Beranda Edupedia Guru Menulis Apa kabar budaya kita hari ini?

Apa kabar budaya kita hari ini?

14
0
BAGIKAN
Hasan Albana, S.Pd

Koranpendidikan.com – Antri merupakan aktivitas sosial yang terjadi di mana saja. Penduduk kota Malang tentu tidak asing dengan suara wanita yang berulang-ulang mengatakan: ‘Budayakan tertib berlalu tintas, patuhilah rambu lalu lintas dan marka jalan, utamakan keselamatan bukan kecepatan, dahulukan pejalan kaki dan pengendara sepeda, sepeda motor nyalakan lampu utama siang dan malam hari, tertib lalu lintas cermin masyarakat berbudaya’.

Suara rekaman yang berada di setiap perempatan kota Malang khususnya lampu merah tersebut, merupakan media pembelajaran bagi masyarakat.  Pertanyaannya adalah, apakah masyarakat kita telah berbudaya? Dilihat dari cara berlalu lintas, apakah sudah mencerminkan masyarakat yang berbudaya?.

Tidak perlu membohongi diri sendiri, kita maupun penulis pun, kadang belum mencerminkan sebagai masyarakat yang berbudaya, bila indikatornya adalah apa yang dikatakan pengeras suara di perempatan jalan tersebut. Bentuk kekhawatiran pemerintah atas masyarakat kita yang belum berbudaya dicoba untuk membentuknya melalui pendidikan masyarakat di perempatan jalan.

Pesan pertama adalah ‘budayakan tertib berlalu lintas’. Menunjukkan belum seluruhnya masyarakat tertib berlalu lintas, justru yang ada adalah budaya serobot serta klakson sebagai bentuk ketidak sabaran atas adanya macet dll. Di Negara lain, khususnya Negara tetangga, mobil maupun kendaraan lain memang disetting memiliki klakson tetapi jarang dibunyikan, karena cermin budaya bangsa mereka adalah bila klakson berbunyi apalagi berulang-ulang dan keras, menunjukkan individu tersebut tidak sehat atau belum berbudaya.

Pesan kedua adalah ‘patuhilah rambu lalu lintas dan marka jalan’. Bagaimana cara mematuhi rambu lalu lintas yang benar? Tentu kita coba belajar kembali di bangku TK, bahwa akan dikenalkan rambu ‘P’ adalah tempat parkir, sedang ‘P coret’ adalah dilarang parkir. Toh, masih ada yang belum paham, padahal tau akan tetapi tidak mau tau.

Pesan yang ketiga adalah ‘utamakan keselamatan bukan kecepatan’. Masyarakat kita tentu akan memillih cepat dan selamat, tapi sayangnya ketika pengendara tersebut cepat dan selamat dirinya sendiri, namun kadang membahayakan orang lain.

Pesan yang keempat adalah ‘sepeda motor, nyalakan lampu utama siang dan malam’. Bila berfokus pada ‘guna’, tentu ketika siang hari himbauan ini akan sulit bisa diterima, terlebih lagi ketika matahari bersinar terik, menjadi boros bila harus dinyalakan, akan tetapi karena rule is the rule, maka ikuti saja peraturan yang ada. Nyalakan lampu utama titik.

Tertib berlalu lintas adalah cermin masyarakat berbudaya adalah pesan yang terakhir. Bila kita tertib berlalu lintas, maka kita adalah masyarakat yang berbudaya, dengan begitu kita dapat mematahkan gagasan Prof. Cokroaminoto, yang mengatakan bahwa mentalitas bangsa kita adalah mental penyerobot dan priyayi. Ketika kita tidak mudah menyerobot dan tertib berlalu lintas maka kita tidak termasuk dalam mentalitas tersebut.

Ajakan untuk menjadi masyarakat yang berbudaya dengan menaati peraturan lalu lintas dan memahami consensus yang telah ada, bila lampu merah berhenti, bila lampu kuning hati-hati dan lampu hijau silahkan tancap gas. Apa yang dilakukan pemerintah tersebut bermaksud membangun penyadaran (conscientization) masyarakat. Proses terjadinya pendidikan di tengah jalan tersebut selaras dengan pendapat H.A.R. Tilar yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan proses pembudayaan. Dengan kata lain, pendidikan dan kebudayaan memiliki hubungan yang saling berjalin kelindan antar satu dengan lainnya, tidak bisa dipisahkan. Ketika berbicara pendidikan, maka kebudayaan pun ikut serta di dalamnya. Begitu sebaliknya. Pendidikan bukan hanya bertujuan menghasilkan manusia yang pintar yang terdidik, akan tetapi yang lebih penting adalah manusia yang terdidik dan berbudaya (educated civilized human being).

Wilayah formal pendidikan seperti di sekolah, sudah jamak dikenal bahwa dari tempat tersebutlah para manusia pintar bermunculan. Berbeda dengan di masyarakat, khususnya di perempatan jalan, dari tempat tersebutlah aplikasi dari wilayah formal seperti sekolah, tempat tersebut mengesahkan dan menjadi penilaian bahwa manusia pintar yang berasal dari sekolah, akan disahkan menjadi manusia pintar yang terdidik dan berbudaya ketika lolos dari praktik antri dan tertib lalu lintas khususnya di perempatan lampu merah.

Mobil mewah, mikrolet, sepeda motor, becak, dll, semuanya memiliki hak yang sama di perempatan jalan. Mereka berhak untuk mendapatkan informasi repetisi dari pengeras suara tentang ajakan tertib lalu lintas, dan ajakan menjadi masyarakat berbudaya. Ketika hak mereka telah terpenuhi, maka kewajiban mereka sebagai masyarakat berbudaya tentu mempraktikkan ajakan pengeras suara tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here