Beranda Edupedia Wacana Kesenjangan Pendidikan dan Lapangan Kerja

Kesenjangan Pendidikan dan Lapangan Kerja

18
0
BAGIKAN

Koranpendidikan.com – Para pembuat kebijakan dan institusi pembangunan di negara berkembang boleh dibilang lambat dalam menciptakan lapangan kerja. Padahal realitas yang terjadi saat ini persaingan kerja yang semakit ketat dan sempitnya lapangan kerja di negeri ini rupanya tidak diikuti dengan kebijakan pemerintah yang proporsional.Wajar jika berapa banyak di negeri ini orang berkerja tidak sesuai dengan disiplin keilmuan dan keahliannya. Ironisnya, ini banyak terjadi di instansi atau lembaga jajaran pemerintahan, yang padahal tutuntan kerja diharapan proporsional.

Kita ambil contoh, lahan pendidikan profesi guru (PPG) bisa diambil oleh sarjana lain selain sarjana pendidikan guru. Semua itu dengan alasan sarjana pendidikan tidak harus jadi guru dan semua sarjana berhak menjadi guru. Misalnya lagi mahasiswa teknik bisa kerja di Bank bagian teller, dan masih banyak yang lain. Dilihat dari segi keilmuan sudah menyimpang dari profesi yang tengah diembannya. Realitas ini sebenarnya sudah banyak terjadi di bidang keilmuan-keilmuan lain. Pertanyaannya, dimana peran pemerintah dalam mewujudkan profesionalisme keilmuan demi hasil kerja yang baik sesuai bidang dan keahliannya?.

Sebagai mahasiswa, realitas tersebut sangatlah memprihatinkan karena peran pemerintah seakan-akan menyerahkan semuanya pada pasar atau bursa kerja yang ada, sehingga mau tidak mau wajar jika overlapping profesi banyak terjadi dikancah bursa kerja di tanah air ini.

Overlapping profesi dari keimuan yang berseberangan, yang paling berpengaruh adalah aspek psikologi, karena apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan keilmuan yang digeluti selama ini. Padahal bisa jadi beberapa acara training, talkshow, seminar pengembangan kepribadian atau motivasi telah diikuti dan buku-buku motivasi sudah terbaca oleh si pencari kerja bahkan mereka menyakini bahwa keberhasilan itu membutuhkan ketekunan dan kedisiplinan diri.

Namun, apa yang terjadi ketika diri ini sudah serius menata masa depan dengan sejak dini mencari ilmu dengan harapan profesi yang diperoleh dapat diperkuat dengan keilmuan yang sudah ditekuni melalui pendidikan formal dapat memperkaya diri dalam menghadapi dinamika dan wacana dalam dunia kerja yang sudah digeluti ternyata menguap begitu saja, malah banyak orang bekerja di luar bidang keilmuannya.Dengan kata lain kebijakan pemerintah tidak mengimbanginya dengan konsisten. Akibatnya terjadi kesenjangan pendidikan dalam lapangan kerja, dan kalau sudah begitu tidak menutup kemungkinan pengangguran di negeri ini akan terus meningkat. Peningkatan angka pengangguran sudah dapat dipastikan angka kriminalitas akan meningkat pula. Kecuali kesadaran entrepreneurship atau berwirausaha ini banyak tumbuh di masyarakat kita.

Kesimpulan yang bisa kita ambil bahwa pendidikan dan lapangan kerja yang kita harapkan tidak selalu linier atau berbanding lurus dengan keilmuan yang kita miliki. Ironisnya lagi ditambah dengan potret liberalisme dan komersialisme pendidikan yang tengah terjadi di negeri ini, kalau ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan negeri ini akan mencetak banyak generasi-generasi pengejar pragmantisme alias tindakan pengabaian proses dan pengutamaan jalan pintaslah yang akan lebih semarak.

Sudah saatnya pemerintah lebih bijak dan arif dalam melihat realitas ini agar peluang kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) di negeri ini tidak semakin menjamur, sehingga the right man and the right place bisa terjadi di negeri ini tidak sekedar teori dan slogan belaka.

Oleh : Mustika Sriwidhari
Mahasiswa D3 Keuangan dan Perbankan
Universitas Muhammadiyah Malang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here