|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Edupedia » Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak

Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak

Kamis, 4 Oktober 2012 09:41:17  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 4104
Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak

Pendidikan Akidah Akhlak pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) terfokus pada bahan-bahan pelajaran yang dapat mengarahkan pada pencapaian kemampuan dasar peserta didik untuk dapat memahami Rukun Iman dengan sederhana serta pengamalan dan pembiasaan berakhlak Islami secara sederhana, untuk dapat dijadikan landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang pendidikan berikutnya.
Mata pelajaran Akidah Akhlak bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang Akidah dan Akhlak Islam. Ruang lingkup mata pelajaran Akidah Akhlak, meliputi: (a) Aspek keimanan, (b). Aspek akhlak (c). Aspek keteladanan
Pemilihan strategi dan model pembelajaran yang tepat sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran di kelas. Kecerdasan guru dalam mendesain strategi pembelajaran akan menjadi daya tarik tersendiri bagi penumbuhan minat peserta didik. Sebaliknya pemilihan strategi \yang kurang tepat akan berimplikasi pada minimnya efektifitas pembelajaran dan dapat mengurangi daya capai yang diinginkan.
Pada sisi yang lain, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa materi akidah sering kali terjebak dalam model pembelajaran yang lebih bersifat indoktrinasi dalam arti materi disajikan dengan padat alasan-alasan normatif tanpa mempertimbangkan perkembagan daya nalar peserta didik. Akibatnya agama bagi peserta didik hanya dipahami secara doktriner tanpa mereka mengerti mengapa ia harus berlaku demikian? Lebih-lebih menyangkut materi akhlak setiap peserta didik idealnya mengetahui alasan (reasoning) mengapa sebuah perilaku  perlu dilakukan? Reasoning inilah yang dapat memperkuat daya kepemelukan anak terhadap prinsip moral dan keagamaan mereka.
Pemilihan guru pada model pembelajaran tertentu, tentulah sangat terkait dengan berbagai hal, misalnya : karakteristik mata pelajaran, SKKD dan indikator-indikatornya, jumlah dan kemampuan peserta didik, dan lain-lain. Misalnya saat seorang guru akan mengajar tentang materi tauhid, guru harus mempertimbangkan bahwa materi tersebut terdapat karakteristik yang bersifat indoktrinasi.
Untuk itu, diperlukan model pembelajaran langsung. Ketika guru harus menjelaskan bahwa Allah itu Esa (tauhid) guru harus mengerahkan seluruh ketrampilannya agar dapat menyakinkan kepada peserta didik. Namun saat guru harus menjelaskan aspek akhlak, maka guru dapat memilih antara model kooperatif atau model pembelajaran berbasis masalah, tergantung dari indikator mana yang ingin ditekankan.
Sebagai tambahan ada hal yang perlu dipertimbangkan guru saat akan menyampaikan materi-materi yang menyangkut Akidah Akhlak, yaitu menyangkut pemahaman Saudara tentang karakteristik psikologis keberagamaan peserta didik. Pertama, keberagamaan anak sangat tergantung pada otoritas orang tuanya (older) atau orang lain yang lebih tua (elder). Dalam hal ini guru termasuk dalam kelompok elder.
Kedua, keberagamaan anak belum merupakan sebuah refleksi pemikiran pribadi. Karena keberagamaan diterima berdasarkan otoritas orang lain maka konsekuensinya keberagamaan anak belum merupakan refleksi pemikiran pribadi. Ketiga, keberagamaan anak bersifat imitatif. Keberagamaan anak pada dasarnya berasal dari proses imitasi terhadap pribadi-pribadi di sekitarnya. Kedua orang tuanya, anggota keluarga yang lain juga guru-guru mereka merupakan model imitasi anak. Keempat, bersifat antrophomorphis. Artinya bahwa konsep anak tentang Tuhan dibangun melalui citra manusia. Kelima bersifat egosentris.
Salah satu model pembelajaran Aqidah Akhlaq adalah Model Direct Instruction (DI). Model dirancang secara khusus untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran, terutama mengenai pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal kalimat tauhid dan terjemahannya adalah contoh pengetahuan deklaratif secara sederhana.

Sebelum diuraikan langkah-langkah model pembelajaran langsung terlebih dahulu diuraikan beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan strategi ini.
Rumuskan tujuan yang ingin dicapai.
Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan guru. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasi kepada hasil belajar. Tujuan yang spesifik dapat memperjelas kepada arah yang ingin dicapai. Dengan demikian melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing siswa dalam menyimak materi pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan model ini.
Kuasai materi pelajaran dengan baik.
Syarat paling penting dalam penggunaan model pembelajaran langsung ini penguasaan materi oleh guru. Penguasaan materi yang sempurna akan membuat kepercayaan diri guru  meningkat, sehingga guru akan mudah mengelola kelas, ia akan bebas bergerak, berani menatap siswa, tidak takut dengan perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.
Kenali medan dan berbagai hal yang dapat mempengaruhi proses penyampaian.
Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran.
Dalam model pembelajaran langsung, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model langsung sangat tergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah membangkitkan motivasi dan rasa ingin tahu peserta didik. Oleh karena itu, sugesti yang bersifat positif amat diperlukan dalam langkah persiapan ini.

Di samping itu menyampaikan tujuan yang hendak dicapai merupakan hal penting dalam setiap proses pembelajaran. Dengan mengemukakan tujuan, peserta didik akan paham apa yang harus mereka kuasai serta mau dibawa kemana mereka. Dengan demikian tujuan merupakan pengikat, baik bagi guru maupun bagi peserta didik. Sementara dalam langkah yang kedua atau langkah penyajian.
Kemampuan untuk mengkorelasikan manteri pelajaran dengan pengalaman internal peserta didik atau kondisi-kondisi eksternal peserta didik merupakan langkah yang tak terpisahkan dalam proses pembelajaran langsung. Misalnya ketika hendak menjelaskan tentang ke-MahaEsa-an Tuhan, guru dapat memberikan pertanyaan ringan (sebagai upaya analog sederhana).
Menyimpulkan dan mengaplikasikan adalah dua langkah terakhir dari proses pembelajaran langsung Direct Instruction/DI. Menyimpulkan berarti memberikan keyakinan kepada peserta didik tentang kebenaran suatu paparan. Menyimpulkan dapat dilakukan dengan beberapa cara,misalnya : mengulang inti materi yang menjadi pokok persoalan, bisa dengan ucapan sebagai berikut: “dengan demikian yakinkah anak-anak bahwa Allah Maha Esa?”, memberi beberapa pertanyaan yang relevan dan dengan cara maping/pemetaan pokok materi.
Sementara langkah aplikasi merupakan langkah untuk mengetahui kemampuan peserta didik setelah mereka menyimak presentasi guru. Misalnya meminta kepada peserta didik untuk mengucapkan lafal tauhid (Lailahailallah) secara bersama-sama.
Model pembelajaran langsung (Direct Instruction/DI) merupakan proses penyampaian materi secara verbal dari pendidik kepada sejumlah peserta didik. Model Direct Instruction/DI lebih berpusat pada pendidik ketimbang peserta didik. Pendidik menjadi instrumen paling penting dalam proses pembelajaran model Direct Instruction/DI, maka keberhasilan pengajaran sangat ditentukan oleh kemampuan pendidik dalam menyiapkan pembelajaran.
Lebih dari itu, dalam model pembelajaran Direct Instruction/DI ini kemampuan analisis SKKD dan indikator-indikatornya juga sangat penting, sehingga sewaktu presentasi guru dapat mengover seluruh tujuan pembelajaran materi tauhid, yakni mengetahui arti kalimat tauhid "Lailahaillallah", mampu mengucapkannya, menunjukkan contoh-contoh sederhana bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah serta mampu mengungkapkan perasaan beriman bahwa tidak mampu mengungkapkan perasaan beriman bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah dalam perbuatan sehari-hari. (*)

Baca "Edupedia" Lainnya

Komentar Anda