Beranda Edupedia Wacana Keterampilan Berpikir Calon Guru Menyambut MEA

Keterampilan Berpikir Calon Guru Menyambut MEA

261
0
BAGIKAN
Husamah, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Koranpendidikan.com – Mungkin kita sama-sama pernah mendengar atau membaca kata-kata mutiara ini. Nemo dat quod habetverba movement exempla trahunt. Kurang lebih kalau diartikan, berarti tidak seorangpun memberikan dari apa yang tidak dimilikinya, kata-kata itu menggerakkan, namun teladan lebih memikat hati. Kata-kata ini tentu berdimensi luas, sehingga kita dapat menguraikan dan menghubungkannya dengan banyak aspek, misalnya adalah terkait pendidikan, proses pembelajaran, guru, maupun calon guru.

Mengapa harus pendidikan, proses pembelajaran, guru, maupun calon guru? Tentu kita sudah mahfum bahwa tatkala Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diberlakukan, maka guru menjadi semakin bergengsi dan guru menjadi profesi yang banyak dicita-citakan masyarakat. UU Guru dan Dosen mengisyaratkan bahwa profesi guru merupakan profesi terbuka yang menempatkan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai “produsen guru”. LPTK bertindak sebagai penyelenggaraan pendidikan bagi guru yang tentu harus dipacu untuk terus-menerus meningkatkan kualitas, baik dari segi sumber daya manusia, fasilitas, sarana, dan prasarananya.

Sehubungan dengan itu, saat ini salah satu isu yang banyak menyita perhatian publik adalah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Apabila berhadapan dengan MEA, akan sangat banyak yang harus dipersiapkan. Ini wajar karena nantinya kita berhadapan dengan orang-orang dari luar negeri. Oleh karena itu SDM harus lebih baik dan siap menghadapi semua tantangan itu. Ketika berbicara maslaah SDM, maka tentu tidak lepas dari peran guru sebagai aktor utama. secara otomatis pula, ketika berbicara guru maka tidak lepas dari bagaimana LPTK mencetak atau mempersiapkan mereka selama menjadi mahasiswa (calon guru).

Wagiran (2009) dengan jelas telah mengingatkan bahwa lembaga pendidikan (termasuk juga LPTK pencetak calon guru) harus merubah orientasinya dengan tidak hanya melatih mahasiswa menguasai suatu ketrampilan, tetapi lebih dari itu juga harus menyiapkan mereka untuk memiliki daya adaptasi yang baik terhadap persaingan global, disamping harus memiliki komitmen moral yang baik, mau hidup berdampingan dengan baik dalam masyarakat yang multikultur, multireligi, dan multi etnis. Dengan demikian peran dan fungsi yang tepat dari pendidikan adalah membangkitkan potensi mahasiswa untuk menjadi kritis dan kemampuan/keterampilan berpikir yang tinggi di samping memberikan ketrampilan teknis untuk bekerja. Pendidikan tidak lagi dilihat sebagai upaya menyiapkan seseorang (peserta didik) untuk memasuki masa depan, tetapi sebagai suatu proses agar seseorang bisa “hidup” kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun.

Inti dari uraian Wagiran tersebut adalah perlunya sistem pendidikan dan proses pembelajaran yang menyiapkan peserta didik untuk memiliki kemampuan/keterampilan berpikir yang tinggi. Pada titik inilah maka kata-kata bijak di awal tulisan ini menjadi penting. Bagaimana mungkin guru-guru akan mencetak generasi bangsa yang memiliki keterampilan berpikir sementara sang guru sendiri tidak terbiasa dengan keterampilan berpikir? Itu berarti proses pembelajaran di LPTK-LPTK harus didesain sedemikian sehingga mengasah dan membiasakan mahasiswa untuk terampil berpikir. Pertanyaannya adalah apakah keterampilan berpikir itu? Bagian berikut ini akan menguraikan hal tersebut.

Keterampilan Berpikir

Pengertian berpikir mengacu pada serentetan proses-proses kegiatan merakit, menggunakan, dan memperbaiki model-model simbolik internal (Gilhooly, 1982).  Keterampilan berfikir diarahkan untuk memecahkan masalah, dapat dilukiskan sebagai upaya mengeksplorasi model-model tugas pembelajaran di kelas agar model-model itu menjadi lebih baik dan memuaskan. Terkadang model dapat mendorong para pemikir untuk berpikir lebih jauh berdasarkan informasi perseptual yang mantap yang diperoleh dari lingkungannya (Bruner, 1957).

Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir (Duta, 2014).

Menurut Duta (2014) terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (high level thinking)berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking)Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, berpikir tingkat tinggi meliputi evaluasi, sintesis, dan analisis. Berpikir kompleks adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian. Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik.

Keterampilan berpikir juga dikenal dengan istilah habits of mind dan thinking skills. Sedikit berbeda dengan pendapat Duta di atas, Marzano (1994) mengungkapkan bahwa habits of mind dapat dikelompokkan dalam 3  kategori, yaitu self regulated thinking, critical thinking dan creative thinking. Pertama, Self Regulated Thinking, terdiri dari a) menyadari pemikirannya sendiri, b) mampu membuat rencana yang efektif, c) menyadari dan menggunakan sumber-sumber infomasi yang sangat berguna, d) sensitif terhadap umpan balik, dan e) mengevaluasi keefektifan tindakannya.

Kedua, Critical Thinking terdiri dari a) bersikap akurat dan mencari akurasi, b) jelas dan mencari kejelasan, c) bersikap terbuka, d) menahan diri dari sifat impulsif, e) mampu menempatkan diri ketika ada jaminan, dan f) bersikap sensitif dan tahu kemampuan pengetahuan temannya.

Ketiga,Creative Thinking, terdari dari a) dapat melibatkan diri dalam tugas meskipun jawaban dan solusinya tidak segera nampak, b) melakukan usaha memaksimalkan kemampuan dan pengetahuannya, c) membuat, menggunakan dan memperbaiki standar evaluasi yang dibuatnya sendiri, dan d) menghasilkan cara baru dalam melihat lingkungan dan batasan yang berlaku di masyarakat.

Melirik Hasil Penelitian

Husamah (2015) telah melakukan Penelitian Pengembangan Ipteks (P2I) yang dilakukan dengan judul Blended Learning Terintegrasi PjBL untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir dan Kesadaran Metakognitif Mahasiswa Baru Pendidikan Biologi. Penelitian ini dilaksanakan di Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universi Muhammadiyah Malang. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2014/2015.

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa baru (semester I) Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang yang menempuh matakuliah Pengantar Pendidikan, kelas A, B, C, dan D. Jumlah mahasiswa per kelas rata-rata adalah 50 orang. Dua kelas pertama sebagai kelas eksperimen yaitu kelas yang menggunakan Blended learning sedangkan dua kelas lainnya sebagai kelas kontrol yaitu kelas yang menggunakan metode pembelajaran konvensional (pembelajaran tatap muka seperti biasa, tugas makalah, dan diskusi). Sedangkan yang berperan sebagai pengelola pembelajaran adalah peneliti sendiri (pengampu mata kuliah).

Penelitian pengembangan menggunakan prosedur atau langkah-langkah penelitian dari Borg & Gall yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lapang. Untuk melihat Keterampilan Berpikir mahasiswa maka digunakan Angket Keterampilan Berpikir yang diadaptasi dari Marzano (2000) dan telah diujicobakan/digunakan sebelumnya dalam penelitian lain oleh Husamah dan Pantiwati (2013). Peneliti membandingkan 2 kelompok, dimana kelompok pertama diberi perlakuan dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Untuk membandingkan signifikansi perbedaan keterampilan berpikir antara kelas yang menggunakan Blended learning terintegrasi PjBL dengan yang tidak menggunakan dilakukan pengujian statistik dengan bantuan SPSS for Windows.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Blended Learning Terintegrasi PjB efektif meningkatkan keterampilan berpikir mahasiswa semester 1 (mahasiswa baru).  Ada perbedaan yang signifkan antara keterampilan berpikir kelompok eksperimen dengan kelompok non eksperimen.

Berdasarkan penelitian Husamah (2015) tersebut dan berdasarkan uraian literatur sebagaimana telah dilakukan sebelumnya maka sudah seharusnya para dosen di LPTK menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project based learning/PjBL) dan dipadukan dengan tren pembelajaran masa kini yaitu blended learning. Bila ikhtiar seperti ini digalakkan maka upaya kita untuk mencetak calon-calon guru yang tangguh dan siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) karena memiliki bekal keterampilan berpikir yang kuat, akan bisa tercapai.

Akhirnya, harus diingat bahwa pada dasarnya pembelajaran-pembelajaran yang berorientasi untuk meningkatkan keterampilan berpikir dapat dengan mudah dilakukan. Namun selama ini kondisi pembelajaran yang ada di kebanyakan di Indonesia belum begitu mendukung untuk terlaksananya pembelajaran ketrampilan berpikir yang efektif. Alasannya jelas, kita terlalu mapan dengan pola lama/konvensional dan terlalu malas untuk berubah. Lalu sampai kapan kita akan seperti itu, sementara tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah di depan mata? Wallahu a’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here