Lengah Memindai, Nasib Siswa Tergadai
Senin, 22 Juni 2009 17:30:29 - oleh : redaksi - dilihat 66
Hadi Susanto: Kinerja BSNP Merosot Tajam
Hampir semua daya dan upaya dilakukan (pastinya) oleh setiap siswa dalam menyambut Ujian Nasional (UN). Dengan standar ketuntasan yang makin naik, tiada usaha lain kecuali belajar lebih giat dan keras. Tak cukup di sekolah, tempat les berbiaya tinggi pun dilakoni. Sudah begitu kesiapan mental juga tak luput, beragam bentuk ibadah dijalankan demi memperoleh kekuatan batin dan kesiapan spiritual.
Namun upaya keras dan kerja giat ini terasa berlalu begitu saja, saat diketahui bahwa banyak kelemahan dalam sistem penilaian hasil UN yang tertuang dalam lembar jawaban. Keputusan atas masa depan mereka untuk lulus dan tidak lulus, ternyata ditetapkan oleh satu metode pemindaian (scanning) atas LJUN yang ceroboh. Seolah kerja keras mereka enggan dihargai dan menyerahkan hari depan pada satu kecerobohan teknis.
Simak misalnya pada SMK PGRI 3 Kota Malang, 284 siswanya dinyatakan tidak lulus atau sekitar 50 persen. Padahal sekolah ini memiliki riwayat prestasi yang bersaing dan metode penyelenggaraan pendidikan yang bagus. Pengelola pun kaget atas hasil ini, apalagi banyak kesamaan dari siswa yang tidak lulus itu, mereka tidak mendapat nilai pada salah satu mata keahlian produktif.
Santur Hidayat SPd selaku kepala sekolah merasakan kejanggalan ini dan nekad melapor ke dinas pendidikan provinsi Jawa Timur. Upaya ini tidak sia-sia, setelah dilihat ulang LJUN anak didiknya, ternyata hanya 12 saja yang murni tidak lulus. “Ada kesalahan pada proses scanning. Kunci jawaban yang digunakan tertukar dan kesalahan kode soal. Bisa juga alat scanningnya yang tidak bisa mendeteksi nilai di bawah 4,” terang Santur.
Pada SMK Nasional kondisi ini juga terjadi. Menurut Kepala SMK Nasional Drs Hadi Susanto ikut prihatin dengan peristiwa tersebut, karena beberapa siswanya juga terganjal kelulusannya karena masalah yang sama. “Padahal dalam kesehariannya beberapa siswa yang dinyatakan tidak lulus ini terbilang pandai di sekolah. Kita sebagai pihak sekolah juga ikut menanggung beban moral,” ujarnya.
Hadi menambahkan kinerja BSNP tahun lalu sudah bagus, tetapi mengapa untuk tahun ini merosot tajam. Terbukti beberapa kasus pengumuman kelulusan kocar-kacir di jawa Timur khususnya. “Saya juga tidak tahu bagaimana sistem pengoreksian bekerja, tetapi kita juga tidak mau jika dijadikan percobaan. Ini kan terkesan tergesa-gesa, kasihan ini anak-anak,” ujarnya.
Nampaknya kekacauan dalam pemindaian LJUN memberikan kontribusi yang besar terhadap penyebab angka ketidak lulusan di Kota Malang. Dari hasil klarifikasi tahap pertama, sejumlah 284 siswa dari sembilan SMK di Kota Malang dinyatakan lulus, padahal saat 17 Juni lalu 284 siswa tersebut dinyatakan tidak lulus. Perubahan predikat dari tidak lulus menjadi lulus secara cepat baru terjadi tahun ini.
Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Malang Dra Kunti Nursasiati menyatakan heran terjadinya hal ini. “Kami sendiri juga bingung, kok bisa seperti ini apalagi pengkoreksiannya di pusat jadi kita hanya nunggu,” sesalnya.
Selain itu Kunti menambahkan akan terus mengklarifikasi untuk mengecek nilai yang diindikasikan janggal. Kunti menegaskan, karena proses pemindaian tidak tertib sehingga terjadi kekeliruan predikat kelulusan. “LJUN milik siswa ujian susulan dipindai menggunakan kunci jawaban soal ujian utama. Sebaliknya LJK peserta ujian utama dipindai dengan kunci jawaban ujian susulan,” katanya.
Sementara itu Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Malang Drs Sugiharto mengaku sedikit kecewa dengan pelaksanaan POS. Mestinya petugas BSNP juga menanti POS yang telah dibuat. Sehingga di tingkat bawah tidak terjadi kekacauan. “Ya harus dibenahi. Bukan untuk kebaikan kami di Diknas. Perbaikan demi siswa-siswa yang merupakan generasi penerus bangsa,” katanya. .sty-KP
Hampir semua daya dan upaya dilakukan (pastinya) oleh setiap siswa dalam menyambut Ujian Nasional (UN). Dengan standar ketuntasan yang makin naik, tiada usaha lain kecuali belajar lebih giat dan keras. Tak cukup di sekolah, tempat les berbiaya tinggi pun dilakoni. Sudah begitu kesiapan mental juga tak luput, beragam bentuk ibadah dijalankan demi memperoleh kekuatan batin dan kesiapan spiritual.
Namun upaya keras dan kerja giat ini terasa berlalu begitu saja, saat diketahui bahwa banyak kelemahan dalam sistem penilaian hasil UN yang tertuang dalam lembar jawaban. Keputusan atas masa depan mereka untuk lulus dan tidak lulus, ternyata ditetapkan oleh satu metode pemindaian (scanning) atas LJUN yang ceroboh. Seolah kerja keras mereka enggan dihargai dan menyerahkan hari depan pada satu kecerobohan teknis.
Simak misalnya pada SMK PGRI 3 Kota Malang, 284 siswanya dinyatakan tidak lulus atau sekitar 50 persen. Padahal sekolah ini memiliki riwayat prestasi yang bersaing dan metode penyelenggaraan pendidikan yang bagus. Pengelola pun kaget atas hasil ini, apalagi banyak kesamaan dari siswa yang tidak lulus itu, mereka tidak mendapat nilai pada salah satu mata keahlian produktif.
Santur Hidayat SPd selaku kepala sekolah merasakan kejanggalan ini dan nekad melapor ke dinas pendidikan provinsi Jawa Timur. Upaya ini tidak sia-sia, setelah dilihat ulang LJUN anak didiknya, ternyata hanya 12 saja yang murni tidak lulus. “Ada kesalahan pada proses scanning. Kunci jawaban yang digunakan tertukar dan kesalahan kode soal. Bisa juga alat scanningnya yang tidak bisa mendeteksi nilai di bawah 4,” terang Santur.
Pada SMK Nasional kondisi ini juga terjadi. Menurut Kepala SMK Nasional Drs Hadi Susanto ikut prihatin dengan peristiwa tersebut, karena beberapa siswanya juga terganjal kelulusannya karena masalah yang sama. “Padahal dalam kesehariannya beberapa siswa yang dinyatakan tidak lulus ini terbilang pandai di sekolah. Kita sebagai pihak sekolah juga ikut menanggung beban moral,” ujarnya.
Hadi menambahkan kinerja BSNP tahun lalu sudah bagus, tetapi mengapa untuk tahun ini merosot tajam. Terbukti beberapa kasus pengumuman kelulusan kocar-kacir di jawa Timur khususnya. “Saya juga tidak tahu bagaimana sistem pengoreksian bekerja, tetapi kita juga tidak mau jika dijadikan percobaan. Ini kan terkesan tergesa-gesa, kasihan ini anak-anak,” ujarnya.
Nampaknya kekacauan dalam pemindaian LJUN memberikan kontribusi yang besar terhadap penyebab angka ketidak lulusan di Kota Malang. Dari hasil klarifikasi tahap pertama, sejumlah 284 siswa dari sembilan SMK di Kota Malang dinyatakan lulus, padahal saat 17 Juni lalu 284 siswa tersebut dinyatakan tidak lulus. Perubahan predikat dari tidak lulus menjadi lulus secara cepat baru terjadi tahun ini.
Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Malang Dra Kunti Nursasiati menyatakan heran terjadinya hal ini. “Kami sendiri juga bingung, kok bisa seperti ini apalagi pengkoreksiannya di pusat jadi kita hanya nunggu,” sesalnya.
Selain itu Kunti menambahkan akan terus mengklarifikasi untuk mengecek nilai yang diindikasikan janggal. Kunti menegaskan, karena proses pemindaian tidak tertib sehingga terjadi kekeliruan predikat kelulusan. “LJUN milik siswa ujian susulan dipindai menggunakan kunci jawaban soal ujian utama. Sebaliknya LJK peserta ujian utama dipindai dengan kunci jawaban ujian susulan,” katanya.
Sementara itu Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Malang Drs Sugiharto mengaku sedikit kecewa dengan pelaksanaan POS. Mestinya petugas BSNP juga menanti POS yang telah dibuat. Sehingga di tingkat bawah tidak terjadi kekacauan. “Ya harus dibenahi. Bukan untuk kebaikan kami di Diknas. Perbaikan demi siswa-siswa yang merupakan generasi penerus bangsa,” katanya. .sty-KP
