Beranda Edupedia Wacana Guru Semar

Guru Semar

285
0
BAGIKAN
HASAN ALBANA, M.Pd Guru Inspiratif SDIT Ahmad Yani, Jl. Kahuripan 12 Malang

Koranpendidikan.com – Kisah ponokawan atau punakawan dalam tokoh pewayangan bisa menjadi inspirasi bagi kita. Ponokawan. Pono yang berarti enlighting atau mencerahkan, sedangkan Kawan berarti sejumlah empat (4). Sehingga Ponokawan dapat diartikan sebagai 4 orang yang menginspirasi atau mencerahkan. Ponokawan dalam pewayangan sering disebut wulu cumbu. Wulu cumbu letaknya berada di kaki dan di depan. Hal tersebut memiliki filosofi bahwa idealnya dalam hidup ini ketika kita dalam melangkah yang dikedepankan adalah Ponokawan.

Ponokawan yang digawangi oleh Bagong, Gareng, Petruk, dan Semar memiliki karakter yang berbeda-beda. Tokoh yang pertama yakni Bagong, ia selalu bersikap naïf dalam hidupnya. Kedua adalah Gareng, ia bersikap skeptis. Ketiga, Petruk, ia senantiasa easy going atau take it easy dalam menyikapi masalah. Keempat adalah Semar, ia berperan sebagai moderator.

Bagong senantiasa bersikap naïf, misalnya ketika menanggapi sebuah permasalahan ia selalu naïf, semisal ‘guru kok mencabuli muridnya, ora pantes’. Bagong akan mengkritisi hal-hal yang terjadi disekitarnya dengan naïf. Gareng senantiasa bersikap skeptis, ‘kalau bukan kepala sekolah, siapa lagi yang bisa menyelamatkan muka sekolah?’.  Petruk senantiasa santai atau take it easy, ketika dalam sebuah pembicaraan yang serius, kadangkala Petruk tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan misalnya bertanya tentang skor akhir Manchester city vs Machaster united yang berlangsung tadi malam. Jadi apa yang dilakukan sebagai pencair suasana supaya tidak suntuk dan terfokus pada masalah yang hendak dipecahkan, sekali-kali refresh diri dengan bercanda. Semar berperan sebagai moderator bagi ketiga sikap tokoh diatas. Kapan sikap-sikap yang ada pada Bagong, Petruk, dan Gareng itu dimunculkan akan diatur oleh Semar.

Dalam diri seorang guru, seharusnya kita mampu memunculkan Ponokawan ini, supaya hidup tidak stres dan seimbang. Kadangkala Bagong kita munculkan dengan bersikap naïf, kadang Gareng dengan sikap skeptisnya, dan Petruk kita pakai sikapnya yakni take it easy dalam menghadapi masalah. Sehingga hidup ataupun suasana belajar dengan peserta didik maupun dengan teman sejawat di sekolah menjadi dinamis dan tidak membosankan, ketiga potensi sikap tersebut ada dalam diri setiap orang tak terkecuali guru.

Di jaman sekarang, justru yang banyak muncul atau yang sering dipakai sikapnya oleh masyarakat Indonesia kenapa sikap Bagong? Kenapa pula kadang banyak sikap yang terlalu mendominasi adalah sikap Gareng yang skeptis?, Jawabannya adalah itu karena Semar kurang bekerja. Semar yang bertindak selaku moderator kemunculan sikap tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya. Semar belum pandai mengatur keseimbangan kemunculan sikap-sikap tersebut supaya tidak ada yang terlalu mendominasi melainkan seimbang.

Semar dalam pewayangan ini dianggap sebagai tokoh yang satu-satunya orang yang sembahyangnya tanpa waktu (bukan 5 kali sehari, bukan tiap minggu). Akan tetapi sembahyangnya adalah setiap saat, setiap detik, dan air wudhunya bukan air akan tetapi amal perbuatan dia. Doa semar hanya satu yakni terima kasih.

Guru yang sejati adalah guru yang mampu mempekerjakan Semar dengan sebaik mungkin, mampu mengatur lalu lintas sikap-sikap yang ada pada diri manusia yakni naïf, skeptis, dan easy going. Ketiga potensi tersebut akan berseliweran dan berpeluang muncul. Ketika Semar telah menjadi karakter pribadi guru maka guru tersebut akan bekerja sebagai guru sejati atau guru Semar. Guru yang dinantikan setiap peserta didik bunyi derap langkahnya ketika menuju ruang-ruang kelas untuk belajar bersama. Sudahkah anda menjadi guru Semar?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here