Pensiun Nanti, Ingin Terus di Dunia Wayang
Senin, 4 Februari 2008 21:11:09 - oleh : redaksi - dilihat 861
Drs Sumadji, Pak Guru yang juga Dalang
“Ojo nyenyamah nang ulama, ojo nyenyamah nang piwulang suci mundhak oleh siksane neraka. Ojo nyenyampahi guru (ibarate) mundhak cedhek matimu, pindo piring tumibo ing watu.” (Hormatilah ulama, pemuka agama, guru dan jangan berani kepada orangtua)
Beginilah kurang lebih, gaya Sumadji saat memberikan pitutur bagi anak didiknya di kelas X SMA Negeri 8 Malang. Kecintaannya pada kelestarian budaya dan tradisi -dengan kekeuh menjadi dalang- terpadu apik saat menjalankan tugas sebagai guru Sosiologi. Nasihat luhur dan filosofis yang tergali dari kearifan lokal, terus dibagikannya pada generasi muda, agar mereka tidak tercerabut dari akar budaya.
Ketertarikan Sumadji pada wayang muncul semenjak kecil. Di tempat kelahirannya, Blitar, ia sering menonton pertunjukkan wayang. Beruntung, Sumadji punya tetangga yang berprofesi sebagai dalang, sebab sedikit banyak bisa ikut andil memberi pengetahuan tentang wayang. “Kalau tetangga saya sedang sedang ditanggap (disewa), saya biasanya ikut nonton,” katanya.
Saat kuliah, selama tiga tahun Sumadji memperdalam kemampuan berwayangnya dengan mengikuti kursus dan makin menguatkan niatnya menjadi pendalang. Pilihan menjadi dalang ini tentu bukan semata-mata agar kelak bisa dimanfaatkan mencari uang. “Saya ini hanya dalang tingkat RW (Rukun Warga), belum terkenal seperti Ki Anom Suroto atau Ki Nartosabdo yang sudah menasional,” tuturnya terkekeh.
Karena sedari awal bukan untuk mencari hidup dari ndalang, Sumadji pun tidak pernah mematok harga saat ada orang nanggap dirinya. Bapak lima anak ini mengaku tidak bisa membuat harga, maka prinsipnya pun jadi sak paring-paring (tergantung yang memberi). Bagi Sumadji, selain sekadar memenuhi kebutuhan senang wayang, menjadi dalang juga termasuk upaya melestarikan wayang.
Ternyata selain mendalang, Sumadji juga aktif bermain wayang orang dan bergabung di ‘Wayang Orang Wahyu Manunggal’. Terakhir ia mementaskan Bagong dalam lakon ‘Ontorejo dan Ontoseno Takon Bopo, di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, 8 Desember lalu. “Saya sering didapuk jadi Bagong, saya juga menyukai peran itu, karena Bagong selalu menyampaikan pesan dan hasil pembangunan,” ujarnya.
Sumadji yang tinggal di jalan Kendalsari ini juga pernah tergabung dalam kelompok karawitan di daerah Dinoyo bernama ‘Noyo Puspito Laras’ yang sekarang sudah bubar. “Tidak sesering dulu, sekarang kalau diminta tampil, saya biasanya menyuruh orang mengambil penabuh dan sinden dari beberapa tempat. Kadang juga meminta dari kelompok karawitan di Singosari itu,” tuturnya.
Bermain wayang orang yang diidam-idamkan Sumadji adalah sepanggung dengan para pejabat. Keinginan ini muncul ketika beberapa tahun lalu menyaksikan pagelaran wayang orang yang diselenggarakan di Samanta Krida Universitas Brawijaya. Pagelaran ini menampilkan Rektor Unibraw dan Wali Kota Malang. “Ingin merasakan bermain dengan pejabat. Sayang, aku ora duwe kenalan pejabat,” tuturnya.
Sedikit mengingat masa lalu, saat krisis moneter terjadi sepuluh tahun silam, dunia pedalangan pun turut terpengaruh. Bila sebelumnya, Sumadji sering mendapat tawaran mendalang, kini ia bisa menghitung dengan jari berapa kali memainkan lakon ‘Rabine Gatotkaca’, yang banyak diminta di acara pernikahan. Lakon yang ditampilkan sesuai dengan hajat yang digelar, tidak jarang sesuai pesanan penyewa.
Menurut Sumadji, jumlah pedalang di kota Malang sekitar 50 orang, ditambah dengan dalang-dalang muda yang bermunculan. Ia merasa dirinya termasuk golongan pedalang yang merasakan kerasnya hantaman krisis moneter. “Paling banter saya mendalang untuk perkawinan dan acara kecil-kecilan, seperti peringatan kemerdekaan, ulang tahun sekolah, hingga peresmian jalan,” ujarnya.
Disinggung soal padatnya aktivitas yang digeluti ini, Sumadji merasa tidak kesulitan membagi waktu antara mendalang dan mengajar. “Kalau ndalang semalam suntuk, mulai jam 21.00 sampai menjelang Subuh. Kalau sudah ndalang, harus menghadap ke depan, ibarat sopir tidak bisa kemana-mana, keinginan ke kamar mandi atau makan harus ditahan sampai selesai, meski begitu rasanya senang,” ucapnya.
Setelah pensiun 2011 mendatang, Sumadji berencana tetap menggeluti dunia wayang. Dia ingin ke Malaysia, Jakarta atau kembali ke desa di Blitar. Menurutnya di Jakarta, orang menyewa wayang dengan bayaran tinggi. Beda dengan di daerah di mana wayang malah jarang dilirik sebagai hiburan. Rencana lainnya, Sumadji ingin membuka warung atau depot makan di Malaysia.
Alih-alih menurunkan ilmu mendalang, ketertarikan pada wayang tidak serta merta menghampiri kelima anaknya. “Saya ajak, saat sedang mendalang ataupun menonton wayang. Tapi ya tidak tahu, entah ngantuk atau apa, selalu tidak pernah sampai selesai,” kata Sumadji. .tia-KP
BIODATA
Nama : Drs Sumadji
Lahir : Blitar, 6 Juni 1951
Alamat : Jl Kendalsari 16 Malang
Pendidikan : Sekolah Rakyat Blitar 1964
Sekolah Teknik Bangunan Blitar 1967
Sekolah Pendidikan Guru Blitar 1970
Sarjana Muda Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Malang 1974
Sarjana Ilmu Pendidikan IKIP Malang
Pekerjaan : Guru IPS SD-SMP Proyek Perintis Sekolah Pembangunan
(PPSP) IKIP Malang
Guru PSPB dan Sosiologi SMA PPSP (Sekarang SMAN 8)
Guru Sosiologi SMAN 8 Kota Malang
Nama istri : Sri Medyawati SPd
Nama Anak : Yeni Indra Rini
Seno Indramaji
Ratna Diah Kuntari
Reni Sri Setyowati
Setyo Hadi Margono
“Ojo nyenyamah nang ulama, ojo nyenyamah nang piwulang suci mundhak oleh siksane neraka. Ojo nyenyampahi guru (ibarate) mundhak cedhek matimu, pindo piring tumibo ing watu.” (Hormatilah ulama, pemuka agama, guru dan jangan berani kepada orangtua)
Beginilah kurang lebih, gaya Sumadji saat memberikan pitutur bagi anak didiknya di kelas X SMA Negeri 8 Malang. Kecintaannya pada kelestarian budaya dan tradisi -dengan kekeuh menjadi dalang- terpadu apik saat menjalankan tugas sebagai guru Sosiologi. Nasihat luhur dan filosofis yang tergali dari kearifan lokal, terus dibagikannya pada generasi muda, agar mereka tidak tercerabut dari akar budaya.
Ketertarikan Sumadji pada wayang muncul semenjak kecil. Di tempat kelahirannya, Blitar, ia sering menonton pertunjukkan wayang. Beruntung, Sumadji punya tetangga yang berprofesi sebagai dalang, sebab sedikit banyak bisa ikut andil memberi pengetahuan tentang wayang. “Kalau tetangga saya sedang sedang ditanggap (disewa), saya biasanya ikut nonton,” katanya.
Saat kuliah, selama tiga tahun Sumadji memperdalam kemampuan berwayangnya dengan mengikuti kursus dan makin menguatkan niatnya menjadi pendalang. Pilihan menjadi dalang ini tentu bukan semata-mata agar kelak bisa dimanfaatkan mencari uang. “Saya ini hanya dalang tingkat RW (Rukun Warga), belum terkenal seperti Ki Anom Suroto atau Ki Nartosabdo yang sudah menasional,” tuturnya terkekeh.
Karena sedari awal bukan untuk mencari hidup dari ndalang, Sumadji pun tidak pernah mematok harga saat ada orang nanggap dirinya. Bapak lima anak ini mengaku tidak bisa membuat harga, maka prinsipnya pun jadi sak paring-paring (tergantung yang memberi). Bagi Sumadji, selain sekadar memenuhi kebutuhan senang wayang, menjadi dalang juga termasuk upaya melestarikan wayang.
Ternyata selain mendalang, Sumadji juga aktif bermain wayang orang dan bergabung di ‘Wayang Orang Wahyu Manunggal’. Terakhir ia mementaskan Bagong dalam lakon ‘Ontorejo dan Ontoseno Takon Bopo, di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, 8 Desember lalu. “Saya sering didapuk jadi Bagong, saya juga menyukai peran itu, karena Bagong selalu menyampaikan pesan dan hasil pembangunan,” ujarnya.
Sumadji yang tinggal di jalan Kendalsari ini juga pernah tergabung dalam kelompok karawitan di daerah Dinoyo bernama ‘Noyo Puspito Laras’ yang sekarang sudah bubar. “Tidak sesering dulu, sekarang kalau diminta tampil, saya biasanya menyuruh orang mengambil penabuh dan sinden dari beberapa tempat. Kadang juga meminta dari kelompok karawitan di Singosari itu,” tuturnya.
Bermain wayang orang yang diidam-idamkan Sumadji adalah sepanggung dengan para pejabat. Keinginan ini muncul ketika beberapa tahun lalu menyaksikan pagelaran wayang orang yang diselenggarakan di Samanta Krida Universitas Brawijaya. Pagelaran ini menampilkan Rektor Unibraw dan Wali Kota Malang. “Ingin merasakan bermain dengan pejabat. Sayang, aku ora duwe kenalan pejabat,” tuturnya.
Sedikit mengingat masa lalu, saat krisis moneter terjadi sepuluh tahun silam, dunia pedalangan pun turut terpengaruh. Bila sebelumnya, Sumadji sering mendapat tawaran mendalang, kini ia bisa menghitung dengan jari berapa kali memainkan lakon ‘Rabine Gatotkaca’, yang banyak diminta di acara pernikahan. Lakon yang ditampilkan sesuai dengan hajat yang digelar, tidak jarang sesuai pesanan penyewa.
Menurut Sumadji, jumlah pedalang di kota Malang sekitar 50 orang, ditambah dengan dalang-dalang muda yang bermunculan. Ia merasa dirinya termasuk golongan pedalang yang merasakan kerasnya hantaman krisis moneter. “Paling banter saya mendalang untuk perkawinan dan acara kecil-kecilan, seperti peringatan kemerdekaan, ulang tahun sekolah, hingga peresmian jalan,” ujarnya.
Disinggung soal padatnya aktivitas yang digeluti ini, Sumadji merasa tidak kesulitan membagi waktu antara mendalang dan mengajar. “Kalau ndalang semalam suntuk, mulai jam 21.00 sampai menjelang Subuh. Kalau sudah ndalang, harus menghadap ke depan, ibarat sopir tidak bisa kemana-mana, keinginan ke kamar mandi atau makan harus ditahan sampai selesai, meski begitu rasanya senang,” ucapnya.
Setelah pensiun 2011 mendatang, Sumadji berencana tetap menggeluti dunia wayang. Dia ingin ke Malaysia, Jakarta atau kembali ke desa di Blitar. Menurutnya di Jakarta, orang menyewa wayang dengan bayaran tinggi. Beda dengan di daerah di mana wayang malah jarang dilirik sebagai hiburan. Rencana lainnya, Sumadji ingin membuka warung atau depot makan di Malaysia.
Alih-alih menurunkan ilmu mendalang, ketertarikan pada wayang tidak serta merta menghampiri kelima anaknya. “Saya ajak, saat sedang mendalang ataupun menonton wayang. Tapi ya tidak tahu, entah ngantuk atau apa, selalu tidak pernah sampai selesai,” kata Sumadji. .tia-KP
BIODATA
Nama : Drs Sumadji
Lahir : Blitar, 6 Juni 1951
Alamat : Jl Kendalsari 16 Malang
Pendidikan : Sekolah Rakyat Blitar 1964
Sekolah Teknik Bangunan Blitar 1967
Sekolah Pendidikan Guru Blitar 1970
Sarjana Muda Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Malang 1974
Sarjana Ilmu Pendidikan IKIP Malang
Pekerjaan : Guru IPS SD-SMP Proyek Perintis Sekolah Pembangunan
(PPSP) IKIP Malang
Guru PSPB dan Sosiologi SMA PPSP (Sekarang SMAN 8)
Guru Sosiologi SMAN 8 Kota Malang
Nama istri : Sri Medyawati SPd
Nama Anak : Yeni Indra Rini
Seno Indramaji
Ratna Diah Kuntari
Reni Sri Setyowati
Setyo Hadi Margono
