Beranda Edupedia Resensi Buku Guru yang “No Copy-Paste”

Guru yang “No Copy-Paste”

45
0
BAGIKAN
Ina Nursanti, Guru SDN Gunungsari 04 Kec. Bumiaji Kota Batu

Koranpendidikan.com – Menulis merupakan bagian dari kehidupan seorang guru.  Diawali dari menyusun perangkat pembelajaran, bahan ajar untuk siswa, soal-soal evaluasi, hingga menulis karya tulis ilmiah, semua hal tersebut tak lepas dari kegiatan menulis yang merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. Didukung pula dengan adanya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permen PAN-RB) Nomor 16 Tahun 2009, dimana menulis mulai dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat guru dari golongan III b ke III c dan seterusnya.

Dengan uraian di atas, maka sudah sewajarnya jika menulis telah membudaya dan mendarah daging di kalangan guru.  Akan tetapi pada kenyataannya, guru cenderung menghindari kegiatan menulis. Dari sekian banyak alasan yang diberikan untuk menghindari menulis, bisa disimpulkan penyebab utamanya adalah guru terlanjur memupuk  kebiasaan-kebiasaan yang kurang kondusif  bagi perkembangan profesionalitasnya. Kebiasaan umum yang pada akhirnya menggelincirkan sebagian besar guru adalah budaya “copy-paste” atau salin-tempel yang berlebihan.

Pada mulanya guru menganggap bahwa dengan “copy-paste” pekerjaannya akan cepat terselesaikan dan tidak terbebani proses berfikir yang sulit. Tapi tanpa disadari semakin lama hal ini menjadi suatu kebiasaan yang sulit dihilangkan, yang pada akhirnya menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan kurang kondusif lainnya yang semakin menyeret guru pada anggapan menulis sebagai kegiatan yang sulit dilakukan. Sehingga menjadi suatu beban dan dengan berbagai cara harus dihindari.

Sekarang yang diperlukan adalah cara untuk bisa mengurangi atau bahkan membuang  kebiasaan-kebiasaan yang kurang kondusif tersebut sekaligus mengembalikan gairah menulis guru yang mulai redup. Dari sekian banyak cara, ada tiga langkah awal yang bisa ditempuh guru, yaitu diawali dengan “copy-paste-edit”, dilanjutkan dengan “copy-paste-delete”, dan membudayakan “no copy-paste”.

Copy-paste-edit” atau salin-tempel-ubah merupakan langkah awal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru. Tidak hanya memarakkan “copy-paste” atau adopsi saja, tapi perlu proses pengadaptasian dengan cara mengedit pada beberapa bagian naskah hasil salinan. Sebagai contoh pada pembuatan naskah soal ulangan harian yang akan diberikan pada siswa. Harus dilakukan pengubahan dari salinan aslinya dengan melakukan penambahan, pengurangan, atau mengganti di beberapa bagian soal. Sehingga soal yang diberikan pada siswa tidak akan sama dari tahun ke tahun, dan jelas berbeda dari naskah asli hasil adopsiannya. Pada langkah ini guru memerlukan proses berfikir yang sederhana.

Setelah memiliki kebiasaan dan kemauan untuk mengedit soal, maka langkah selanjutnya adalah “copy-paste-delete” atau salin-tempel-hapus. Sebagai contoh saat  mengadopsi naskah soal, dalam proses pengadaptasian, guru tidak hanya sekedar mengedit beberapa bagian, tapi harus menghapus dan mengganti setiap bagian utama soal dengan produknya sendiri. Ketika guru mengadopsi soal mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menyajikan dialog, guru harus menghapus dan mengganti dialog tersebut dengan dialog  buatannya sendiri secara keseluruhan. Soal yang telah disalinnya itu hanya sebagai panduan saja dalam penyusunan soal. Perasaan takut salah dalam membuat sebuah karya harus dibuang jauh karena dengan adanya perasaan takut, pada akhirnya akan menggiring guru untuk lebih memercayai karya orang lain untuk di”copy-paste”. Pada langkah kedua ini, tentu diperlukan proses berfikir yang lebih rumit daripada langkah pengeditan saja.

Jika guru sudah terbiasa dengan karya-karyanya sendiri, maka mulailah melangkah lebih maju dengan “no copy-paste”. Pada tahap ini guru harus menghindari salin-tempel dalam menulis. Pengembangkan proses berfikir yang lebih maju dan kreatif akan menuntun guru untuk mempelajari lebih banyak hal tentang seluk-beluk menulis. Guru akan dituntut untuk memperluas pengetahuan dan wawasannya dengan membaca.

Setelah melampaui tiga langkah di atas, sudah bisa dipastikan kebiasaan-kebiasaan yang kurang kondusif tersebut mulai luntur atau bahkan hilang dari benak guru. Walaupun untuk mencapai itu semua diperlukan suatu proses yang memerlukan waktu. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba. Selama proses tersebut berlangsung, diperlukan penataan niat tulus-ikhlas dan daya juang dalam belajar. Sebab, walaupun telah menyandang gelar dan profesi sebagai guru, hal ini bukan berarti proses belajar telah berhenti.

Prinsip long life education (belajar sepanjang hayat) harus dipegang teguh dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Guru pun harus terus belajar dan membuang jauh kebiasaan-kebiasaan yang menjadi hambatan guru untuk menjadi pendidik yang lebih baik.  Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh penulis dan orang bijak, Mark Twain, “Kebiasaan tidak bisa dibuang begitu saja dari jendela kamar di lantai atas. Kebiasaan-kebiasaan tersebut harus dibujuk untuk menuruni tangga satu per satu.” (###)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here