UIN- Kedatangan Menteri Agama RI Suryadarma Ali dan Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Rabu (12/11) lalu menyisakan polemik. Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menggelar aksi demo di depan gedung rektorat UIN Maliki.
Aksi ini dipicu oleh rasa cemburu aktivis yang merasa telah terjadi pilih kasih dari pihak rektorat. Terutama soal atribut yang boleh berkibar dalam kampus saat kedatangan Menag Suryadarma Ali dan wagub Syaifullah Yusuf, yaitu bendera PMII. Selain itu, semua bendera dibersihkan.
Meski tak ada bentrok, aksi tersebut sempat memanas saat mahasiswa memaksa untuk masuk ke dalam gedung rektorat. Keinginan mahasiswa ini dihalangi sejumlah petugas keamanan sehingga massa pun tak kuasa menahan emosi. "Kami hanya ingin bertemu rektor. Kalau memang kami bukan anak tiri, temuilah kami!" teriak mahasiswa.
Massa yang hampir menerobos pengamanan petugas keamanan itu akhirnya mau duduk dan berdialog dengan perwakilan rektorat yang diwakili Kabag Kemahasiswaan, Jaiz Kumkelo. Jaiz berjanji akan merundingkan masalah ini bersama organisasi kemahasiswaan (omek) yang lain Selasa mendatang. “Yang jelas tidak ada rekayasa oleh pihak kampus. Semua yang terjadi mengalir begitu saja,” tegasnya di hadapan aktivis HMI.
Salah satu aktivis HMI, Samsul Arifin, menegaskan, aksi protes mahasiswa ini dipicu oleh peristiwa kedatangan Menteri Agama Suryadarma Ali dan Wagub Syaifullah Yusuf. Saat sambutan kedua tokoh besar itu, nama PMII yang selalu dibawa-bawa. GGus Ipul bahkan sempat meneriakkan yel “hidup PMII”.
Tidak hanya itu Suryadarma Ali juga sempat berkisah kiprahnya di PMII semasa muda dulu. Untuk menyambut kedatangan mereka, hanya bendera PMII yang boleh berkibar. Sementara bendera HMI dibersihkan oleh petugas. “Kami mengharapkan ketegasan dari kampus, apakah omek (organisasi mahasiswa ekstra kampus) sebenarnya bisa masuk kampus atau tidak,” tegas Samsul lagi yang masih mendapat janji dari UIN. .sty-KP