Beranda Edupedia Guru Menulis Menyikapi Kasus Jejaring Sosial Facebook

Menyikapi Kasus Jejaring Sosial Facebook

241
0
BAGIKAN

Koranpendidikan.com – Perkembangan teknologi internet yang memberikan akses layanan tanpa batas waktu dan tempat membutuhkan persiapan mental dan moral tersendiri. Internet yang menjadi media informasi, hiburan,  bahkan media bisnis, memberikan segalanya pada setiap pengguna tanpa ada batasan usia.  Munculnya media ini tidak bisa dihindari lagi, hal ini disebabkan karena perkembangan pemikiran manusia yang selalu menuntut kemajuan di segala bidang. Sehingga dunia terasa mudah dijelajahi dengan waktu yang cukup singkat.

Banyaknya permasalahan yang ditimbulkan oleh internet ini harus disikapi secara obyektif. Permasalahan terakhir, permasalah yang dialami oleh pengguna facebook di bawah umur, yang dibawa kabur oleh teman lawan jenis yang diperoleh melalui jejaring sosial, perlu analisis secara mendalam. Banyaknya media massa yang memberikan informasi yang “mengerikan” tentang bahaya penggunaan facebook sangatlah subjektif.

Pengalaman penulis dalam memanfaat jejaring sosial facebook tidak seperti yang diberitakan. Penulis beserta teman-teman, baik yang sudah kenal sebelum kenalan di facebook maupun teman baru yang belum pernah “kopi darat”, memanfaatkan facebook untuk saling tegur sapa, mempererat tali silaturahmi, curhat bahkan untuk membahas soal-soal sekolah. Dengan demikian, penulis berharap bisa mengajarkan ke teman-teman dalam facebook untuk memanfaatkan facebook dengan baik dan benar.

Kasus prostitusi dan kaburnya seorang anak bersama kenalannya yang diperoleh melalui facebook, merupakan tanggung jawab pihak kepolisian sebagai lembaga pemerintah untuk menjaga keamanan masyarakat dan orang tua sebagai orang yang diberi tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya.

Pihak kepolisian seharusnya lebih maju satu langkah dengan kemajuan yang sudah beredar di masyarakat. Kebanyakan kasus yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh lembaga-lembaga yang terkait masih menggunakan pola lama dalam mencegah terjadi kasus-kasus tersebut. Lihatlah kasus pembobolan ATM, pihak bank hanya menyalahkan nasabah dalam kasus ini, sedangkan pihak bank sendiri tidak melakukan perubahan-perubahn yang signifikan dalam memberikan pelayanan. Misalnya, adanya nomor costumer  servis yang terdapat di dalam ATM, apakah itu salah nasabah? Atau pihak bank yang tidak peduli dengan fasiltas yang disediakannya?

Oleh sebab itu, pihak kepolisian seharusnya terus mendalami keadaan yang berkembang di masyarakat. Pihak kepolisian seharusnya bisa menyatu dengan masyarakat sehingga bisa dengan mudah mengidentifikasi perkembangan-perkembangan yang sedang dialami oleh masyarakat luas.

Orang tua yang diberi tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya seharusnya bisa bercermin dari kejadian di Tanggerang, Sidoarjo dan Bogor tersebut. Orang tua seharusnya benar-benar menyediakan waktu yang cukup untuk berkomunisasi dengan anak-anaknya. Tidak hanya sekedar waktu, gaya berkomunikasi juga perlu dikuasai oleh para orang tua. Hampir semua orang tua berkomunikasi dengan gaya orang tua, ketinggalan jaman, sehingga anak-anaknya tidak suka.

Orang tua seharusnya selalu belajar dalam menghadapi anak. Perkembangan jaman yang begitu pesat memerlukan pengetahuan orang tua yang lebih maju lagi. Anak jaman sekarang tidak bisa disamakan dengan anak jaman dulu, sewaktu orang tua masih pada usia ABG. Tidak hanya masalah fasilitas yang tersedia, tetapi pola pikir, mental dan moral mereka harus dihadapi dengan cara yang berbeda pula.

Kesibukan orang tua dalam rangka pemenuhan materi dan pendidikan formal anak harus ditakar ulang. Banyak orang tua hanya memfasilitasi anak-anaknya dengan materi yang begitu berlebihan. Sehingga anak lepas control dalam menjalani hidup. Begitu pula dengan pendidikan formal, banyak orang tua begitu ambisi dalam memberikan fasilitas-fasilitas pendukung dalam rangka pencapaian prestasi gemilang pada pendidikan formal. Anak disibukkan dengan les mata pelajaran maupun les non-akademik. Hal ini menyebabkan penyaluran kasih sayang orang tua kepada anaknya sangat kurang.

Permasalahan dalam mencari identitas diri seorang anak sangat memerlukan perhatian orang tua. Seorang anak memerlukan teman curhat dalam menemukan jati dirinya. Kebanyakkan anak-anak jaman sekarang  mencari dan menemukan jati diri mereka di luar rumah. Hal ini sangat berbahaya jika media curhat mereka salah. Kematangan anak dalam mencari jati dirinya sangatnya rendah. Diperlukan latihan pendewasaan diri yang bagus dan seharusnya dibentuk di lingkungan rumah mereka dengan perhatian orang tua masing-masing.

Selama menjadi guru, penulis sangat tertegun dengan permasalahan-permasalahn yang dialami oleh siswa dalam mencari jati diri mereka. Banyak hal-hal yang tidak terduga mereka sharing-kan dengan penulis. Peran sekolah, khususnya guru, sangat diperlukan bagi anak-anak yang tidak menemukan keadaan yang nyaman di rumah untuk curhat. Anak didik memerlukan bahasa yang lebih “gaul” dari seorang guru yang biasanya berbahasa kaku dan formal. Guru bisa memberikan pendidikan mental dan moral pada anak didiknya sedikti demi sedikit. Target kurikulum yang sangat membebani guru, janganlah dijadikan halangan dalam mendampingi anak didiknya untuk belajar tentang kehidupan.

Pendidikan moral, yang selama ini sering digabungkan dengan pendidikan agama, bukan lagi menjadi tangung jawab guru agama atau guru mengaji. Pendidikan moral adalah tanggung jawab semua orang tua yang selalu berhubungan dengan anak-anak tersebut. Orang tua, paman, bibi, kakak, atau guru, semuanya bertanggung jawab atas pendidikan moral seorang anak. Dengan pendidikan moral yang mencukupi, kasus prostitusi dan hubungan diluar nikah seperti yang dialami MT, anak 14 tahun, dengan memanfaat facebook tidak akan pernah terjadi lagi.

Peran media massa dalam memberikan informasi secara objektif sangat diperlukan masyarakat Indonesia. Seperti kita rasakan akhir-akhir ini, berkembangnya berita-berita yang “berbau” politik membuat masyarakat menjadi sensitif. Masyarakat sering “menelan” informasi yang beredar tanpa adanya pemikiran secara objektif. Kekhawatiran akan bahaya facebook seharusnya disikapi secara bijaksana oleh setiap orang tua. Jangan sampai anak-anak, sebagai generasi penerus, kekurang informasi, apalagi kekurangan inovasi dan mengalami ketakutan dalam berkreasi.

Semua permasalahan yang ada sebetulnya bisa diselesaikan dengan arif dan bijaksana dengan catatan kita mau berpikir objektif. Orang tua seharusnya sadar akan tanggung jawabnya, sadar akan perkembangan jaman, perkembangan informasi, perkembangan hiburan dan sadar akan kebutuhan kasih sayang seorang anak. Orang tua seharusnya selalu belajar dalam menghadapi anak-anak dengan perkembangan di segala bidang seperti saat ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here