Beranda Edupedia Guru Menulis Merajut Asa di Bangku Kuliah

Merajut Asa di Bangku Kuliah

15
0
BAGIKAN
Ach. Nurdiansyah, S.Kom, Alumni Univ. Kanjuruhan Malang (Unikama)

Koranpendidikan.com – Kuliah sambil kerja? Ya, kenapa tidak? inilah tantangan sebenarnya.  Ketika kita berusaha melawan tembok keputusasaan, pesimisme dan yang lebih buruk lagi ada hancurnya semangat hidup.  Umur bertambah kedewasaan belum tentu bertambah sedangkan kualitas berfikir tak jernih lagi, kuliah konvesional selalu mendapatkan ruang yang bagus, ber AC, tapi sadar tidak bagi seorang yang meniti hidup dari rajutan awal ini bahwa ruangan kelas kita adalah keadaan masyarakat saat ini.

Masa depan tidak di tentukan didala bangku kuliah melainkan kegagalan yang selalu menjadi penentu dalam perjalanannya, bertahan hidup, dan biaya pendidikan yang melambung tinggi menjadi faktor utama dalam perjalanan hidup sehingga penuh dengan pertimbangan yang sangat matang untuk bertahan dalam segala resik, tak pernah terpikirkan ketika kita berpikir sebagus apa kampusnya kalau kiata tak mampu mencuat dan  berkompetisi untuk mengukur bagaimana kemampuan kita dalam merajut asa ini bisa tercapai. Kalau kita boleh jujur pendidikan memang penting, mau tidak mau kita harus melanjutkan kejenjang yang tinggi tapi hanya menyisahkan banyak PR bagi keberlangsungan pendidikan yang lebih tinggi, tak perlu mahal yang penting kita mengerti dan mengamalkannya,  ini adalah garis kehidupan yang berusaha mendapatkan kehidupan dan yang menerima kehidupan secara turun temurun tanpa mengetahui sosok jati diri. Jangan pernah bertanya “Saya kuliah dimana, tapi bagaimana cara saya kuliah”.

Jika kita amati ada sebuah pergeseran orientasi nilai pada generasi muda saat ini. Orientasi nilai yang mereka utamakan ditunjukkan oleh orientasi materi yang kuat. Kalau kita kita lihat orang-orang yang sudah kuliah, mereka seperti tante-tante dalam hal berdandan, selera pakai, sampai “life style”. Mereka ini lebih berorientasi “bagaimana bisa memperkaya diri, bahkan dengan jalan yang keluar dari norma-norma kelaziman, cenderung menghalalkan segala seuatu. Oleh karena itu, sering kita dengar istilah “Camp Fried Chicken”.

Jika kita kaji kembali persoalan diatas adalah adanya pergeseran nilai dari sisi NCB (National Caracter Building) yang tidak kontributif dan tidak bertambah karena “National Identity” yang merefleksikan nila-nilai budaya yang dianut tidak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian muncullah budaya pragmatisme untuk menjadi kaya, untuk cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan. Ukuran dan keberhasilan itu adalah bagaimana dia semakin banyak kekayaannya, dan itu menjadi pandangan yang melekat pada sebagian orang. Ironisnya justru orang-orang seperti inilah yang menjadi aktivis. Orang yang tidak berorientasi pragmatis, tidak berorientasi material dan itupun jumlahnya kecil. Hal ini sudah terjadi sejak dulu, kecuali pada tahun 1974-1978 yang masih relatif banyak. Pada saat itu mahasiswa sama sekali diberangus pada ranah politiknya dan pada masa itu mulailah diperkenalkan ujian yang tidak menyebabkan mahasiswa untuk berpikir yaitu dengan model soal multiple choise yang membentuk mahasiswa bermental “gambling” sebab dengan sistem seperti itulah mahasiswa yang tidak mengerti tetap bisa menjawab. Lalu dengan cara itulah terbentuknya cara berpikir mahasiswa yang pragmatis.

Melihat kondisi diatas, paling tidak ada beberapa tipologi mahasiswa saat ini yang sedang berkembang yang perlu dipelajari juga bagi orangtua maupun mahasiswa, antara lain ; 1. Mahasiswa aktivis, yaitu biasanya mereka ini peka dengan urusan/permasalahan masyarakat, cepat merespon jika ada isu/fenomena yang terjadi pada masyarakat lebih-lebih pada kondisi bangsa. Tapi dilain sisi mereka tidak mengabaikan kewajiban mereka sebagai mahasiswa. Biasanaya tipologi seperti ini cenderung memiliki “Ground Balancing” antara penempatan diri dan pengembangan skill antara kuliah maupun ekstrakuliah dan kebanyakan dari mereka ini diterima dalam dunia profesi yang layak. 2. Mahasiswa organisatoris, yaitu pada tipe ini mereka hanya mementingkan kegiatan di sebuah organisasi tertentu. Karena menguntungkan bagi pengembangan dirinya, tetapi tidak menguntungkan bagi nilai akademisnya. Biasanya mereka cenderung menempatkan organisasi sebagai pelarian bukan suatu kebutuhan. 3. Mahasiswa akademis, yaitu biasanya mereka memiliki semangat belajar tinggi, mengejar nilai bagus dan berusaha sukses dalam hal akademisnya, tetapi biasanya mereka tidak peduli dengan urusan masyarakat. Artinya mereka mementingkan diri sendiri, mereka cenderung termakan oleh dunia akademisnya. Sehingga mereka kebanyakan tidak memiliki pengalaman yang praktis untuk menunjang arah profesinya dalam dunia kerja. 4. Mahasiswa hedonis, yaitu pada tipe ini biasanya mereka kuliah hanya untuk bersenang-senang, pacaran, shoping (konsumeris) atau sikap-sikap yang tidak mencerminkan sebagai mahasiswa. Mereka larut dalam dunia kesenangan tanpa ada keinginan untuk mencipta, berkreasi dan melakukan pengembangan diri yang efektif. Sehingga tidak peduli dengan masa depan maupun masyarakat. Mereka cenderung kuliah terbengkalai dan tidak dihargai masyarakat.

Tipologi diatas paling tidak menjadi refleksi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa, mengingat mahasiswa sangatlah ditunggu untuk memperbaiki peradaban suatu Bangsa. Pergerakan mahasiswa Indonesia cukup kontributif dalam mengawal setiap aksi kebijakan. Tantangan yang berat pada kondisi mahasiswa saat ini adalah Miskinnya bangsa dari guiding ideas (krisis gagasan kebangsaan), Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang terus bertambah sesuai perguliran zaman (krisis identitas), Lemahnya pengertian terhadap tanggung jawab dan kewajiban (krisis kepercayaan dan kebertanggungjwaban), Kebutuhan akan pemimpin yang layak dan kompeten tidak pernah tercukupi (krisis kepemimpinan). Selamat datang agen perubahan, jadilah mahasiswa yang diharapkan oleh bangsa ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here