Jurusan Laris Manis
JURUSAN di pendidikan tinggi ibarat sebuah trend alias musiman. Di dekade atau tahun-tahun tertentu, yang laris manis adalah jurusan A, tapi di masa berikutnya yang paling favorit adalah jurusan B. Tidak berselang lama, jurusan C yang paling diincar calon mahasiswa, tapi kemudian kalah pamor lagi dengan jurusan D.
Demikian seterusnya, jurusan atau program studi di pendidikan tinggi bergerak mengikuti kontekstualitas pasar kerja. Pada saat pasar sedang banyak membutuhkan tenaga manajemen dan akuntansi, misalnya, maka jurusan tersebut banyak diincar oleh calon mahasiswa yang berharap setelah lulus bisa langsung bekerja di bidang tersebut.
Begitu pula saat pasar membutuhkan ahli-ahli komputer dan teknologi informasi, atau tenaga kesehatan dan keperawatan, maka jurusan tersebutlah yang menduduki ‘rating’ tertinggi. Meski begitu, tak sedikit pula jurusan yang langsung menjanjikan lapangan kerja tanpa mengenal musiman, misalnya Kedokteran yang selalu dibutuhkan sepanjang masa.
Memilih jurusan dengan pertimbangan trend pasar kerja –dan bukan pertimbangan lainnya seperti minat dan bakat, misalnya—bisa dikatakan sebagai pendekatan pragmatis. Meski begitu, jelas tak bisa disalahkan. Sebab, calon mahasiswa yang bersangkutan setidaknya sudah punya skenario untuk bekerja di bidang tertentu yang memang sedang membutuhkan banyak tenaga kerja.
Sang calon mahasiswa juga sudah melakukan antisipasi agar dirinya kelak tak menambah panjang daftar sarjana pengangguran, dengan cara memilih studi pada bidang yang dianggap mampu menghindarkan dirinya dari pengangguran.
Namun, memilih jurusan prospektif saja tentu tidak cukup. Tanpa diimbangi kreativitas dan daya saing serta karakter yang tahan banting dari sang mahasiswa, sama saja dengan menjerumuskan diri pada antrean daftar pengangguran. Orang jelas tak bisa mengandalkan bahwa dia adalah lulusan dari jurusan ‘aduhai,’ sementara dia tak mampu menunjukkan kompetensi alias kualitas diri sendiri. Alhasil, persoalan sebenarnya bukan pada seseorang mengambil studi di jurusan ‘laku’ atau ‘tak laku,’ tapi pada kompetensi dan kualitas diri yang bersangkutan sendiri.
Pembaca KORAN PENDIDIKAN yang budiman, pekan ini adalah genap kami terbit hingga 300 edisi. Atau dengan kata lain, koran ini sudah berusia 300 minggu. Pada angka edisi yang spesial ini, kami mengangkat tema yang sangat mendasar dalam dunia pendidikan kita, yakni tingginya pengangguran terdidik. Lebih khusus lagi, pengangguran sarjana. Bertahun lamanya bangsa ini dihinggapi problem serius tentang sarjana menganggur yang begitu kompleks permasalahan berikut solusi pemecahannya.
Kalau kami membuat judul Sarjana Menganggur Salah Siapa?, bukan lantas kita sedang mencari-cari kambing hitam atau sedang sibuk salah menyalahkan, tanpa menawarkan jalan solutif. Tapi ini adalah ungkapan reflektif bagi kita semua, untuk mencari akar persoalan dari problem pengangguran intelektual, untuk kemudian secara bersama-sama kita melakukan perang atas problem serius dunia pendidikan kita ini. (*)
