Mindset; Tantangan Terbesar
Dr Patrisius Istiarto Djiwandono
Sertifikat ISO, bagi lembaga pendidikan berperan penting dalam memberi informasi pada publik bahwa layanan yang diberikan terlah memenuhi standar internasional tertentu. Lebih dari itu sertifikat ISO untuk meyakinkan internal lembaga sendiri bahwa dengan layanannya sudah berkualitas butuh motivasi dan konsistensi agar terpacu menjaga kualitas layanan itu.
“Esensinya sangat bagus baik bagi pengelola lembaga, terlebih bagi masyarakat. Saat ini masyarakat sendiri yang memberi penilaian bahwa lembaga yang belum ber ISO belum bisa dikatakan bermutu,” ungkap Quality Assurance Representative pada Universitas Ma Chung ini.
Hanya saja, lanjut Patrisius, proses mendapat sertifikat ISO di mata publik hanya terlihat sebagai mekanisme penawaran dan permintaan. Istilahnya; ada lembaga yang butuh, ada pihak yang menyediakannya, dan tentu dengan imbalan profesional yang pantas. Kalau sudah seperti ini, ada saja celah yang bisa dimanfaatkan sehingga ujung-ujungnya terkesan bahwa sertifikasi ISO itu menjadi komoditas belaka.
“Makanya tantangan terbesar adalah merubah mindset (pola pikir) dan sikap lembaga penerima dan juga konsultannya. Jika mindsetnya untuk memotivasi diri agar lebih berkualitas dan sertifikasi itu dilakukan secara obyektif dan transparan, maka apapun hasilnya adalah cerminan upaya untuk meningkatkan mutu secara berkelanjutan,” tegas Patrisius.
Pada Universitas Ma Chung sendiri, program penjaminan mutu lebih diarahkan pada pencapaian standar yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. “Kami belum mengarah pada sertifikat ISO sebab itu belum semendesak status akreditasi Program Studi. Lebih dari itu kami lebih fokus pada upaya memacu kinerja berkualitas dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan,” tutur patrisius. .mas-KP
