Jenazah Tetangga
Selasa, 18 November 2008 05:40:47 - oleh : redaksi
Dengan bergegas, Mr Bond memasuki rumah sambil uluk salam dan langsung menuju kamar mandi. Seluruh tubuhnya merasakan kesegaran setelah diguyur dengan air. Suasana gerah hilang seketika. Terlebih ketika keluar dari kamar mandi, dilihatnya secangkir teh terhidang di atas meja. Bibirnya menyungging senyum, memuji kecekatan istrinya. Meski saat masuk rumah tadi, tak dilihatnya Mrs Bond, tak dinyana teh sudah terhidang.
Handuk yang sedikit basah masih melingkar di tengkuknya, namun Mr Bond tak peduli dan langsung menyeruput teh hangat. ”Mbok dideleh disik anduke. Masiyo rek nek ngelak, mosok gak sempat njereng anduk ndik memean. Wedine nek onok sing ngombe,” tegur Mrs Bond yang muncul dari kamar.
Mister Bond yang terkejut, hampir saja tersedak. ”Sorry Mom, soale nguelak pol,” jawab Mr Bond tersipu sambil mengulurkan handuk. ”Tulung yo, sampean jereng ndik memean.”
Perempuan yang telah mendampingi suaminya hampir 20 tahun itu melakukan yang dipinta. Dirinya sadar, suaminya yang baru datang dari makam pasti kecapekan bercampur haus dan kelaparan. Karena itu, ketika telinganya mendengar suara suaminya masuk rumah dan ke kamar mandi, disiapkan secangkir teh hangat untuk mengusir haus. Bahkan, makan dan lauk jatah sarapan yang belum disentuh karena terburu-buru, juga sudah disiapkan meski dengan lauk sederhana seperti biasa.
Sejak pagi, Mr Bond melayat ke rumah tetangga. Karena kebetulan tetangga ini tidak memiliki saudara yang rumahnya berdekatan, maka tetangga yang akhirnya mengambil alih proses pengurusan jenazah. Tugas pun dibagi. Ada yang mengurus surat kematian, menyiapkan peralatan untuk memandikan jenazah, menyalati, sampai menghubungi tukang gali kubur dan segala sesuatu yang berkaitan dengan makam. Semua itu ditangani oleh tetangga almarhum.
Kebetulan Mr Bond dan beberapa tetangga lain mendapat jatah tugas mengurus jenazah di rumah, termasuk memandikan jenazah, mengafani, sampai menyalatkan jenazah. Terakhir, bersama-sama mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Saudara dan anak almarhum yang masih di luar kota belum ada yang datang. Untunglah istri almarhum mengizinkan suaminya untuk segera dimandikan. Namun untuk proses pemakaman, menunggu salah satu anaknya yang paling disayang almarhum dan menurut kabar satu jam lagi datang.
Ketika di pemakaman, Mr Bond mengikuti prosesi sampai selesai dengan khidmat. Kaki dan badanya yang pegal tak dimanjanya dengan mencoba duduk di atas makam. Selain karena dilarang Nabi Muhammad Saw, Mr Bond juga ingin menghormati jenazah di dalam kubur seperti saat masih hidup.
Selama proses tersebut, tenggorokan Mr Bond tidak tersentuh air setetespun. Mister Bond memang memiliki prinsip tidak mau makan dan minum di tengah keluarga yang sedang berduka. Meski beberapa dos air mineral sudah dipersiapkan, sama sekali tak disentuhnya. Begitu juga kudapan yang sudah disediakan keluarga almarhum, dibiarkan begitu saja meski perutnya sebenarnya sudah berteriak minta diisi.
”Aku nek ndelok almarhum, eling awakku dewe sing kakean dosa, Mom,” Mr Bond membuka percakapan di meja makan sebelum memasukkan nasi ke mulutnya.
”Opo’o Pak, jenazahe ono sing aneh a?” tanya Mrs Bond yang tahu suaminya ikut memandikan jenazah.
”Masiyo onok sing aneh, aku gak katene ngomong nang sampeyan. Gak apik ngomongno kondisi jenazah,” jawab Mr Bond sambil mencomot tempe, ”Aku cumak koyok-koyok dielingno, nek wis dadi jenazah sakjane awake dewe wis gak isok opo-opo. Adus ae, yo didusi wong liyo. Nutupi aurote dewe yo wis gak mampu, sampek akhire dikafani wong liyo. Lho ngono iku, nek sik urip kok akeh temen penjaluke.”
Tak ada suara. Pasutri ini lelap dalam keheningan, merenungkan sebuah kematian yang datang tanpa pernah kompromi. Di satu sisi, banyak yang tidak menyadari, bahwa untuk menempuh perjalanan pascakematian, dibutuhkan bekal yang sangat banyak berupa amal kebaikan di mata Allah Swt.
Namun godaan materi sering membuat manusia lupa hakikat hidup. Padahal, ketika masuk liang lahat, semua materi termasuk suami atau istri dan anak, apalagi selingkuhan, tak ada yang sudi ikut masuk kubur. Bahkan, jangan-jangan banyak yang bersyukur karena semasa hidup lebih banyak membawa mudharat bagi manusia lain dibanding manfaatnya.
”Yo wis Pak, iku kabeh pancene pelajaran gae awake dewe supoyo perkoro ndunyo gak sampek nglalekno urusan akherat,” Mrs Bond mencoba menasihati, ketika melihat dahi Mr Bond berkerut.
”Nek sing aku wis weruh dan paham,” kata Mr Bond tak acuh sambil mengunyah tempe.
”Terus lha laopo kok sampeyan koyoke mikir?” tanya Mrs Bond.
”Aku cumak heran, kok gak biasane sampeyan masak rodok asin. Njaluk rabi maneh yo,” goda Mr Bond.
”Yo,” jawab Mrs Bond yang disusul dengan pernyataan sekaligus pertanyaan. ”Kate nggolek bojo sing gelem tak jak mlebu liang kubur. Soale sampeyan mesti gak gelem tak jak, nek aku mati dhisik. Yo se, Pak?”
”Sampeyan nek mati yo gak usah ngejak-ngejak. Ikhlasno ae aku nggolek gantine sampeyan, he…he…he,” jawab Mr Bond enteng sambil cengengesan. (noordin djihad)
Handuk yang sedikit basah masih melingkar di tengkuknya, namun Mr Bond tak peduli dan langsung menyeruput teh hangat. ”Mbok dideleh disik anduke. Masiyo rek nek ngelak, mosok gak sempat njereng anduk ndik memean. Wedine nek onok sing ngombe,” tegur Mrs Bond yang muncul dari kamar.
Mister Bond yang terkejut, hampir saja tersedak. ”Sorry Mom, soale nguelak pol,” jawab Mr Bond tersipu sambil mengulurkan handuk. ”Tulung yo, sampean jereng ndik memean.”
Perempuan yang telah mendampingi suaminya hampir 20 tahun itu melakukan yang dipinta. Dirinya sadar, suaminya yang baru datang dari makam pasti kecapekan bercampur haus dan kelaparan. Karena itu, ketika telinganya mendengar suara suaminya masuk rumah dan ke kamar mandi, disiapkan secangkir teh hangat untuk mengusir haus. Bahkan, makan dan lauk jatah sarapan yang belum disentuh karena terburu-buru, juga sudah disiapkan meski dengan lauk sederhana seperti biasa.
Sejak pagi, Mr Bond melayat ke rumah tetangga. Karena kebetulan tetangga ini tidak memiliki saudara yang rumahnya berdekatan, maka tetangga yang akhirnya mengambil alih proses pengurusan jenazah. Tugas pun dibagi. Ada yang mengurus surat kematian, menyiapkan peralatan untuk memandikan jenazah, menyalati, sampai menghubungi tukang gali kubur dan segala sesuatu yang berkaitan dengan makam. Semua itu ditangani oleh tetangga almarhum.
Kebetulan Mr Bond dan beberapa tetangga lain mendapat jatah tugas mengurus jenazah di rumah, termasuk memandikan jenazah, mengafani, sampai menyalatkan jenazah. Terakhir, bersama-sama mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Saudara dan anak almarhum yang masih di luar kota belum ada yang datang. Untunglah istri almarhum mengizinkan suaminya untuk segera dimandikan. Namun untuk proses pemakaman, menunggu salah satu anaknya yang paling disayang almarhum dan menurut kabar satu jam lagi datang.
Ketika di pemakaman, Mr Bond mengikuti prosesi sampai selesai dengan khidmat. Kaki dan badanya yang pegal tak dimanjanya dengan mencoba duduk di atas makam. Selain karena dilarang Nabi Muhammad Saw, Mr Bond juga ingin menghormati jenazah di dalam kubur seperti saat masih hidup.
Selama proses tersebut, tenggorokan Mr Bond tidak tersentuh air setetespun. Mister Bond memang memiliki prinsip tidak mau makan dan minum di tengah keluarga yang sedang berduka. Meski beberapa dos air mineral sudah dipersiapkan, sama sekali tak disentuhnya. Begitu juga kudapan yang sudah disediakan keluarga almarhum, dibiarkan begitu saja meski perutnya sebenarnya sudah berteriak minta diisi.
”Aku nek ndelok almarhum, eling awakku dewe sing kakean dosa, Mom,” Mr Bond membuka percakapan di meja makan sebelum memasukkan nasi ke mulutnya.
”Opo’o Pak, jenazahe ono sing aneh a?” tanya Mrs Bond yang tahu suaminya ikut memandikan jenazah.
”Masiyo onok sing aneh, aku gak katene ngomong nang sampeyan. Gak apik ngomongno kondisi jenazah,” jawab Mr Bond sambil mencomot tempe, ”Aku cumak koyok-koyok dielingno, nek wis dadi jenazah sakjane awake dewe wis gak isok opo-opo. Adus ae, yo didusi wong liyo. Nutupi aurote dewe yo wis gak mampu, sampek akhire dikafani wong liyo. Lho ngono iku, nek sik urip kok akeh temen penjaluke.”
Tak ada suara. Pasutri ini lelap dalam keheningan, merenungkan sebuah kematian yang datang tanpa pernah kompromi. Di satu sisi, banyak yang tidak menyadari, bahwa untuk menempuh perjalanan pascakematian, dibutuhkan bekal yang sangat banyak berupa amal kebaikan di mata Allah Swt.
Namun godaan materi sering membuat manusia lupa hakikat hidup. Padahal, ketika masuk liang lahat, semua materi termasuk suami atau istri dan anak, apalagi selingkuhan, tak ada yang sudi ikut masuk kubur. Bahkan, jangan-jangan banyak yang bersyukur karena semasa hidup lebih banyak membawa mudharat bagi manusia lain dibanding manfaatnya.
”Yo wis Pak, iku kabeh pancene pelajaran gae awake dewe supoyo perkoro ndunyo gak sampek nglalekno urusan akherat,” Mrs Bond mencoba menasihati, ketika melihat dahi Mr Bond berkerut.
”Nek sing aku wis weruh dan paham,” kata Mr Bond tak acuh sambil mengunyah tempe.
”Terus lha laopo kok sampeyan koyoke mikir?” tanya Mrs Bond.
”Aku cumak heran, kok gak biasane sampeyan masak rodok asin. Njaluk rabi maneh yo,” goda Mr Bond.
”Yo,” jawab Mrs Bond yang disusul dengan pernyataan sekaligus pertanyaan. ”Kate nggolek bojo sing gelem tak jak mlebu liang kubur. Soale sampeyan mesti gak gelem tak jak, nek aku mati dhisik. Yo se, Pak?”
”Sampeyan nek mati yo gak usah ngejak-ngejak. Ikhlasno ae aku nggolek gantine sampeyan, he…he…he,” jawab Mr Bond enteng sambil cengengesan. (noordin djihad)











