehkan.
”Lha iku maeng! Sampeyan nyeluk awake dewe ’saudara’” Pak Hansip ikut bernada tinggi karena tak mau dijadikan tumpahan kejengkelan Pak Caleg. ”Berarti sampeyan lak kepingin dadi seduluran. Nek pancen njaluk seduluran, kudune sampeyan yo sing loman a, ojok medit-medit.”
Pak Caleg semakin jengkel dan menumpahkan dengan mengacak-acak rambutnya sendiri. (noordin djihad)
Beda jika yang datang tamu dengan kapasitas keilmuan dan orang tersebut belum dikenal baik, sambutan dan sajian akan berbeda dengan tamu yang sudah dikenal. Begitulah kebiasaan masyarakat yang lebih mengutamakan menghormati orang asing daripada orang yang dikenal meski statusnya sama-sama tamu.
Lha tamu satu ini…meski caleg dan (kalau lolos) akan menempati gedung terhormat, tetangga yang sudah dikenal watak kesehariannya, mulai bangun tidur sampai akan berangkat tidur lagi. Bahkan tiap hari bertemu Pak Becak, nongkrong di warung, ngopi bareng.
Tapi seandainya Pak Caleg bukan warga setempat, bisa jadi akan dihormati seperti tamu asing lain. Tapi apakah mungkin orang asing dari daerah lain yang tidak dikenal masyarakat setempat menjadi caleg di daerah tersebut?
Ketika ditanyakan ke Pak Caleg, dengan tegas dijawab, ”Tidak mungkin!”
Bahkan Pak Caleg membeberkan alasannya, ”Seperti saya. Tidak mungkin saya menjadi caleg daerah lain karena hakikatnya, caleg adalah wakil rakyat yang menampung aspirasi rakyat. Jika caleg tidak dikenal oleh rakyat, bagaimana mungkin dia bisa tahu kebutuhan rakyat? Apa kenalan dulu, kemudian tanya yang dibutuhkan rakyat? Butuh berapa lama bersosialisasi seperti itu? Yang betul itu ya caleg harus berasal dari daerah setempat seperti saya ini sehingga tahu apa yang menjadi prioritas kebutuhan masyarakat sini.”
Mungkin karena belum terbiasa bicara panjang lebar, Pak Caleg langsung menyambar kopi hangat di atas meja dan langsung ditandaskan dengan sekali teguk. Suara kopi yang mengalir di kerongkongan Pak Caleg terdengar sangat keras, ”cleguk…cleguk..cleguk.”
Semua anggota komunitas jaga, termasuk Mr Bond, tersenyum melihat pemandangan tak biasa itu. ”Mangkane nek ngomong gak athik ngotot,” komentar Pak Bengkel. ”Opo maneh nek ngomong idune muncrat nang endi-endi.”
”Biasa ae koyok nek ngomong sak bendinane ndik warung karo aku. Gak usah bahasa Indonesia barang, koyok ngomong karo wong Papua ae,” sambung Pak Becak bernada protes yang kali ini tampaknya sedang berbaikan dengan Pak Bengkel.
”Sorry friend…,” kata Pak Caleg sambil mengusap mulutnya yang basah dengan lengannya. Tentu saja lengan bajunya basah dijadikan serbet.
”Gak oleh bahasa Indonesia, saiki tambah nggawe bahasa Inggris….,” ujar Pak Hansip tanpa bermaksud mengipasi kondisi, tapi tetap saja suasana makin hangat.
”Sayange masiyo nggawe bahasa Inggris, tapi kemproh,” dengan entengnya Pak Becak berucap.
Pak Caleg tidak menghiraukan komentar-komentar miring itu. ”Mulai sekarang saya harus membiasakan diri berbahasa Indonesia supaya terlihat berpendidikan di depan konstituen. Ndahneyo…, opo rek bahasa Indonesiane ndahneyo?” sambil matanya berkeliling. Serius, tapi justru membuat anggota komunitas jaga terpingkal-pingkal.
”Aku setuju! Nek sampeyan dadi caleg kudu konsekuen,” celetuk Pak Hansip sambil mengangkat tangan seperti anggota dewan yang interupsi.
”Konstituen Pak!” ralat Mr Bond. ”Duduk konsekuen.”
”Bedane opo?” tanya Pak Hansip.
”Takokno Pak Caleg,” jawab Mr Bond. ”Nek aku caleg-e yo tak kandani. Mergo de’e sing caleg, yo cik de’e ae sing nerangno. Mosok se, isok ngomong gak ngerti artine?”
”Soal konstituen, kita bahas kapan-kapan. Sekarang, saya sangat membutuhkan saudara-saudara untuk mendukung saya menjadi caleg,” Pak Caleg tetap nekat berbahasa Indonesia dan mulai berkampanye. ”Saya tidak menjanjikan apa-apa kepada saudara, baik berupa uang atau barang, karena itu termasuk money politics. Kalau saya memberi sesuatu kepada saudara, pasti saya akan cari balen kalau terpilih nanti. Dukunglah saya dengan keikhlasan saudara-saudara.”
”Opooo….balen iku,” ledek Pak Bengkel sambil tersenyum mengejek..
”Ngomong liyane ae,” sergah Pak Becak sambil membalikkan badan setelah mendengar tidak adanya kompensasi apapun untuk mendukung Pak Caleg.
”Setuju!” potong Pak Hansip. ”Gak ngeke’i opo-opo kok kate nganggep sedulur. ”
”Sopo sing kate njaluk sampeyan dadi sedulur?” Tanpa sadar Pak Caleg yang sedang jengkel, mengeluarkan kebiasaan berbahasa Jawa dan menumpahkan kejengkelan ke Pak Hansip. Pak Caleg jengkel kepada Pak Bengkel yang meledek, juga Pak Becak yang dianggap meremehkan.
”Lha iku maeng! Sampeyan nyeluk awake dewe ’saudara’” Pak Hansip ikut bernada tinggi karena tak mau dijadikan tumpahan kejengkelan Pak Caleg. ”Berarti sampeyan lak kepingin dadi seduluran. Nek pancen njaluk seduluran, kudune sampeyan yo sing loman a, ojok medit-medit.”
Pak Caleg semakin jengkel dan menumpahkan dengan mengacak-acak rambutnya sendiri. (noordin djihad)











