Eksekusi
Selasa, 11 November 2008 04:06:35 - oleh : redaksi
Jam dinding di tembok menunjukkan pukul 02.15. Mata Mr Bond sesekali menengok ke televisi 14 inchi yang dipajang di pojok gardu. Telinganya tidak konsentrasi mendengarkan obrolan koleganya yang masih membincangkan kemungkinan turunnya harga-harga di pasar menyusul keputusan pemerintah menurunkan BBM mulai awal Desember.
Namun suara Pak Becak yang mendominasi pembicaraan masih didengarnya dengan jelas. ”Mudun cumak limangatus, podho ambek goroh..”
Mister Bond justru terfokus pada informasi di televisi yang dini hari itu melaporkan tentang kepastian eksekusi terpidana mati Imam Samudera cs di Nusakambangan. Bahkan meski eksekusi dilakukan pukul 00.00, Kapuspenkum Kejagung belum berani memastikan.
Bagi Mr Bond, sebuah peristiwa yang menggelikan. Pejabat setingkat Kapuspenkum tidak berani mengumumkan kepastian pelaksanaan hukuman mati dan minta para jurnalis bersabar dengan alasan belum mendapat informasi dari Nusakambangan. Justru running text beberapa stasiun televisi langsung memberi informasi pelaksanaan hukuman mati.
”Wis jarno ae Mister…., wong-wong iku wis wayae oleh hukuman setimpal,” komentar Pak Becak yang melihat Mr Bond serius mengikuti pemberitaan eksekusi.
”Pancen tak jarno. Mosok kate tak genteni…,” jawab Mr Bond santai dengan mata tetap menatap televisi.
”Mangkane, rene a….gabung karo awake dewe,” ajak Pak Becak yang tidak mendapat tanggapan positif dari Mr Bond.
Mereka tidak mengusik keasyikan Mr Bond dan meneruskan obrolan. Kali ini tentang hasil Pilgub Jatim. Namun lagi-lagi Mr Bond tidak terpengaruh. Meski matanya mengarah ke televisi, pikirannya berputar-putar, ”Kenapa pemerintah tidak berani tegas mengumumkan pelaksanaan eksekusi? Kalau memang mewaspadai ancaman teror bom, bagaimana dengan fungsi intelejen yang dimiliki semua kesatuan keamanan negeri ini? Apakah pemerintah ragu-ragu? Kalau ya, kenapa ragu-ragu? Kalau tidak, kenapa tidak diumumkan seperti pelaksanaan hukuman mati terhadap Sumiarsih dan Sugeng? Apakah ini menyangkut politis? Jangan-jangan ada pihak-pihak yang ingin bargaining? Bagaimana dengan keraguan beberapa pihak yang meragukan bom rakitan Amrozi cs itu bisa mencabut ratusan nyawa? Sebenarnya ada apa di balik itu semua?”
Matanya menoleh ke arah kerumunan koleganya, mencari-cari sosok yang bisa menjawab pertanyaan pikirannya. Namun tak ditemukan.
”Nggoleki sopo, Mister?” tanya Pak Becak yang kebetulan melihat tingkah laku Mr Bond diiringi semua mata koleganya mengarah padanya.
”Nggoleki Jaksa Agung,” jawab Mr Bond singkat namun membuat kening para koleganya berkerut.
”Ndik Nusakambangan,” jawab Pak Bengkel sekenanya.
”Sampeyan kate protes a, kok nggoleki Jaksa Agung?” sahut Pak Becak.
”Ojok-ojok Mr Bond kesurupan salah siji arwah sing dihukum mati,” Pak Hansip menduga-duga.
”Yo!” jawab Mr Bond pendek sambil menatap Pak Hansip dengan pandangan tajam. ”Aku kate ngejak sampeyan.”
Tentu saja Pak Hansip bergidik dan menggeser tubuhnya di belakang Pak Becak. Sementara kolega lain tersenyum menyaksikan Pak Hansip yang bertingkah seperti anak kecil.
”Engkuk ae, nek wis ketemu Jaksa Agung, tak takokno perkoro iki,” Mr Bond bicara sendiri.
”Sampeyan kate takon opo?” tanya Pak Bengkel.
”Sopo sing takon?” Mr Bond pura-pura linglung sehingga membuat koleganya bertanya-tanya campur sedikit takut.
”Wah, bener Pak Hansip…,” gumam Pak Becak.
”Ngarang ae! Endi onok arwahe wong mati mlebu ndik rogone wong urip? Iku ngono kelakuane setan. Wong sing mati iku arwahe yo langsung dijaluki tanggung jawab perbuatane naliko urip. Perkoro syahid opo gak, iku yo urusane Gusti Allah. Menungso cumak sebatas nglakoni urip.”
”Nek sing iki, kesurupan jin Islam,” bisik Pak Hansip ke telinga Pak Becak.
”Wong iki pancen angel tuturane….,” Mr Bond yang mendengar bisikan itu, langsung mendatangi Pak Hansip karena gemas sambil tangannya memeragakan hendak memukul.
Tentu saja Pak Hansip lari terbirit-birit. (noordin djihad)
Namun suara Pak Becak yang mendominasi pembicaraan masih didengarnya dengan jelas. ”Mudun cumak limangatus, podho ambek goroh..”
Mister Bond justru terfokus pada informasi di televisi yang dini hari itu melaporkan tentang kepastian eksekusi terpidana mati Imam Samudera cs di Nusakambangan. Bahkan meski eksekusi dilakukan pukul 00.00, Kapuspenkum Kejagung belum berani memastikan.
Bagi Mr Bond, sebuah peristiwa yang menggelikan. Pejabat setingkat Kapuspenkum tidak berani mengumumkan kepastian pelaksanaan hukuman mati dan minta para jurnalis bersabar dengan alasan belum mendapat informasi dari Nusakambangan. Justru running text beberapa stasiun televisi langsung memberi informasi pelaksanaan hukuman mati.
”Wis jarno ae Mister…., wong-wong iku wis wayae oleh hukuman setimpal,” komentar Pak Becak yang melihat Mr Bond serius mengikuti pemberitaan eksekusi.
”Pancen tak jarno. Mosok kate tak genteni…,” jawab Mr Bond santai dengan mata tetap menatap televisi.
”Mangkane, rene a….gabung karo awake dewe,” ajak Pak Becak yang tidak mendapat tanggapan positif dari Mr Bond.
Mereka tidak mengusik keasyikan Mr Bond dan meneruskan obrolan. Kali ini tentang hasil Pilgub Jatim. Namun lagi-lagi Mr Bond tidak terpengaruh. Meski matanya mengarah ke televisi, pikirannya berputar-putar, ”Kenapa pemerintah tidak berani tegas mengumumkan pelaksanaan eksekusi? Kalau memang mewaspadai ancaman teror bom, bagaimana dengan fungsi intelejen yang dimiliki semua kesatuan keamanan negeri ini? Apakah pemerintah ragu-ragu? Kalau ya, kenapa ragu-ragu? Kalau tidak, kenapa tidak diumumkan seperti pelaksanaan hukuman mati terhadap Sumiarsih dan Sugeng? Apakah ini menyangkut politis? Jangan-jangan ada pihak-pihak yang ingin bargaining? Bagaimana dengan keraguan beberapa pihak yang meragukan bom rakitan Amrozi cs itu bisa mencabut ratusan nyawa? Sebenarnya ada apa di balik itu semua?”
Matanya menoleh ke arah kerumunan koleganya, mencari-cari sosok yang bisa menjawab pertanyaan pikirannya. Namun tak ditemukan.
”Nggoleki sopo, Mister?” tanya Pak Becak yang kebetulan melihat tingkah laku Mr Bond diiringi semua mata koleganya mengarah padanya.
”Nggoleki Jaksa Agung,” jawab Mr Bond singkat namun membuat kening para koleganya berkerut.
”Ndik Nusakambangan,” jawab Pak Bengkel sekenanya.
”Sampeyan kate protes a, kok nggoleki Jaksa Agung?” sahut Pak Becak.
”Ojok-ojok Mr Bond kesurupan salah siji arwah sing dihukum mati,” Pak Hansip menduga-duga.
”Yo!” jawab Mr Bond pendek sambil menatap Pak Hansip dengan pandangan tajam. ”Aku kate ngejak sampeyan.”
Tentu saja Pak Hansip bergidik dan menggeser tubuhnya di belakang Pak Becak. Sementara kolega lain tersenyum menyaksikan Pak Hansip yang bertingkah seperti anak kecil.
”Engkuk ae, nek wis ketemu Jaksa Agung, tak takokno perkoro iki,” Mr Bond bicara sendiri.
”Sampeyan kate takon opo?” tanya Pak Bengkel.
”Sopo sing takon?” Mr Bond pura-pura linglung sehingga membuat koleganya bertanya-tanya campur sedikit takut.
”Wah, bener Pak Hansip…,” gumam Pak Becak.
”Ngarang ae! Endi onok arwahe wong mati mlebu ndik rogone wong urip? Iku ngono kelakuane setan. Wong sing mati iku arwahe yo langsung dijaluki tanggung jawab perbuatane naliko urip. Perkoro syahid opo gak, iku yo urusane Gusti Allah. Menungso cumak sebatas nglakoni urip.”
”Nek sing iki, kesurupan jin Islam,” bisik Pak Hansip ke telinga Pak Becak.
”Wong iki pancen angel tuturane….,” Mr Bond yang mendengar bisikan itu, langsung mendatangi Pak Hansip karena gemas sambil tangannya memeragakan hendak memukul.
Tentu saja Pak Hansip lari terbirit-birit. (noordin djihad)











