Beranda Edupedia Resensi Buku Seni Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin

Seni Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin

17
0
BAGIKAN
Abu Bakar ash-Shiddiq: Pembuka Islam di Tanah Persia

Koranpendidikan.com – Kenikmatan Agama Islam yang dirasakan saat ini tidak lepas dari perjuangan Rasulullah Saw. dan para Khulafaur Rasyidin (KR) serta para sahabat nabi. Sejarah telah mencatat perjuangan, jihad, maupun kemuliaan akhlak dan teladanan mereka. Diantara para KR adalah Abu Bakar ash-Shidiq, torehan kegemilangan perjalanannya dalam mempraktikkan ajaran Islam telah banyak dikenal dan dikagumi umat lintas zaman.

Malalui buku Abu Bakar ash-Shiddiq: Pembuka Islam di Tanah Persia (Tinta Medina, 2015) ini, Dr. Abdul Aziz bin Abdullah al-Humaidi mencoba menarasikan kembali kegigihan Abu Bakar dalam menaklukkan Persia dan Romawi dalam waktu yang bersamaan. Perjuangan Abu Bakar dimulai paska wafatnya Rasulullah Saw. dimana dipilihnya Abu Bakar sebagai pengganti Nabi Muhammad Saw.. Paska Rasulullah Saw. wafat terjadi murtad dalam skala besar dikalangan suku-suku Arab. Bahkan, tidak sedikit yang mengaku-ngaku sebagai nabi, belum lagi suku-suku Arab yang masih setia pada Islam tetap enggan membayar zakat.

Abu Bakar dikenal sebagai sosok yang cakap dalam kekuatan, keperkasaan, maupun kehalusan dan kesantunan. Dia tegas pada kaum kafir serta lembut dan santun pada sesama muslim, adil pada siapapun, sangat nasionalis dan tidak pernah memandang unsur keturunan apalagi berbangga akan meteri dunia. Melalui keagungan sifat dan sikap serta keteguhannya terhadap Islam, Abu Bakar mampu menghadapi cobaan dan menggelorakan jihad melawan kaum murtad dan separatis.

Abu Bakar dalam menyusun strategi perang sangat cerdik, tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga diplomasi. Diawal perlawanannya terhadap pembangkang Islam, Abu Bakar membagi pasukannya dalam sebelas brigade dengan satu komando pada setiap brigade. Kesebelas komando tersebut secara berurutan adalah sebagai berikut; Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal, Muhajir bin Abi Umayyah, Khalid bin Said, Amru bin Ash, Hudzaifah al-Ghilfani, Arfajah bin Hartsamah, Syurahbi bin Hasanah, Thuraifah bin Hajiz, Suwaid bin Muqarrim, dan Ala’ bin al-Khadrami. Strategi ini dilakukan untuk mengembalikan para pembangkang Islam secara cepat, dan mencegah mereka (antara satu kabilah dengan kabilah lain) bersatu melawan kekuatan Islam (hal 41).

Hasil pertempuran masif yang digagas oleh Abu Bakar menuai prestasi, Islam menjadi agama besar dan dianut oleh penduduk disemenanjung Arab. Semua suku dan kabilah yang ada tunduk kepada pemerintahan Abu Bakar. Prestasi ini diraih dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, masa yang cepat dan sulit diraih oleh umat-umat lainnya.

Tidak puas disitu, misi selanjutnya Abu Bakar adalah menyebarkan Islam lebih luas dan menghapus pemerintahan yang masih dinaungi sistem jahiliyah, kala itu Persia dan Irak. Penaklukan negara-negara lain oleh Islam selalu diawali dengan ajakan terlabih dahulu (dengan menyurati kepala negara atau raja pada kota atau negara sasaran) namun jika mereka menolak, mereka diminta upah sebagai ganti jaminan atas keamanan dan keselamatan. Jika tetap menolak, baru akan diperangi. Ini menunjukkan bahwa tujuan utama jihad dalam islam adalah dakwah.

Perintah panaklukan wilayah Irak, Abu Bakar percayakan pada pasukan Khalid, dimana sebelumnya Khalid dan pasukannya menggempur kaum pembangkang di Yamamah. Sebelumnya pasukan yang dikirim oleh Abu Bakar ke Irak dipimpin oleh Mutsanna bin Haritsah asy-Syibani. Mutsanna berhasil mengubah keadaan bagian selatan Irak dengan sejumlah kemenangan melawan Persia dan sekutunya, Nasrani Arab. Menyadari pasukannya kurang, dikirimlah Khalid bin Walid untuk membantu Mutsanna dan sekaligus menjadi komandan pasukan sesampaikanya disana.

Penaklukan Irak bagian selatan Khalid selesaikan dengan baik, dimana sebelumnya melalui perang Khazimah, Mazdar, Walajah, Ullais, Amghisyiyya, dan Hirah. Kemudian Abu Bakar menugaskan Iyadh bin Ghanam untuk menaklukkan wilayah Irak bagian utara. Setelahnya baru menguasai wilayah-wilayah kekuasaan Persia, sehingga semua wilayah tunduk pada pemerintahan Islam. Setelah selasai merampungkan Irak bagian selatan, Khalid membantu Iyad menaklukkan Irak bagian utara yang belum selesai. Di Irak bagian utara tergabung tiga sekutu besar (markas militer Persia dibantu oleh para sekutu dari suku Arab, yaitu Anbar, Ain Tamar, dan Furadh.

Penaklukan Irak bagian utara Khalid mulai dari Kota Anbar, kemudian Kota Ain Tamar, Kota Daumatul Jandal, Kota Husaid, Kota Mushayyakh, kemudian terjadi perang ats-Tsani dan az-Zumail, terakhir perang Furadh. Perang Furadh adalah perang terakhir yang diikuti Khalid di Irak, dari bagian utara Irak, Khalid membawa pasukannya bermarkas di Furadh, masuk perbatasan kekuasaan Romawi.

Tekad dan Visi Abu bakar tidak hanya berhenti disitu, dia juga ingin menguasai Romawi. Kayakinan penyerangan terhadap Romawi ditegaskan lewat mimpi Syurahbil, yang mengabarkan kemenangan pasukan Islam. Setelah melalui jalan musyawarah dengan para sahabat, akhirnya diputuskan untuk menyerbu Romawi. Pasukan kemudian dibagi atas empat satuan, setelah sebelumnya mempelajari teknik perang. Komandan pada setiap pasukan yaitu; Abu Ubaidah dan Jarrah untuk daerah Hamsh, Yazid bin Abu Sufyan untuk daerah Damaskus, Syurahbil dan Hasanah untuk daerah Yordania, dan Amru bin Ash untuk daerah Palestina dengan pemimpin umum Abu Ubaidah( hal 154).

Perang demi perang dilalui pasukan Islam, sehingga romawi dapat dikuasai, untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada bulan Jumadilakhir tahun ketiga belas dari hijriyah nabawi, Khalifah Abu bakar r.a sakit, tatkala merasa ajalnya akan tiba, Abu bakar memilih Umar bin Khaththab r.a sebagai penggantinya. Abu bakar wafat pada hari Senin bulan Jumadilakhir.

Kisah perjuangan Abu Bakar r.a dalam buku ini tidak hanya menyiratkan konteks kemenangan dalam setiap perang yang dihadapi pasukan Islam, namun lebih dari itu, Islam mencoba mendewasakan jalan dakwah efektif dengan mengedepankan nilai-nilai Agama dan kemanusiaan. Narasi politik cerdas para panglima perang Islam dalam buku ini menjadi pelajaran pada setiap yang ingin mengenal perjuangan Islam pada jalan Rahmatan Lilalamin.

Judul Buku                  : Abu Bakar ash-Shiddiq: Pembuka Islam di Tanah Persia
Penulis                         : Dr. Abdul Aziz bin Abdullah al-Humaidi
Penerbit                       : Tinta Medina
Tahun Terbit                : Cetakan 1, 2015
Jumlah Halaman          : 240 halaman
ISBN                           : 978-602-72129-6-1
Peresensi                     : Khairul Amin, Penggiat Booklicius, Mahasiswa Jurusan Agroteknologi,
Universitas Muhammadiyah Malang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here