Beranda Edupedia Resensi Buku Perilaku Porn Tourist Perjalanan Wisata

Perilaku Porn Tourist Perjalanan Wisata

15
0
BAGIKAN
Judul : PORN(O) TOUR: Sisi Lain Sebuah Perjalanan

Koranpendidikan.com – Belakangan berwisata tidak lagi dilihat sebagai serana refresing dalam mencari ketenangan jiwa, tapi telah menjadi gaya hidup bagi masyarakat perkotaan yang terjebak dalam rutinitas kerja menjemukan, hal ini berimbas pada berkembang pesatnya industri pariwisata di Indonesia. Namun, kondisi ini juga membawa dampak buruk apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan dan manjemen yang baik dari wisata itu sendiri, mulai dari dampak terhadap lingkungan, masyarakat sekitar tempat wisata, hingga wisatawan itu sendiri.

Banyak wisata yang hanya mengejar kepuasan pribadi dengan mengabaikan etika dalam berwisata, hal inilah yang akrab dengan istilah perilaku Porn Tourist (PT) atau porn(o) dalam wisata. Tidak hanya dari sisi wisatawan, banyak perilaku porn(o) dalam berbagai destinasi diakibatkan oleh perencanaan dan pengembangan yang tidak matang terhadap industri pariwisata. Sejatinya, dalam bersiwata, setiap wisatawan harus memiliki keyakinan bahwa perjalanan tak melulu tentang dirinya sebagai wisatawan, tapi juga kehidupan orang lian.

Setiap wisatawan, tentu memiliki pengalaman berbeda-beda dalam berwisata, senang, pilu, bahkan tampa disadari perilaku porn(o) kerap menjadi tontonan lumrah. Melalui buku  Porn(o) Tour; Sisi Lain Sebuah Perjalanan Nurdiyansah hendak berbagi kisah perjalanan wisata, utamanya hal-hal porn(o) yang ia temui dalam setiap destinasi yang dikunjunginya.

Kisah pertama saat ia mengunjungi Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS) tahun 2013 silam. Melalui jalur via Kabupaten Malang dengan mengendarai sepeda moto. Untuk sampai di Bromo dia tidak hanya harus melewati jalan curam tapi sebagian besar jalan juga rusak dan berlubang, ke Porn(o) an dia temui saat Jip yang membawa belasan para backpacker melintasinya, dijalan sempit berlubang seperti ini, para backpacker rela berdesak-desakan diatas Jip yang memuat diluar ambang batas jumlah penumpang yang seharusnya, ini dilakukan demi meminimalisir pengeluaran, jangankira mereka sudang duduk asik sambil memotret panorama, mereka berdiri dengan berpegangan pada besi penyangga. Sebuah keabaian dalam keselamatan demi bertransportasi murah (hal 13).

Fenomena porn(o) lain juga ia temui, yaitu jarangnya peringatan bencana maupun tanda jalur evakuasi, padahal ini menjadi  standar baku yang harus dipenuhi pengelola destinasi untuk memberikan pemahaman serta perlindungan keselamatan pengunjung. Saat melewati pos penjagaan pun dia hanya diminta membayar tiket masuk TNBTS, tidak ada brosur informasi atau briefing tentang bagaimana pengunjung harus bersikap dan berperilaku di TNBTS ini.

Tidak hanya disitu, perilaku porn(o) juga penulis temui saat tiba di Bromo, mulai minimnya tempat sampah, padahal disana banyak penjual makanan, sehingga sampah berhamburan kemana-mana, penjual bunga edelweiss, yang merupakan tanaman endemik langka dan dilindungi, hingga berbagai coretan spidol dan tipp-ex tertera disepanjang pegangan dan tiang tangga menuju kawah Bromo (hal 30).

Perilaku porn(o) juga penulis temui ketika mengunjungi Candi Badut yang berlokasi di Desa Karang Besuki, Kec. Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Candi Badut diduga menjadi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan sekitar abad VIII Masehi. Tempat yang dulunya dianggap sakral dan dipujapuji keindahannya, kini sudah penuh sesak dengan coretan di muka dinding candi. Pemandangan serupa juga penulis temui ketika berkunjung ke Benteng Speelwijk, benteng yang dibangun VOC diatas reruntuhan bekas benteng kesultanan Banten, Benteng yang tak lagi memiliki bentuk sempurna ini dijadikan masyarakat sekitar sebagai arena bermain, disudut-sudut benteng sampah berserakan dan dinding benteng penuh dengan coretan cat semprot warna-warni, pemandangan pilu peninggalan sejarah bangsa ini.

Lain halnya ketika penulis mengunjungi Kampung Naga, di Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kampung seluas 1,5 hektare dan mimiliki 113 bangunan serta dihuni oleh 108 kepala keluarga ini masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat, mereka pantang mengunakan teknologi, begitu juga listrik tidak mereka gunakan, semua perangkat dan aktivitas sehari-hari menggunakan bahan yang diambil langsung dari alam, mereka sangat menjaga alam dan lingkungan sekitar desa. Namun, tak jarang pengunjung bertindak sesuka hati dengan membuang sampah sembarangan (hal 239).

Melalui buku ini penulis membuka tabir sisi lain dari dunia pariwisata, hal-hal yang berkaitan dengan perilaku porn(o) wisatawan dinarasikan dengan apik, seluruh cerita menyiratkan bahwa pariwisata tidak hanya tentang cara menikmati keindahan dan memunuhi hasrat pribadi, namun juga bagaimana kita ikut menjaga dan melesatarikan setiap wisata yang kita kunjungi. Travel Notes diakhir destinasi tiap kunjungan wisata menjadi bekal berarti para pembaca yang akan mengunjungi tempat wisata tersebut.

Judul : PORN(O) TOUR: Sisi Lain Sebuah Perjalanan
Penulis : Nurdiyansah Dalidjo
Penerbit : Metagraf
Tahun Terbit : Cetakan 1, 2015
Jumlah Halaman : 280 halaman
ISBN : 978-602-257-108-7
Peresensi : Khairul Amin, Penggiat Booklicious, Mahasiswa Jurusan Agroteknologi, Universitas Muhammadiyah Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here