Beranda Edupedia Resensi Buku Jalan Santun Menggapai Doa Mustajab

Jalan Santun Menggapai Doa Mustajab

175
0
BAGIKAN
101+ Doa Mustajab dari Nabi Saw.

Koranpendidikan.com – Berdoa ditinjau dari konteks dan sudut pandang Agama manapun merupakan sarana komunikasi makhluk dengan sang pencipta, namun esensi mendasar dari berdoa sejatinya lebih pada kualitas komunikasi kita (sebagai hamba) kepada sang pencipta bukan capaian dari wujud apa yang kita minta dalam doa tersebut, dalam konteks demikian kita adalah bagian dari makhluk yang lemah tanpa adanya kekuatan dari-Nya, selain itu, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak meminta—berdoa—kepada pencipta bukan pada sesama makhluk.

Jamak setiap makhluk akan cenderung berdoa dengan kuantitas dan kualitas baik pada saat sedang dilanda masalah dan lupa saat keadaan lapang. Sejatinya kita harus selalu melibatkan sang pencipta dalam setiap keadaan dan setiap pekerjaan, mulai dari awal, tengah-tengah, hingga akhir. Sebagai seorang muslim, diluar sholat tentu diperbolehkan berdoa dengan bahasa sederhana kita, karena yang terpenting adalah permohonan kepada Allah dan didalam lafal-lafal doa tidak ada unsur kemusyrikan.

Islam menyiratkan bahwa diutamakan doa yang dipanjatkan adalah doa-doa yang pernah dipanjatkan oleh para nabi dan rasul-Nya, atau yang biasa disebut dengan doa al-maksurat. Sebagai ibadah, berdoa tentu ada aturan dan tata cara tersendiri sehingga doa yang kita panjatkan diijabah oleh-Nya. Ijabah doa beragam, ada yang langsung diijabah, ada juga yang masih ditunda, seperti doa Nabi Musa perlu 40 tahun untuk mengalahkan Fir’aun sejak doa dipanjatkan, juga Nabi Ya’qub perlu 40 tahun untuk bertemu dengan Nabi Yusuf sejak doa dipanjatkan (hal 15).

Adab berdoa sebagaimana dijelaskan oleh Rasullah Saw. Adalah selalu memiliki wudhu. Berwudhu merupakan prosesi mencahai diri sebelum menghadap Sang Maha Pemberi Cahaya, juga akan membersihkan badan dan jiwa untuk lebih melancarkan komunikasi kita kepada Allah. Selanjutnya adalah memulai doa dengan memuji Allah Swt. dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian Istigfar, memohon ampun atas semua dosa yang telah dilakukan dan yakini Allah akan mengabulkan doa kita.

Berdoa hendaknya rendah hati dan bersuara lembut, seperti firmannya “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS al-A’raf [7]:55) (hal 9), selain itu, sampaikan dengan penuh harap dan cemas. Harap dan cemas adalah dua sifat dan sikap yang harus menjadi pilihan hati saat berdoa agar Allah berkenan mengijabah doa-doa yang kita panjatkan.

Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan juga tidak bosan untuk selalu mengulang doa, pengulangan doa adalah bukti keseriusan dan ketulusan kita kepada Allah. Hendaknya memulai berdoa dari diri sendiri terlebih dahulu, akhiri doa dengan mengusap muka dengan telapak tangan (hal 13).

Berdoalah yang baik-baik saja, jangan pernah berdoa kejelekan, utamanya bagi orang lain. Jika doa belum dikabulkan, yakini dan tetap berhusnuzdhan atas keputusan Allah, percayai bahwa yang paling berharga dalam hidup adalah selalu bersama ridha-Nya dibandingkan sekedar teraihnya cita-cita lahiriyah kita. Jangan pernah berdoa dengan gaya bersajak, terakhir, tetap berdoa meskipun dalam keadaan lapang (hal 21).

Selain adab, faktor yang dapat cepat terijabah doa kita adalah ketepatan waktu berdoa, waktu mustajab doa yaitu; Berdoa saat setelah terbangun dimalam hari, berdoa saat sepertiga malam terakhir, berdoa antara adzan dan istiqamah, waktu sujud dalam shalat, berdoa setiap selesai shalat fardhu, saat berbuka puasa bagi yang berpuasa, dan saat hujan atau kehujanan.

Kemudian saat hari Arafah (9 Dzulhijjah), sesaat dihari jum’at, saat terzalimi, bepergian jauh, dan kapanpun bagi orangtua mendoakan anaknya, seperti hadist Nabi, “Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) doa yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang terzalimi, doa orang musafir, dan doa orangtua kepada anaknya (HR Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah). Terakhir, saat adzan dan perang berkecamuk (hal 29).

Selain adab dan waktu, tentu jenis dan bentuk doa itu sendiri juga sangat menentukan diijabah tidaknya suatu doa. Buku 101+ Doa Mustajab dari Nabi Saw karya L. Nihwan Simuranje menjawab hal tersebut, beragam doa-doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw. kepada sahabatnya, mulai dari doa memohon ampunan, terlindung dari berbagai keburukan, menghadapi kesulitan, kesembuhan berbagai penyakit, dan doa-doa yang berkaitan dengan aktivitas kita sehari-hari semua dinarasikan secara lugas dan seksama.

Judul : 101+ Doa Mustajab dari Nabi Saw.
Penulis : L. Nihwan Sumuranje
Penerbit : Tinta Medina (Tiga Serangkai)
Tahun Terbit : Cetakan 1, 2015
Jumlah Halaman : 216 halaman
ISBN : 978-602-257-116-2
Peresensi : Khairul Amin, Penggiat Booklicious, Mahasiswa Jurusan Agroteknologi, Universitas Muhammadiyah Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here