|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Edupedia » Penilaian Potensi Kepemimpinan Calon Kasek

Penilaian Potensi Kepemimpinan Calon Kasek

Rabu, 27 Juni 2012 13:23:29  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 1586
Penilaian Potensi Kepemimpinan Calon Kasek

Kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan menggerakkan faktor-faktor yang mempengaruhi ketercapaian tujuan pendidikan di sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mengembangkan seluruh potensi sekolah, diantaranya pendidik, tenaga kependidikan, siswa, sarana dan prasarana, kurikulum guna mencapai prestasi akademik dan non akademik secara maksimal. Selain itu kepala sekolah juga dituntut mampu berperan sebagai pemimpin efektif yang memfokuskan kepada pengembangan instruksional, organisasional, staf, layanan murid, serta hubungan dan komunikasi dengan masyarakat.
Sebuah kredo menyatakan: “tidak ada sekolah yang baik tanpa adanya kepemimpinan kepala sekolah yang baik; dan kepemimpinan kepala sekolah yang baik hanya bisa dilakukan oleh kepala sekolah yang memiliki potensi kepemimpinan baik”. Hal ini dilandasi oleh suatu teori bahwa kepemimpinan pendidikan pada dasarnya adalah seni dan keterampilan dari seorang kepala sekolah untuk mempengaruhi, mengarahkan, menggerakkan dan mengembangkan staf, karyawan dan guru agar bekerja dengan maksimal sehingga tujuan pendidikan di sekolah bisa dicapai secara efektif dan efisien.
Mengingat pentingnya kepemimpinan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, maka diperlukan adanya suatu sistem seleksi calon kepala sekolah yang dilakukan melalui penilaian potensi kepemimpinan. Untuk kepentingan penjaringan potensi kepemimpinan kepala sekolah tersebut, maka dikembangkan suatu model penilaian dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Calon kepala sekolah diminta merespon kasus-kasus kepemimpinan secara bertingkat, dari yang segera harus diatasi, hingga tindakan yang akan dilakukan untuk jangka panjang.
Penilaian Potensi Kepemimpinan Calon Kepala sekolah merupakan bagian dari rangkaian proses peningkatan mutu kepala sekolah yang bersifat periodik dan berkelanjutan.
Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) bertujuan untuk memotret, menilai, memilah, memilih kesiapan para calon yang potensial sebagai calon kepala sekolah. Keterlaksanaan PPK sangat ditentukan oleh kesiapan dan kerjasama yang baik dari pihak-pihak yang terkait, yaitu penyelenggara, calon dan asesor. Petunjuk pelaksanaan ini disusun untuk menyamakan persepsi dan tindakan dalam pelaksanaan penilaian potensi kepemimpinan kepala sekolah dengan harapan agar kegiatan tersebut dapat berjalan secara optimal.
Dalam program penyiapan calon kepala sekolah, PPK-KS merupakan bagian dari seleksi akademik. PPK-KS dimaksudkan untuk menilai kesiapan dan memilah para calon kepala sekolah yang potensial sehingga dapat berkontribusi secara optimal dalam peningkatan mutu pendidikan. Kedudukan PPK-KS dalam program penyiapan calon kepala sekolah dapat dilihat pada ilustrasi.
Asesmen (penilaian) adalah proses mengumpulkan informasi, biasanya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang nantinya akan dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait oleh asesor (Nietzel dkk,1998). Asesmen dilakukan untuk memperoleh informasi yang akan digunakan dalam penyaringan (screening), pengalihtanganan (referal), klasifikasi (classification), perencanaan pengembangan (developmental planning), pemantauan kemajuan belajar (progress monitoring), (Salvia dan Yesseldyke dalam Lerner, 1988:54). Penilaian dalam PPK-KS bukan berarti alat tes atau ujian atau evaluasi. Penilaian PPK-KS berarti penggambaran (deskripsi) potensi kepemimpinan yang diperoleh secara kualitatif untuk memprediksi pencapaian keberhasilan yang berkualitas dari seorang calon kepala sekolah.
Potensi secara harfiah mengandung makna kekuatan, pengaruh dan keefektifitasan. Dalam PPK-KS, potensi diartikan sebagai kemampuan atau kekuatan atau daya dimana potensi dapat merupakan bawaan dan hasil dari stimulus atau latihan dalam perkembangan seseorang (kepala sekolah). Potensi juga diartikan sebagai kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, meliputi: kekuatan, kesanggupan dan daya.
Kepemimpinan dalam PPK-KS pada dasarnya tidak sama dengan pengelolaan/manajemen organisasi sekolah. Manajemen berkaitan dengan penanganan kerumitan dalam organisasi, menghasilkan tatanan dan konsistensi organisasi dengan menyusun perencanaan, pengorganisasian, dan pemantauan hasil. Sedangkan kepemimpinan berkaitan dengan penanganan perubahan, menetapkan arah dengan menyusun satu visi masa depan kemudian menyatukan, mengkomunikasikan dan mengilhami orang dalam organisasi untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian, kepemimpinan dalam PPK-KS adalah kemampuan kepala sekolah untuk mempengaruhi, mengarahkan, menggerakkan dan mengembangkan orang lain (stafnya), agar mau dan rela bekerja sehingga tujuan dan keinginan kepala sekolah dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Atas dasar uraian di atas, maka PPK-KS diartikan sebagai suatu proses pengumpulan informasi yang berkaitan dengan kemampuan, kekuatan, kesanggupan atau daya kepemimpinan yang dimiliki oleh calon kepala sekolah yang memungkinkan untuk dikembangkan.

Keterlaksanaan PPK-KS harus didukung oleh beberapa komponen sebagai berikut.
a. Asesor, adalah seseorang atau sekelompok orang yang bertugas melaksanakan penggalian data dan informasi tentang potensi kepemimpinan calon kepala sekolah. Asesor harus memiliki kelayakan melakukan PPK-KS yang dibuktikan dengan kepemilikan STTPL dan sertifikat asesor.
b. Asesi, adalah seseorang yang berpartisipasi sebagai calon dalam seleksi calon kepala sekolah dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan administratif sehingga berhak mengikuti penilaian potensi kepemimpinan.
c. Metode Penilaian, adalah cara yang digunakan dalam penggalian data dan informasi potensi kepemimpinan calon kepala sekolah. Metode yang digunakan harus mendukung diperolehnya data deskriptif kualitatif, karena itu teknik penilaian yang digunakan berupa pemberian respon dalam suatu skenario situasi, kasus dan kondisi.
d. Instrumen penilaian, merupakan alat untuk menjaring data dan informasi tentang potensi kepemimpinan calon kepala sekolah. Instrumen ini terdiri atas respon situasional, kreatifitas dan pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan berbasis bukti. Setiap instrumen dilengkapi rubrik yang berfungsi untuk menilai kualitas respon calon.

Jenis Instrumen
Respon situasional dilakukan untuk mengukur kemampuan analisis para calon kepala sekolah dalam menghadapi situasi bermasalah yang harus segera diselesaikan. Analisis tersebut dimulai dari identifikasi masalah yang terdapat dalam skenario situasi, sampai pada pembuatan rencana tindak yang harus dilaksanakan dalam waktu singkat. Respon situasional terdiri atas respon situasional 1.a. dan respon situasional 1.b.
- Respon situasional 1.a. dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan dalam menganalisis dan mengatasi situasi bermasalah secara taktis dalam waktu singkat. Kemampuan tersebut tergambarkan dari respon calon kepala sekolah terhadap suatu situasi bermasalah yang disajikan dalam skenario situasi.
- Respon situasional 1.b. digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan berpikir taktis dan kritis dalam menganalisis, menelaah, dan mengatasi situasi bermasalah. Kemampuan tersebut tergambarkan dari tanggapan calon kepala sekolah atas respon yang tertuang dalam skenario situasi.
- Respon kreativitas dan pemecahan masalah dilakukan untuk mengukur daya kreatifitas para calon kepala sekolah dalam mencermati sejumlah masalah yang terdapat dalam skenario kasus, melakukan identifikasi kasus yang memayungi keseluruhan permasalahan, menjelaskan alasan dari pengambilan kesimpulan tersebut, menjabarkannya ke dalam 3 (tiga) rencana tindak yang mungkin akan menjadi solusi dalam pemecahan kasus, memilih 1 tindakan terbaik yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah dan menjelaskan alasan yang melatarbelakangi tindakan tersebut.
Respon pengambilan keputusan berdasarkan bukti-bukti dilakukan untuk mengukur kualitas keputusan yang diambil oleh para calon kepala sekolah dengan menelaah sejumlah dokumen/data/informasi yang terdapat dalam skenario kondisi, melakukan identifikasi masalah utama yang mungkin menyebabkan kondisi sekolah tidak memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP), menjelaskan alasan dari kesimpulan dengan menggunakan bukti-bukti dokumen/data/informasi, menyebutkan informasi-informasi pendukung yang mungkin diperlukan untuk membantu pengambilan keputusan, menjelaskan alasan atas informasi-informasi tambahan yang digunakan, merancang sebuah rencana tindak lanjut untuk menyelesaikan masalah yang berhasil diidentifikasi serta menjelaskan alasan yang melatarbelakangi dalam merancang tindakan tersebut.

Rubrik
Rubrik adalah rambu-rambu yang digunakan dalam menilai kualitas jawaban (respon) dari asesi berdasarkan pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan kompetensi dasar kepala sekolah (Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007). Rambu-rambu dibuat untuk masing-masing kasus dan sesuai dengan jenis instrumen dan cakupan kata kunci, baik yang berkaitan dengan SNP secara umum maupun kepemimpinan kepala sekolah secara khusus.  Fasilitas pendukung, adalah berbagai sarana dan prasarana yang digunakan dalam pelaksanaan PPK-KS, antara lain ruangan beserta perabot, ATK, perangkat IT, dan perangkat lain yang dibutuhkan pada proses pelaksanaan PPK-KS. (*)

Baca "Edupedia" Lainnya

Komentar Anda