|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Guru Menulis » Posisi Bahasa Arab dan Membangun Karakter

Posisi Bahasa Arab dan Membangun Karakter

Rabu, 23 Mei 2012 14:57:15  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 819
Posisi Bahasa Arab dan Membangun Karakter

 

Musthofa Al Makky MPd 

Guru MA Al Maarif Singosari Malang

Dalam sejarah bangsa, Bahasa Arab memiliki peran penting. Bahasa ini turut memberi sumbangsih besar pada perkembangan Bahasa Indonesia. Pada banyak madrasah dan sekolah, pembelajaran Bahasa Arab juga menjadi bagian dari perangkat mendalami Agama Islam. Bahasa Arab diajarkan dan dipraktikkan sebagai media komunikasi religius maupun pendidikan. Lambat laun proses banyak peserta didik yang mampu berbahasa Arab.

Beberapa waktu lalu telah diadakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Arab. Melalui musyawarah itu, para guru –yang kebanyakan juga ustadz dan kiai- sepakat untuk mengevaluasi proses pembelajaran Bahasa Arab, mulai dari kompetensi guru, kurikulum, modul dan buku pelajaran serta media pembelajaran bahasa arab. Demi untuk bangkit mengulang kembali keberhasilan di masa lalu.

Bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, sekiranya tepat guru Bahasa Arab ikut andil dalam semangat mencetak generasi emas untuk Indonesia masa depan. Generasi emas yang dimaksud adalah peserta didik yang mampu menguasai dan memahami berbagai disiplin ilmu dan mampu bersaing dengan kemajuan negara lain serta memiliki karakter atau akhlak yang mulia.

Pelajaran Bahasa Arab tidak saja mengajarkan sebuah disiplin ilmu bahasa yang penguasaan tertingginya untuk peserta didik mampu menguasai istima’ (listening), qiroah (reading), kitabah (writing), dan kalam (speaking), namun Bahasa Arab juga sebagai media pembangunan karakter. Dengan mampu menguasai bahasa arab, seseorang bisa memahami Alquran. Sementara Nabi Muhammad yang diakui sebagai manusia yang paling sempurna karakter/akhlaknya diperoleh dari Al-Qur’an. Innamaa khuluquhul qur’an.

Di tengah karut marutnya persoalan di berbagai lini bangsa ini, beberapa tahun ini dunia pendidikan indonesia dipusingkan dengan kasus-kasus peserta didik yang mencoreng keluhuran akhlak dan pendidikan. Demikian itu mencerminkan kegagalan lembaga pendidikan beserta perangkatnya (baca;guru) dalam membina karakter perserta didik. Bukan hanya di sekolah, bahkan peserta didik di madrasah yang (sebenarnya) sarat pelajaran agama.

Lalu di mana posisi guru bahasa arab dalam mencetak generasi emas ini?. Dalam pertemuan MGMP itu, para guru bahasa arab menilai buku-buku pelajaran, media pembelajaran, serta kompetensi (baca;akhlak) guru bahasa arab perlu dievaluasi kembali. Buku pelajaran hendaknya memuat aspek psiko-sosial dan keilmuan yang mencerminkan karakter mulia. Dan guru dengan segala media yang dipakai dalam proses pembelajaran selalu mengisyaratkan dan mensisipkan semangat belajar bahasa arab bukan hanya teks yang baik, namun juga konteks amaliyah yang baik pula. 

Keberhasilan para guru jaman dahulu dalam bidang pembelajaran bahasa arab sangat tampak sekali. Yakni bahasa arab menjadi bagian dalam bahasa indonesia dan mencetak orang-orang besar yang berkarakter unggul. Setidaknya, guru bahasa arab sekarang dikatakan berhasil bila mampu mencetak peserta didiknya menjadi orang yang berakhlak mulia. Bagaimana itu bisa berhasil? Guru bahasa arab tentu tahu caranya. (*)

 

Baca "Guru Menulis" Lainnya

Komentar Anda