Beranda Edupedia Resensi Buku Strategi Madrasah Unggul

Strategi Madrasah Unggul

20
0
BAGIKAN
Mantan staf pengajar di MTs dan SMA Surya Buana Malang, Sekarang tinggal di Kota Kuala Pembuang, Kab. Seruyan, KALTENG

KoranPendidikan.com – Buku yang berjudul STRATEGI MADRSAH UNGGUL, yang ditulis oleh Drs. H. Farid Hasyim, M.Ag, berisi tentang langkah-langkah nyata yang dilakukan Drs. H. Abdul Djalil Zuhri, M.Ag dalam mengembangkan madrasah yang ada di Jl. Bandung no. 7, Kota Malang. Farid Hasyim menguraikan dengan gamblang perjalanan pak Djalil, Panggilang akrab Drs. H. Abdul Djalil Zuhri, M.Ag, dalam memajukan MIN I Malang, MTsN I Malang dan MAN Malang 3. Tidak lupa pula, Farid Hasyim menceritakan latar belakang pendidikan dan semua tantangan yang dihadapi oleh pak Djalil.

Dalam buku yang bisa disebut sebagai buku biografi Drs. H. Abdul Djalil Zuhri, M.Ag, dituliskan bahwa, Drs. H. Abdul Djalil Zuhri, M.Ag merupakan tokoh fenomenal dalam dunia pendidiikan islam. Betapa tidak, dahulu madrasah dipandang sebelah mata oleh khalayak, sekarang madrasah mempunyai peranan penting dalam membentuk generasi islam. Dahulu madrasah merupakan lembaga pendidikan nomor kesekian, sekarang madrasah sudah bisa ditandingkan dengan sekolah yang bertaraf internasional. Dahulu madrasah hanya mempunyai prestasi lokal, sekarang madrasah bisa menunjukkan prestasinya sampai dunia internasional.

Di dalam buku yang diterbitkan oleh Prismasophie Jogjakarta tersebut, Prof. Dr. H. Muhammad Djuanidi Ghany mengakui kepiawaian pak Djalil dalam mengembangkan lembaga pendidikan madrasah sehingga kualitasnya bisa diakui oleh masyarakat. Keseriusan tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh pak Djalil dalam menjadikan madrasah bermutu sudah teruji dengan diperolehnya penghargaan UIN Award dalam acara perhelatan ulang tahun UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Menjadi guru agama, merupakan panggilan hati nurani untuk mencerdaskan generasi muda. Setelah beberapa kali mengalami pemindahan tugas kerja, pak Djalil dipercaya oleh Departemen Agama untuk memimpin MIN I Malang. Dari sinilah pak Djalil memulai niatan sucinya untuk menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang bermutu. Dengan beberapa kebijakannya kontroversial pada waktu itu, pak Djalil terus saja mempimpin MIN Malang I. Kekontroversialan kebijakan yang diambil oleh pak Djalil tidak hanya bersifat horisontal, tetapi juga bersifat vertikal (tidak sejalan dengan pemerintah).

Kebijakan tersebut diambil dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh MIN I Malang, antara lain: kondisi fisik sekolah yang tidak layak, prestasi sekolah yang relatif rendah, minimnya anggaran yang dimiliki sekolah, kurangnya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, tidak adanya keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan, kualitas proses pembelajaran rendah, dan kesejahteraan warga sekolah masih kurang.

Masalah-masalah tersebut diselesaikan dengan cara pembenahan di berbagai sektor. Mulai dari administrasi, pelayanan, perbaikan fasilitas dan kualitas sumber daya pendidik. Setelah semua sektor itu berjalan sesuai dengan harapan, langkah berikutnya yang diambil pak Djalil adalah perbaikan prestasi akedemik maupun non akademik siswanya. Untuk urusan satu ini, pak Djalil melakukan studi banding ke madrasah dan sekolah-sekolah yang sudah mempunyai prestasi mengagumkan. Salah satu lembaga pendidikan yang ditujunya adalah Al-Azhar, Jakarta. Setelah mendapat ilmu dari Al-Azhar, beliau langsung menginternalisasikannya di MIN I Malang.

Kesuksesan Pak Djalil dalam memimpin MIN Malang I mengantarkannya untuk dipercaya memimpin MTsN I Malang dan MAN Malang 3. Kepercayaan yang diberikah oleh Departemen Agama tersebut diapresiasi positif oleh pak Djalil. Dengan kapabilitas dan tangan terampilnya, pak Djalil berhasil membangun image positif madrasah pada masyarakat umum. Keberhasilan siswa MTsN I Malang menjadi Duta Remaja Indonesia di Sidney, Australia dan berhasilnya siswa MTsN I Malang meraih medali emas dalam International Science Olympiad menjadikan bukti berikutnya bahwa pak Djalil merupakan tokoh yang perlu diperhitungkan dalam kiprahnya membangun madrasah unggul. Setelah enam tahun memimpin MTsN I Malang, pak Djalil mengakhiri pengabdiannya dengan good closed the keys.

Tugas berikutnya yang diemban oleh pak Djalil adalah memimpin MAN Malang 3 yang beralamat di jalan Bandung no.7 Kota Malang. Tanggung jawab yang dipikul pak Djalil dalam memimpin MAN Malang 3 semakin berat ketika madrasah tersebut dijadikan Pilot Project MAN Model. Tantangan untuk melakukan perubahan di segala bidang menjadi prioritas pak Djalil. Perbaikan di bidang SDM, banyak guru-guru MAN Malang 3 yang dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Dibangunnya asrama untuk siswa MAN Malang 3, sehingga nantinya peserta didik akan terjaga kualitas aqidah islamiyahnya di tengah gegap gempita fasilitas sarana pendidikan modern yang berpengaruh pada peningkatan kualitas keilmuan di luar ilmu agama. Ide pak Djalil untuk membangun MADRASAH TERPADU juga mendapat respon positif dari masyarakat. Letak MIN I Malang, MTsN I Malang, dan MAN Malang 3 yang berjejer di Jl. Bandung no. 7 Kota Malang memberikan kemudahan orang tua siswa dalam menyekolahkan anaknya di madrasah yang sudah diakui mutu dan kualitasnya.

Setelah purna tugas sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Depertemen Agama, pak Djalil tidak patah semangat dan tidak kekurangan ide dalam membangun sekolah yang unggul. Di lembaga Perguruan SURYA BUANA, pak Djalil terus menerus menyalurkan ide cerdas dan kreatifnya dalam membentuk generasi penerus bangsa. Dengan menduduki jabatan sebagai kelapa sekolah SDI Surya Buana, kepala Madrasah MTs Surya Buana, kelapa sekolah SMA Surya Buana dan menjadi pimpinan Pondok Pesantren Modern Surya Buana, pak Djalil menjadi manager yang simpatik, sederhana, pekerja keras, ulet, sopan, santun dan kharismatik. Dengan jiwa kepemimpinan yang ditunjukan tersebut, banyak program-program yang muncul dalam rangka mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul.

Program yang dirancang oleh pak Djalil dalam memimpin MTs Surya Buana antara lain: Full day school system, sistem kelas kecil, sistem rollling class setiap semester, sistem raport bulanan, sistem penasehat akademik, sistem poin kedisplinan, sistem tentor sebaya, sistem try out bulanan, sistem studi empiris bulanan, sistem bimbingan belajar, dan sistem pembelajaran bilingual.

Dengan mencetuskan SEKOLAH ALAM BILINGUAL, pak Djalil menjalankan tugas-tugasnya dengan langkah-langkah sebagai berikut: membangun komitmen dengan warga madrasah, seorang pemimpin untuk diteladani bukan ditakuti, keterbukaan menerima perubahan, menyingkirkan hasrat menjadi pemimpin, menghargai kebebasan sebagai fitrah manusia dan mengarahkan kebebasan menciptakan kreasi produktif, sederhana dalam penampilan, hasil nyata dalam bekerja, displin, fleksibel dan bertanggung jawab, dedikasi tinggi dalam berkarya, cerdas menyikapi kekinian dan masa depan, keterbukaan managemen dan yang paling utama adalah jujur.

Buku yang ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana ini cocok untuk dibaca oleh segala kalangan.
Bagi pecinta pendidikan buku ini bisa menjadi salah satu reverensi dalam membangun lembaga pendidikan yang berorientasi pada mutu. Selain itu, pembaca akan merasa mengenal lebih dengan pak Djalil dan dengan kesederhanaannya.

Oleh : Joko Suwarno
Mantan staf pengajar di MTs dan SMA Surya Buana Malang
Sekarang tinggal di Kota Kuala Pembuang, Kab. Seruyan, KALTENG

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here