Beranda Edupedia Resensi Buku Potret Indonesia Masa Kini dalam Kurator Seni

Potret Indonesia Masa Kini dalam Kurator Seni

18
0
BAGIKAN
Komik Corat Core: Made In Indonesia

Koranpendidikan.com – Menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap segala hal berkaitan dengan Negara tercinta Indonesia ini, tidak hanya terbatas melalui aksi turun jalan maupun lewat tulisan. Memvisualisasikan ide, gagasan, maupun semua kegelisahan tentang Indonesia dalam bentuk gambar menjadi jalan baru penyampai kritik konstruk efektif. Memvisualisasikan gagasan dalam gambar memerlukan kelugasan dalam berpikir, kreatif dan imaginatif, serta perlu kelihaian dalam penyelarasan gambar dan teks.

Berkaitan dengan hal tersebut, Wahyu Aditya, dkk. Melalui Buku Komik Corat-Coret:Made In Indonesia, menghimpun segala gagasan ke Indonesiaannya lewat gambar. Hasil kreator para Gembolers, nama khas pertisipan Kementrian Desain Republik Indonesia (belum/tidak sah) memberi penyadaran tentang realitas Indonesia masakini. Buku ini memvisualisasikan gagasan ke Indonesiaanya dalam lima tema umum; 100% Indonesia, Tanah Air Saat Ini, I Love Indonesia, Indonesia (belum) Merdeka, Save Indonesia, Save Earth, dan Semangat Persatuan.

Pada tema 100% Indonesia, para kreator menyinggung hal umum yang menjadi ciri khas negeri ini. Seperti pada komik Bayi ala Indonesia (hal 2) yang memvisualisasikan tentang adat jawa, “turun tanah”. Dalam adat ini anak akan diberikan pilahan barang-barang yang akrab dalam kehidupan, seperti cermin, sisir, mainan, dan lain sebagainya. barang yang diambil memiliki makna dan arti tersendiri dimana menunjukkan minat, bakat anak tersebut kelak. Namun menariknya, pada komik ini memvisualisasikan anak mengambil remote control televisi, kemudian menonton sinetron.

Sebuah auto kritik menggelitik tentang kegemaran masyarakat Indonesia menonton sinetron pada hampir setiap waktu. Realitas ini menjadi justifikasi acara televisi di Indonesia yang masih didominasi oleh tontonan hiburan semata, acara edukatif masih sangat minim dan kalah pamor dengan acara hiburan dan sinetron. Hal serupa juga divisualisasikan pada komik “X = Y” (hal 10) yang medeskripsikan sepasang siswa yang ngobrol tentang sinetron dalam kelas ditengah pelajaran yang sedang berlangsung, hal ini juga efek dari acara televisi yang hanya didominasi oleh acara sinetron.

Pada tema Tanah Air Saat ini, para komikus banyak menyinggung kebiasaan para pemuda masa kini baik dari gaya hidup maupun pola pikir. Seperti komik Anak Gaul Socmed (hal 47) dimana memvisualisasikan anak muda yang hanya sibuk mendokumentasikan setiap aktivitasnya lalu mengunggah di media sosial, ini sangat jauh dari aktivitas produktif pengembangan pribadi. Hal lain, juga digambarkan pada komik Anti-Sosial, (hal 52) yang memvisualisasikan para pemuda yang hanya aktif di media sosial, mereka hanya terlihat sibuk Update status tentang kesosialan, namun tidak berkecimpung langsung pada sosial kemasyarakatan. Apabila di biarkan, hal ini akan menciptakan generasi yang egois, dan apatis terhadap lingkungan.

Sedangkan pada tema I love Indonesia para komikus mengeksplor kekayaan Indonesia, mulai dari wisata, kuliner hingga transportasi. Seperti komik Cinta Indonesia (hal 69) memvisualisasikan perilaku anak muda yang enggan melestarikan kekayaan budaya batik dengan tidak berpakaian batik pada setiap aktivitas, hanya bisa protes ketika kebudayaan ini diklaim oleh negera lain, sebuah pembelajaran kongkrit dan aplikatif.

Komik lain tentang keelokan Indonesia adalah 24 Alasan Harus ke Jogja (hal 98) yang memvisualisasikan beragam eksotisme destinasi di Jogja yang membuat para pengunjung akan ketagihan untuk berkunjung. Selain itu, komik Bali, Pulau Nan Indah di Indonesia…(hal 78) juga memvisualisasikan kekayaan destinasi di Bali, mulai dari keindahan alam hingga tempat perbelanjaan kreatif yang siap memanjakan pengunjung.

Pada tema Indonesia (belum)Merdeka (hal 107) menyinggung terkait kegemaran masyarakat bahasa dan budaya asing dimana tidak diimbangi dengan pelestarian budaya lokal. Selain itu, masih maraknya perilaku koruptif yang mendarah daging. Seperti komik Suap dan Sogokan (hal 116) yang memvisualisasikan perilaku koruptif para pejabat yang suka memeras rakyat kecil dengan dialog kucing dengan ikan.

Sedangkan pada tema Seve Indonesia, Save Earth (hal 135), para komikis mengajak pembaca untuk sama-sama melastarikan lingkungan dan binatang asli Indonesia, tidak hanya itu, para komikus juga memvisualisasikan akibat dari ulah manusia jika tidak menjaga alam, seperti banjir, longsor, dan lain sebagainya. Pada tema Semangat Persatuan (hal 161) komikus menyiratkan pesan tentang semangat persatuan dengan mengesampingkan perbedaan dan kepentingan pribadi, Indonesia sebagai bangsa yang multikultural harus menjunjung tinggi toleransi.

Buku hasil para kreator seni menggambar ini hadir sebagai diktum baru peran komik sebagai media aspirasi dan kreasi yang aktif produktif, karya ini menegasikan komik hanya sebagai hiburan, namun juga menjadi bagian dari fragmen kehidupan sosial-politik masyarakat Indonesia.

Judul Buku : Komik Corat Core: Made In Indonesia
Penulis : Wahyu Aditya, dkk.
Penerbit : Bentang Komik (PT Bentang Pustaka)
Tahun Terbit : Cetakan 1, November 2014
Jumlah Halaman : 216 halaman
ISBN : 978-602-1383-28-5
Peresensi : Khairul Amin, Penggiat Booklicious, Mahasiswa Jurusan Agroteknologi, Universitas Muhammadiyah Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here