LKS dan OSN Tak Pernah Ikut, Rangking UN Mendadak Yahud
Senin, 22 Juni 2009 18:27:33 - oleh : redaksi - dilihat 1002
Ironi Prestasi UN di Jawa Timur
Menyikapi perangkingan hasil UN SMA/SMK Kota Malang yang jatuh dibanding kota/kabupaten lain di Jawa Timur memang tidak harus membabi-buta. Kenyataan sudah menunjukkan betapa banyak cara dilakukan oleh kota/kabupaten untuk memburu rangking ini, termasuk dengan melakukan kecurangan. Sedang Kota Malang menegaskan bila kualitas penyelenggaraan UN lalu benar-benar terjamin.
Pandangan lain dikemukakan oleh Drs Sugiharto selaku Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Malang. Menurutnya kualitas pendidikan di Kota Malang tidak turut larut dengan rangking prestasi UN ini. Pasalnya hasil UN bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menilai kualitas pendidikan, baik kualitas penyelenggaraannya di sekolah maupun kualitas akademis para siswa.
“Kota Malang tetap akan diakui sebagai kota yang punya kualitas bagus bidang pendidikan. Ini sudah dibuktikan dengan kiprah sekolah-sekolahnya maupun siswa-siswinya diberbagai ajang akademis maupun non akademis, baik nasional maupun internasional,” jelas Sugiharto.
Pada bidang akademis misalnya, lanjut Sugiharto, siswa-siswi Kota Malang mampu konsisten berprestasi di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) maupun Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bagi SMK. Kedua even ini juga menjadi alat ukur dalam menilai kualitas pendidikan. Sebab dalam prosesnya dibutuhkan kualifikasi yang bagus dari siswa termasuk pula para guru sebagai pendamping.
“Makanya cukup mengherankan ada daerah lain yang praktis tidak pernah ikut ajang OSN dan LKS , mendadak rangking UN nya tinggi. Secara akademis saja kualifikasi anak didiknya belum teruji tapi dalam UN kok bisa rangking tinggi, ini perlu dipertanyakan kualitas penyelenggaraannya,” tegas Sugiharto.
Hal lain yang ditegaskan Sugiharto capaian nilai UN di Kota Malang terbilang merata. Setidaknya dari siswa-siswi yang lulus, rentang nilai kelulusannya amat tinggi. Hal ini menunjukkan kualitas penyelenggaraan pendidikan sudah hampir merata. “Di jenjang SD misalnya, peraih nilai rata-rata 25 itu banyak sekali, jadi peluang untuk masuk sekolah favorit amat kompetitif,” jelasnya .mas-KP
Menyikapi perangkingan hasil UN SMA/SMK Kota Malang yang jatuh dibanding kota/kabupaten lain di Jawa Timur memang tidak harus membabi-buta. Kenyataan sudah menunjukkan betapa banyak cara dilakukan oleh kota/kabupaten untuk memburu rangking ini, termasuk dengan melakukan kecurangan. Sedang Kota Malang menegaskan bila kualitas penyelenggaraan UN lalu benar-benar terjamin.
Pandangan lain dikemukakan oleh Drs Sugiharto selaku Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Malang. Menurutnya kualitas pendidikan di Kota Malang tidak turut larut dengan rangking prestasi UN ini. Pasalnya hasil UN bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menilai kualitas pendidikan, baik kualitas penyelenggaraannya di sekolah maupun kualitas akademis para siswa.
“Kota Malang tetap akan diakui sebagai kota yang punya kualitas bagus bidang pendidikan. Ini sudah dibuktikan dengan kiprah sekolah-sekolahnya maupun siswa-siswinya diberbagai ajang akademis maupun non akademis, baik nasional maupun internasional,” jelas Sugiharto.
Pada bidang akademis misalnya, lanjut Sugiharto, siswa-siswi Kota Malang mampu konsisten berprestasi di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) maupun Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bagi SMK. Kedua even ini juga menjadi alat ukur dalam menilai kualitas pendidikan. Sebab dalam prosesnya dibutuhkan kualifikasi yang bagus dari siswa termasuk pula para guru sebagai pendamping.
“Makanya cukup mengherankan ada daerah lain yang praktis tidak pernah ikut ajang OSN dan LKS , mendadak rangking UN nya tinggi. Secara akademis saja kualifikasi anak didiknya belum teruji tapi dalam UN kok bisa rangking tinggi, ini perlu dipertanyakan kualitas penyelenggaraannya,” tegas Sugiharto.
Hal lain yang ditegaskan Sugiharto capaian nilai UN di Kota Malang terbilang merata. Setidaknya dari siswa-siswi yang lulus, rentang nilai kelulusannya amat tinggi. Hal ini menunjukkan kualitas penyelenggaraan pendidikan sudah hampir merata. “Di jenjang SD misalnya, peraih nilai rata-rata 25 itu banyak sekali, jadi peluang untuk masuk sekolah favorit amat kompetitif,” jelasnya .mas-KP
