headerphoto

Curhat

Rabu, 27 Januari 2010 11:09:16 - oleh : redaksi - dilihat 81

Pagi itu matahari masih samar-samar menampakkan sinarnya. Mister Bond akan memulai rutinitas hariannya, menyapu halaman. Tiba-tiba matanya menangkap sekelebat bayangan yang baru masuk gerbang sekolah dengan mengendap-endap. Sesekali kepala orang tersebut menoleh ke belakang, seakan takut ada yang memergoki.
Mister Bond sangat leluasa melihat gerak-gerik orang asing tersebut, karena kebetulan berada di balik dinding. Yang diherankan MrBond, sosok tersebut dengan langkah pasti menuju rumah dinasnya. Tak ada lagi langkah mecurigakan seperti saatmasuk gerbang sekolah.
Sesampai di teras yang berpenarangan, Mr Bond langsung mengenali sosok tersebut. ”Pak RT, tumben pagi-pagi ke rumah?” tegur Mr Bond yang keluar dari persembunyiannya.
Pak RT yang tidak menyangka ditegur, sontak menoleh ke belakang. Dengan sedikit gugup Pak RT menjawab teguran MrBond, ”Oh..eh..ya, anu Mister…”
”Silakan duduk, Pak,” Mr Bond memersilakan penguasa wilayah RT ini duduk.
”Maaf, saya datang pagi-lagi banget soalnya takut gak sempat bertemu Mr Bond,” ucap Pak RT yang mulai bisa menguasai kegugupannya.
”Walah…wong atase Pak Bon aja, kapan saja bisa ditemui. Kalau perlu Pak RT kan bisa suruhan Pak Hansip supaya saya yang ke rumah sampeyan,” Mr Bond tak urung tersipu karena disamakan dengan orang penting yang sulit ditemui.
”Gini lho Mister, saya mau nyampaikan uneg-uneg atau bahasa gaul anak-anak sekarang, curhat,” Pak RT mulai membuka percakapan.
”Curhat?” Mr Bond langsung tersentak dengan ucapan Pak RT dan mencoba meyakinkan dengan kalimat, ”Pak RT gak salah curhat ke saya? Sampeyan gak sedang ngelindur kan?”
”Saya ini meskipun nonmuslim, bangunnya selalu bersamaan dengan adzan Subuh. Sampeyan tahu sendiri kan, speaker masjid kebetulan mengarah ke rumah sehingga saat adzan Subuh pasti terbangun,” kata Pak RT.
”Apa yang mau dicurhati Pak RT?” Mr Bond tergelitik untuk tahu meski tidak terucap janji bakal memberi solusi jika curhat Pak RT ternyata persoalan yang harus segera dipecahkan.
”Sampeyan kan aktif di masjid. Selain itu saya lihat sampeyan juga tak pernah absen jaga malam. Kemudian saya dengar sampeyan punya komunitas jaga. Pokoknya, meskipun bukan pengurus RT, saya bisa merasakan kalau sampeyan mudah bergaul dengan siapa saja di lingkungan ini,” Pak RT sejenak menghentikan ucapannya. Kemudian dilanjutkan, ”Sementara saya, meskipun Ketua RT, tapi jarang bergaul karena berangkat ke toko pagi jam 9 dan pulang jam 10 malam.”
”Terus?” Mr Bond mulai tertarik dengan curhat Pak RT.
Setelah menelan ludah, Pak RT kemudian menuju pokok persoalan. ”Saya dengar, beberapa warga mulai tidak senang lagi dengan kepemimpinan saya. Mereka merencanakan akan mengganti saya di tengah jalan.”
”Lho, kan kebetulan to?” sambar Mr Bond. ”Kalau sampeyan diganti, berarti kan sudah tidak direpotkan lagi dengan keluhan warga, undangan rapat RW, atau segala kesibukan yang mungkin tidak membawa keuntungan bagi sampeyan sebagai pedagang.”
”Sampeyan ini gimana se?” Pak RT tak kalah gusarnya mendengar penuturan Mr Bond. ”Saya ke sini ini justru minta tolong sampeyan supaya bisa mencegah keinginan sebagian warga itu. Dengan pergaulan yang luas, saya yakin sampeyan bisa menolong saya. Lha kok malah dianggap kebetulan.”
”Kalau boleh tahu, kenapa Pak RT memertahankan jabatan?” tanya Mr Bond keheranan.
”Ini soal harga diri, Mister,” tukas Pak RT yang melanjutkan dengan kalimat berapi-api, ”Kalau saya diturunkan di tengah jalan berarti saya dianggap gagal. Padahal, kan baru 100 hari menjabat. Bagaimana mungkin warga bisa menganggap gagal hanya dengan berpegang pada 100 hari. Kan masih ada ribuan hari lain yang belum dilalui untuk menunjukkan kinerja saya sebagai Ketua RT.”
Setelah dirasa cukup memberi kesempatan Pak RT, Mr Bond kemudian mengatakan, ”Saya tahu, kalau kegagalan diukur dengan 100 hari memang masih terlalu dini. Tapi yang saya dengar, persoalannya bukan itu.”
Tentu saja kening Pak RT berkerut mendengar pernyataan tersebut. ”Sampeyan tahu dari mana kalau faktor utama menurunkan saya di tengah jalan itu bukan karena soal kegagalan 100 hari?”  tanya Pak RT.
”Ya dari pergaulan yang sampeyan sebut luas tadi,” jawab Mr Bond.
”Terus apa alasan warga mau menurunkan saya?” kejar Pak RT.
Mister Bond terdiam sebentar. Meski awalnya seakan berat, Mr Bond akhirnya mengungkapkan bahwa faktor sesungguhnya adalah kejujuran. ”Menurut saya, sebaiknya Pak RT introspeksi sekaligus mereview perjalanan mulai pencalonan sampai terpilih sebagai Ketua RT. Nah, dalam proses tersebut, apakah Pak RT bertindak jujur?”
”Kenapa baru dipersoalkan sekarang?”
”Karena baru ketahuan sekarang.” (noordin djihad)   

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Mr. bond" Lainnya