|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Topik Utama » Habis Waktu untuk (Sekadar) Memahami

Habis Waktu untuk (Sekadar) Memahami

Kamis, 7 Juni 2012 09:04:43  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 91
Habis Waktu untuk (Sekadar) Memahami

Dalam perhelatan Ujian Nasional (UN), mata pelajaran Bahasa Indonesia diujikan dalam 50 butir soal dan waktu pengerjaan 120 menit. Ini berarti, rata-rata waktu ideal yang dibutuhkan oleh anak didik untuk menjawab satu butir soal adalah 2,4 menit. Idealnya pula, waktu tersebut amat cukup untuk menjawab, terlebih pada mata pelajaran bahasa yang dalam undang-undang ditetapkan sebagai bahasa pengantar pembelajaran.

Rupanya, fakta menunjukkan lain. Nilai UN mata pelajaran ini malah lebih rendah. Dari sisi komposisi soal, banyaknya butir soal dalam bentuk kutipan teks ditengarai sebagai penyebab. Untuk UN SMA dan Sederajat lalu, tidak kurang dari 20 butir soal yang menggunakan model tersebut. Ini masih ditambah pertanyaan atas kutipan tersebut yang menuntut anak bisa memahami maksudnya.

“Bisa jadi memang model soal seperti itu jadi kendala sebab, meski terlihat mudah hanya tinggal baca saja, ternyata butuh banyak waktu bagi anak untuk memahami. Anak banyak yang kesulitan pada tahap ini. Bahkan untuk soal yang mempertanyakan ‘ide pokok’ pada satu kutipan, banyak anak didik yang kesulitan menjawab,” jelas Dr Ribut Wahtu Eriyanti MSi MPd, dosen Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang.

Di samping itu, anak didik tidak dibiasakan untuk bernalar dan berfikir kritis sehingga kesulitan untuk memahami. Anak didik hanya diberikan latihan untuk gambling dengan lima pilihan yang diberikan, yakni antara A, B, C, D, atau E. “Ini kan instan sekali, fokusnya pada menentukan pilihan pada pilihan jawaban yang ada, bukan membangun nalar. Begitu soal diganti, buktinya tetap kesulitan,” urainya.

Ketua Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, Muhajir, mengatakan bila BSNP harus bertanggung jawab terhadap keadaan ini. Sebab BSNP yang membuat dan menjamin ketersediaan soal UN. “BSNP yang bertanggungjawab dengan ini semua. Mereka bertanggung jawab pada penyediaan soal-soal, mulai dari arah soal yang digunakan, uji coba soal, sampai memutuskan soal mana saja yang layak diujikan dalam UN,” kata Muhajir.

Karena itu, lanjut Muhajir, perlu ada kajian mengapa banyak siswa yang nilai Bahasa Indonesianya rendah. Ia mengusulkan agar dilakukan penyegaran keterampilan berbahasa Indonesia pada semua guru bahasa dan nonbahasa. Menurut dia penyegaran keterampilan tersebut akan membawa dampak positif dalam mewujudkan proses pembelajaran yang komunikatif dan efektif.

“Penyegaran keterampilan berbahasa Indonesia menjadi penting dilakukan karena berdasarkan UUD 1945, UU Sisdiknas, dan UU Bahasa, Bahasa Indonesia merupakan satu-satunya bahasa pengantar dalam proses pembelajaran,” tegasnya..mas-KP

Baca "Topik Utama" Lainnya

Komentar Anda