Home »  Edupedia »  Menerapkan Model Pendidikan Multikultural
Menerapkan Model Pendidikan Multikultural
Selasa, 17 Januari 2012 18:24:34  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 101

Pluralisme dan multikulturalisme memiliki konsep yang berbeda. Pluralisme merupakan faham yang memandang keanekaragaman dengan menekankan entitas perbedaan antarsatu masyarakat dan masyarakat lain, dan kurang memperhatikan interaksinya. Sementara multikulturalisme lebih menekankan pada reaksi antarkebudayaan yang mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lain.


Dalam realita yang seperti ini maka pendidikan multikultural merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Sehingga sedikitnya ada empat alasan mengapa pendidikan multikultural diperlukan, empat alasan tersebut adalah:
1. Laju perubahan dalam kehidupan manusia Indonesia yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi informasi. Perubahan kehidupan yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi telah memperbesar kesenjangan sosial (social gap) antara kelompok atas dan kelompok bawah, hal ini akan mengakibatkan semakin besarnya perbedaan dalam gaya hidup dan pandangan hidup dari kedua kelompok tersebut.
2. Adanya mobilitas penduduk yang tinggi, menyebabkan adanya pertemuan yang intens antarkelompok dengan budaya yang berbeda. Untuk dapat menghasilkan kegiatan yang produktif perlu kedua kelompok memiliki pemahaman yang baik mengenai budaya kelompok lain.
3. Kemajuan teknologi informasi telah membuka isolasi daerah pedesaan di Indonesia. Perkenalan dengan budaya-budaya lain dapat diperoleh secara mudah dari media elektronik yang mungkin saja dapat menimbulkan persepsi yang keliru dan tidak menguntungkan.
4. Munculnya berbagai konflik antar budaya yang banyak terjadi akhir-akhir ini telah memperlihatkan adanya kesalah fahaman budaya yang sangat besar dari berbagai kelompok yang bertikai. Dampak pertikaian dapat menimbulkan trauma social yang memerlukan proses pendidikan untuk memperbaikinya.

Karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar telah ditetapkan sebagai standar nasional dan merupakan standar isi dari pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah maka pengembangan kurikulum pendidikan multikultur dapat melalui pengembangan indikatornya. Untuk dapat mengembangkan indikator ke pendidikan multikutur ada tiga hal yang harus diperhatikan guru, yaitu :
1. Posisi peserta didik harus sebagai subyek belajar, dengan posisinya sebagai subyek, peserta didik akan melakukan berbagai upaya untuk mengkaji setiap mata pelajaran untuk dikaitkan dengan apa yang sudah dimilikinya.
2. Cara belajar peserta didik di latar belakangi dengan latar belakang budayanya
3. Lingkungan budaya peserta didik menjadi sumber belajar utama.

Melalui model penerapan pendidikan multikultur ini diharapkan berdampak langsung pada guru maupun siswa, baik setelah program pembelajaran maupun setelah tamat dari satuan pendidikan. Dengan demikian model ini memiliki dua tujuan, yaitu bagi siswa maupun guru.


Adapun tujuan secara khusus bagi siswa, antara lain:
1. Mengurangi perasaan berlebihan siswa, baik perasaan rendah diri maupun sikap arogansi dalam memandang kelompok lain;
2. Mengubah pandangan yang ada tentang stereotipe negatif dari suatu kelompok etnik;
3. Meningkatkan sikap toleransi siswa akan adanya keberagaman;
4. Meningkatkan pentingnya kerjasama untuk membangun kepentingan bersama, yang dimulai dari skala kecil di sekolah hingga skala nasional dalam upaya mempertahankan integrasi bangsa.

Sedangkan tujuan bagi guru, antara lain:
1. Memberikan wawasan secara umum mengenai konsep penerapan pendidikan multikultural;
2. Menumbuhkan pemahaman kepada guru mengenai efektivitas strategi dan prosedur penyelenggaraan model pembelajaran multikural;
3. Memberikan beberapa contoh konkret penerapan pendidikan multikultural yang terintegrasi dalam beberapa mata pelajaran.

Langkah Pengembangan
1. Merumuskan visi, misi, tujuan sekolah, dan pengembangan diri yang mencerminkan kurikulum sekolah yang berbasis multikultur.


2. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Yang Bermuatan Multikultur, dengan memperhatikan hal-hal berikut: (a) Urgensi dengan kehidupan peserta didik yang berhubungan dengan multikultur; (b) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran lain yang memuat multikultur; (c) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dalam masyarakat yang multikultur; (d) keterpakaian atau kebermaknaan bagi peserta didik dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.


3. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran Yang Bermuatan Multikultur, dengan mempertimbangkan: (a) keberagaman peserta didik; (b) karakteristik mata pelajaran; (c) relevansi dengan karakteristik daerah; (d) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; (e) kebermanfaatan bagi peserta didik; (f) aktualitas materi pembelajaran; dan (g) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.


4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Yang Bermuatan Multikultur
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran inkuiri dan berpusat pada peserta didik dan dengan menerapkan beberapa metode yang relevan seperti metode diskusi, tanya jawab, bermain peran, penugasan, dan lain sebagainya.


5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Yang Bermuatan Multikultur
Indikator yang bermuatan multikultur merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang bermuatan multikultur. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, lingkungan dan potensi daerah yang dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.


6. Penentuan Jenis Penilaian Yang Bermuatan Multikultur
Penilaian pencapaian kompetensi dasar yang bermuatan multikultur bagi peserta didik dilakukan berdasarkan indikator yang bermuatan multikultur. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Penilaian yang bermuatan multikultur merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.


7. Menentukan Sumber Belajar Yang Bermuatan Multikultur
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang bermuatan multikultur digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar yang bermuatan multikultur didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indicator pencapaian kompetensi.

Model penyelenggaraan pendidikan multikultur di sekolah dapat dilakukan dengan cara terintegrasi dalam mata pelajaran pada kurikulum tingkat satuan pendidikan. Oleh karena itu, pembelajaran pendidikan multikultur ini diharapkan tidak merubah struktur kurikulum dan tidak menambah alokasi waktu. Penerapan atau pengintegrasian pendidikan multikultur secara jelas terlihat dalam silabus dan RPP.


Melalui cara itu, maka akan terimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas secara kontekstual. Selain itu, pendidikan multikultur juga bukan mata pelajaran terpisah sehingga harus terintegrasi dan bukan merupakan pengetahuan yang bersifat kognitif sehingga materi seyogyanya dikemas dalam bentuk afektif dan kinerja siswa serta pendekatan materinya dapat bersifat tematis. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah upaya menerapkan atau mengintegrasikan muatan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan multikultur kedalam mata pelajaran melalui kegiatankegiatan sehingga dapat diterapkan dan tercermin dalam kehidupan peserta didik. Selain itu, penerapan atau pengintegrasian pendidikan multikultur harus dilakukan dan terlihat dalam aktivitas seluruh warga sekolah maupun dalam manajemen sekolah secara umum.(*)


Sumber: Kemdikbud (diolah)

Baca "Edupedia" Lainnya

Komentar Anda

close