headerphoto

Bertahan Atas Daya Serap Lulusan

Senin, 6 April 2009 17:20:38 - oleh : redaksi - dilihat 321
SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri
Enam belas tahun yang lalu, sekelompok purna TNI AL memiliki ide mengembangkan pengetahuannya dalam dunia pendidikan di Kediri. Wujudnya yang masih ada hingga hari ini adalah Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran Hang Tuah Kediri. Nama awal yang diambil sebenarnya adalah Sekolah Pelayaran Menengah (SPM), namun harus diganti dengan SMK Pelayaran, mengikuti aturan penamaan terkini.
Soal nama, jangan dikira Hang Tuah ini sama dengan atau satu kelompok dengan lembaga pendidikan Hang Tuah di Surabaya. Pihak SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri berkali-kali menegaskan, lembaganya berdiri sendiri, independen. Soal nama, kebetulan belaka jika kemudian ada kesamaan dengan lembaga pendidikan di kota lain.
Seiring perkembangan dunia pendidikan kejuruan, SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri turut serta dalam aliran dinamika tersebut. Sempat booming pada tahun-tahun tertentu, dan sempat pula seret karena perubahan animo dan tren pendidikan kejuruan di masyarakat, faktanya sekolah ini masih tetap bertahan. Resepnya sederhana; output.
“Animo masyarakat terhadap pendidikan kejuruan bidang pelayaran memang berubah seiring tren. Namun kami tetap bertahan, sebab tiap tahun, serapan kerja lulusan kami selalu lebih dari 90 persen,” terang Dra Kristimin selaku Waka Kurikulum
Angka sebagaimana disebutkan Kristimin tersebut sebenarnya cukup tinggi, jika dibandingkan dengan serapan tenaga kerja lulusan SMK lain di Kediri. Sistem pendidikan di SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri, didesain sedemikian rupa sehingga masih sedikit berbau militer. Tidak heran jika ada guyonan disekolah ini, jika tidak bergabung ke kapal laut, ya menjadi tentara.
Namun demikian, sepertinya rumusan tren sulit dihindarkan. Animo untuk memasuki pendidikan kejuruan ini di Kediri sedang berada dibawah garis merah. Dua jurusan yang dibuka SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri yaitu Teknika dan Nautika, masing-masing hanya disediakan satu kelas, dengan total keseluruhan 65 siswa. Itupun dengan catatan lebih dari separo peserta didiknya berasal dari luar Kota Kediri.
“Awalnya kami menyediakan tiga kelas. Namun beberapa tahun terakhir, peminat stabil untuk satu kelas saja masing-masing jurusan. Apalagi sejak tahun 2002-2003, kalau tidak salah dibuka SMKN pelayaran,” imbuh Kristimin.
Keacuhan pada jenis pendidikan ini, sepertinya juga tidak saja hinggap pada masyarakat. Pemerintah kota dan dinas pendidikan, sepertinya masih setengah hati terhadap lembaga pendidikan ini. Satu bukti nyata adalah sekolah ini sulit merangkak dari nilai akreditasi C, karena dukungan infrastruktur lokal yang minim. Keberadaan sekolah pelayaran di Kediri, secara fisik sebenarnya ‘sangat sederhana’.
Hanya satu gedung membujur plus sebuah bangunan kecil seperti mushola. Disitulah semua pembelajaran lokal diberikan, hingga pada praktek laboratorium. Didalam laboratorium hanya terdapat sebuah mesin kapal tua sebagai bahan ajar praktek.
Kurikulum dan penerapan kegiatan belajar mengajar juga lain. Pada tahun pertama, jangan heran jika siswa akan menghabiskan lebih banyak waktu di barak-barak batalyon infanteri 521 Kediri. Tentu saja diselingi materi kelas mengenai dasar-dasar perkapalan dan pelayaran. Jika beruntung siswa bersangkutan sudah bisa diajak ‘naik’ kapal. Satu istilah yang menggambarkan kegiatan berkeliling diatas kapal yang tertambat.
Pada tahun kedua, barulah siswa dikenalkan dengan pelajaran perkapalan dan pelayaran sesungguhnya. Pada tahun ini juga siswa akan menjalani praktek kerja atau PSG. SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri masih mengandalkan rekanan yang berbasis di Surabaya, Bali, dan Banyuwangi untuk menampung siswa PSG.
“Namun saat ini kami juga memiliki rekanan untuk beberapa jalur pelayaran internasional. Bisanya masa praktik siswa disesuaikan dengan jadwal layar kapal-kapal tersebut. Itu sebabnya kadang ada perbedaan dalam menempuh PSG,” ujar Kristimin.
Kebijakan baru mengenai status lulus yang didasarkan standar nasional, membawa dampak tersendiri bagi SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri. Siswa kelas akhir, yang biasanya masih bergelut dengan kapal laut, atau masuk masa-masa nego dengan perusahaan pelayaran sekarang mesti berada disekolah. Mereka layaknya pelajar SMK lain, intensif latihan soal-soal ujian nasional.
“Tidak ada gunanya juga jika kemampuan siswa yang telah dipelajari selama tiga tahun, tidak bisa disalurkan karena tidak lulus ujian nasional,” pungkas Kristimin. .rer-KP


Kirim ke Teman  Cetak             

Berita "Topik utama" Lainnya

Polling

Rubrik Yang Disukai Menurut Anda :

 

Komentar Pembaca

 d kiko abdurahhman on Menggali Sejarah, Menemukan Ikon Kota
saya sangat mendukung dengan adanya koran pendidik...

 Ummu Nisa on Toko Buku Prestasi beri Diskon 20-30 Persen
Saya tertarik dengan bisnis Toko Buku dan alat per...

 Maryanti on Mengintegrasikan Kecerdasan Ganda bagi PAUD
Subhanalloh ternyata kecerdasan itu jamak. kl j...

 sunarti.c on Pramuka Takkan Mati oleh Gempuran Budaya
Saya alumni 81/82 Saya senang bisa silaturahmi ...

 Jono on Yang Menjanjikan di Tahun 2010 : Beasiswa Kuliah sampai Lulus, judul Untuk 20 Ribu Orang
Saya ingin sekali kuliah dan meraih cita-cita kare...

Kalender Kegiatan

« Sep 2010 »
M S S R K J S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9

Surat Pembaca

Random Links

Iwan Susyanto

View : 114 x hits
Join : 24-Nov-2007 19:47:34

Statistik Situs

Visitors : 1275664
Hits : 2693632
Month : 10747
Today : 429
Online : 13