Beranda Edupedia Resensi Buku Kisah Keteguhan Cinta dan Cita-cita dari Talumae

Kisah Keteguhan Cinta dan Cita-cita dari Talumae

219
0
BAGIKAN
Kaki Langit Talumae

Koranpendidikan.com – Buku Kaki Langit Talumae menyajikan kisah yang unik dan menarik, tidak hanya memuat cerita romans, persahabatan, juga perjuangan, nilai-nilai kearifan lokal suku bugis mampu disisipkan pada setiap alur cerita. Kisah berawal dari persahabatan lima anak pelosok Dusun Talumae, Kecamatan Watansindenreng, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, yaitu Asdar, Tenri, Daud, Irdan dan Wawan. Mereka terbiasa mengisi waktu luang dengan mendengar cerita masa perjuangan di atas rumah panggung Nenek Resse, perempuan mantan pejuang sukarelawan yang dahulu gigih bertempur melawan Belanda.

Meski usianya sudah renta, Nenek Resse masih menyimpan semangat yang menggelora. Sejak dahulu, Nenek Resse gemar bercerita pada anak-anak atau remaja dusun, utamanya tentang perjuangan rakyat Indonesia, dibalik cerita selalu terdapat nasehat dan pesan positif tentang kehidupan. Salah satu cerita inspiratifnya adalah cerita Puang Maduppa, pejuang bugis yang gagah berani dalam menghadapi penjajah Belanda.

Tenri, adalah satu-satunya perempuan didalam persahabatan mereka, Tenri tidak hanya berparas cantik, dia juga pintar dan cerdas, sejak kecil dia selalu menjadi juara kelas, bahkan dia pernah menjadi juara dua pada suatu Olimpiade di Kota Makassar. Prestasi inilah yang menjadikan Tenri mendapat beasiswa kuliah di Kota Makassar. Disinilah drama kisah persahabatan mereka dimulai. Tenri harus berpisah dari mereka, disatu sisi ada perasaan berat karena harus berpisah, namun disisi lain, dia tentu ingin terus mengejar mimpinya selama ini.

Diantara mereka, hanya Tenri dan Daud lah yang menikmati bangku kuliah, sementara Wawan harus merantau ke Gorontalo bersama sang kakak, bahkan sebelum dia lulus SMA. Sedangkan Irdad dan Asdar memilih bekerja bertani sambil berdagang buah Rambutan milik Haji Haeruddin, pedagang kaya di dusun mereka. Asdar sangat menyenangi berdagang, karena memang dia mempunyai mimpi menjadi pedagang sukses.

Seminggu sebelum keberangkantan Tenri ke Makassar, dusun mereka kedatangan mahasiswa salah satu kampus negeri dari Makassar yang akan melaksanankan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sesekali mereka membantu kegiatan mahasiswa tersebut. Peserta KKN juga Asdar kenalkan pada Nenek Resse, mereka kagum akan semangat dan cerita dari Nenek Resse.

Rencana keberangkatan Tenri ke Makassar, membuat sedih Asdar, sedih bukan karena akan berpisah dengan sahabat yang selama ini bersamanya, namun lebih dari itu, Asdar menyimpan perasaan pada Tenri, walau dia belum berani mengungkapkannya. Ditengah kegundahannya ini, Asdar sering meminta nasehat pada Nenek Resse, nasehat bijak Nenek Resse selalu mampu membuat Asdar lebih tenang. Dari Nenek Resse pula Asdar, Tenri, Daud, dan Irdan tergerak hatinya untuk membuat janji, menjadi apapun mereka nantinya akan kembali ke dusun dan berbuat sekecil apapun itu (hal 104).

Sepeninggalan Tenri dan Daud kuliah ke Makassar, Asdar mengalami kebingungan antara merantau untuk mencari pelajaran hidup atau tetap didusun. Akhirnya ia putuskan merantau ke Balikpapan, bekerja pada Haji Sulaiman, sahabat dari Haji Haeruddin. Dalam perjalanan Asdar terus mengikis kerinduan akan keluarga, kampung halaman, Nenek Resse, dan sahabat-sahabatnya, hanya buku pemberian Tenri pada malam perpisahan dengannya yang selalu menemi Asdar. Perjuangan ini harus ia lakukan demi meraih mampi dan segera mempersunting pujaan hatinya, Tenri, serta berbuat untuk dusun yang dicintainya.

Sesampainya di Balikpapan, Asdar bekerja di Kebun Karet, Asdar tergolong pekerja yang gigih dan jenius, tak jarang dia mendapat pujian dari rekan kerjanya, berkat kegigihannya inilah iakemudian ditugaskan untuk mengelola usaha mebel milik Haji Sulaiman. Dari sinilah kebangkitan Asdar,  selain mebel yang dia kelola berkembang pesat, dia juga membuka usaha toko sembako dan cafe, sesuai mimpinya, menjadi pengusaha.

Limatahun berselang Asdar kembali menginjakkan kaki dikampung halamannya, namun bukan untuk libur lebaran, dia pulang untuk menghadiri undangan pernikahan Tenri, Sahabat sekaligus pujaan hatinya selama ini. Sehari sebelum pernikahan Tenri, Asdar pergi ka makam Nenek Resse, memang sejak dulu ia selalu mencurahkan segala kegundahan terhadap Nenek Resse, diatas makam inilah Asdar berdoa dan terus meratap akan perasaan yang ia simpan selama ini terhadap Tenri, tanpa disadari secara bersamaan Tenri juga mengunjungi makam tersebut.

Kajadian ini mengungkap bahwa, yang selalu diungkapkan Asdar pada Nenek Resse adalah Tenri, begitujuga sebaliknya, Tenri juga mengungkapkan hal sama pada Nenek Resse. Namun, nasi sudah menjadi bubur, Tenri sudah menjadi tulang rusuk lelaki lain (hal 263).

Sesuai janji Asdar dan sahabat-sahabatnya pada Nenek Resse, mereka mulai berbuat untuk dusunnya, mulai dari mendirikan kedai minuman jahe, tokoh sembako berlantai dua, hingga membangun jembatan dusun. Mereka berlima akhirnya kembali kekampung dan berbuat sedikit untuk kebaikan dusun yang selama ini telah membesarkannya.

Membaca buku Kaki Langit Talumae tidak hanya menguras konsentrasi dalam memecah padanan narasi dan diksi, tutur apik penulis mampu membawa emosi pembaca bergalayut dalam setiap penggalan kisahdidalamnya. Nilai-nilai kearifan lokal suku bugis, cinta, dan perjuangan mampu merangsek jauh pada imajinasi pembaca, lebih jauh buku ini juga menjadi guru pada setiap pembaca yang haus akan nasehat hidup.

Judul : Kaki Langit Talumae
Penulis : Wishnu Mahendra
Penerbit : Metamind
Tahun Terbit : Cetakan 1, Oktober 2014
Jumlah Halaman : 296 halaman
ISBN : 978-602-9251-29-6
Peresensi : Khairul Amin, Mahasiswa Jurusan Agroteknologi, UNMUH Malang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here