Beranda Edupedia Wacana Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

217
0
BAGIKAN
Ach. Nurdiansyah, S.Kom, Alumni Univ. Kanjuruhan Malang (Unikama)

Koranpendidikan.com – Setelah sebulan yang lalu setiap sekolah mengadakan orientasi siswa untuk memperkenalkan lingkungan sekolah dan seperangkat alat kelengkapannya. Maka bulan ini (september.red) menjadi momentum yang ditunggu oleh mahasiswa baru untuk mengenali lingkungan kampusnya yang menjadi idaman sejak bangku SMA.

Dari dulu kampus memang tempatnya ilmu, pesta dan cinta. Ada yang bergelut dibidang akademis ada juga yang hura-hura (hedonis). Ada pula segelintir mahasiswa yang menghabiskan waktunya hanya untuk kegiatan-kegiatan kebangsaan. Realitas sekarang yang muncul adalah gaya hedonisme yang semakin marak dikalangan mahasiswa, mulai dari pakaian yang minim, cara berdandan ria, nyabu dikampusnya, tawuran antar kelompok mahasiswa hingga nongkong di deskotik maupun café-café yang mengelilingi kampus.

Jika kita amati ada sebuah pergeseran orientasi nilai pada generasi muda saat ini. Orientasi nilai yang mereka utamakan ditunjukkan oleh orientasi materi yang kuat. Kalau kita kita lihat orang-orang yang sudah kuliah, mereka seperti tante-tante dalam hal berdandan, selera pakai, sampai “life style”. Mereka ini lebih berorientasi “bagaimana bisa memperkaya diri, bahkan dengan jalan yang keluar dari norma-norma kelaziman, cenderung menghalalkan segala seuatu. Oleh karena itu, sering kita dengar istilah “Camp Fried Chicken”.

Jika kita kaji kembali persoalan diatas adalah adanya pergeseran nilai dari sisi NCB (National Caracter Building) yang tidak kontributif dan tidak bertambah karena “National Identity” yang merefleksikan nila-nilai budaya yang dianut tidak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian muncullah budaya pragmatisme untuk menjadi kaya, untuk cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan. Ukuran dan keberhasilan itu adalah bagaimana dia semakin banyak kekayaannya, dan itu menjadi pandangan yang melekat pada sebagian orang. Ironisnya justru orang-orang seperti inilah yang menjadi aktivis. Orang yang tidak berorientasi pragmatis, tidak berorientasi material dan itupun jumlahnya kecil. Hal ini sudah terjadi sejak dulu, kecuali pada tahun 1974-1978 yang masih relatif banyak. Pada saat itu mahasiswa sama sekali diberangus pada ranah politiknya dan pada masa itu mulailah diperkenalkan ujian yang tidak menyebabkan mahasiswa untuk berpikir yaitu dengan model soal multiple choise yang membentuk mahasiswa bermental “gambling” sebab dengan sistem seperti itulah mahasiswa yang tidak mengerti tetap bisa menjawab. Lalu dengan cara itulah terbentuknya cara berpikir mahasiswa yang pragmatis.

Melihat kondisi diatas, tidak ada salahnya memberikan definisi sekaligus tipologi mahasiswa saat ini. Mahasiswa adalah seorang pelajar disebuah perguruan tinggi atau boleh dikatakan mereka adalah kaum intelektual terdidik yang ditunggu oleh bangsa ini. Bahkan juga ditunggu masyarakat karena agent of change yang selalu melekat pada dirinya, karena setiap perubahan yang riil. Namun pada saat ini sulit sekali untuk merebut gelar sebagai mahasiswa, ada yang berkeinginan menjadi mahasiswa (kuliah), tapi secara ekonomis kurang mampu, dan ada juga yang mampu, tapi ketika menjadi mahasiswa dia lupa akan peran dan fungsinya.

Realitas mahasiswa saat ini telah mengalami disorientasi peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri, kadang mahasiswa harus merelakan duduk berjam-jam dibangku kuliah sambil mencatat materi dan ada juga yang asyik dengan segala alat komunikasinya (HP) disaat kuliah berlangsung.

Tidak sedikit orientasi mahasiswa masuk perguruan tinggi hanya sebagai batu loncatan agar bisa langsung kerja dari pada harus berorganisasi atau mengembangkan organisasinya. Seperti inilah gaya mahasiswa yang memang diciptakan dengan gaya barat (kapitalis), sehingga dampaknya daya kritis mahasiswa saat ini bisa dikatakan sangat minim apalagi mereka yang hanya kuliah-pulang kuliah-pulang (kupu-kupu). Sehingga yang terjadi hanyalah penindasan-penindasan pola pikir mahasiswa menjadi hedonis yang sistematis.

Sekarang banyak mahasiswa yang enggan mengembangkan potensinya dalam berbagai organisasi baik ditingkat universitas, maupun komunitas sosial lainnya. Namun jarang sekali mahasiswa yang mau berpikir demi kepentingan publik sehingga hal inilah yang semakin memperpanjang mata rantai permasalahan sosial yang semakin mencekik kehidupan masyarakat.

Melihat kondisi diatas itulah, paling tidak ada beberapa tipologi mahasiswa saat ini yang sedang berkembang antara lain ; 1. Mahasiswa aktivis, yaitu biasanya mereka ini peka dengan urusan/permasalahan masyarakat, cepat merespon jika ada isu/fenomena yang terjadi pada masyarakat lebih-lebih pada kondisi bangsa. Tapi dilain sisi mereka tidak mengabaikan kewajiban mereka sebagai mahasiswa. Biasanaya tipologi seperti ini cenderung memiliki “Ground Balancing” antara penempatan diri dan pengembangan skill antara kuliah maupun ekstrakuliah dan kebanyakan dari mereka ini diterima dalam dunia profesi yang layak. 2. Mahasiswa organisatoris, yaitu pada tipe ini mereka hanya mementingkan kegiatan di sebuah organisasi tertentu. Karena menguntungkan bagi pengembangan dirinya, tetapi tidak menguntungkan bagi nilai akademisnya. Biasanya mereka cenderung menempatkan organisasi sebagai pelarian bukan suatu kebutuhan. 3. Mahasiswa akademis, yaitu biasanya mereka memiliki semangat belajar tinggi, mengejar nilai bagus dan berusaha sukses dalam hal akademisnya, tetapi biasanya mereka tidak peduli dengan urusan masyarakat. Artinya mereka mementingkan diri sendiri, mereka cenderung termakan oleh dunia akademisnya. Sehingga mereka kebanyakan tidak memiliki pengalaman yang praktis untuk menunjang arah profesinya dalam dunia kerja. 4. Mahasiswa hedonis, yaitu pada tipe ini biasanya mereka kuliah hanya untuk bersenang-senang, pacaran, shoping (konsumeris) atau sikap-sikap yang tidak mencerminkan sebagai mahasiswa. Mereka larut dalam dunia kesenangan tanpa ada keinginan untuk mencipta, berkreasi dan melakukan pengembangan diri yang efektif. Sehingga tidak peduli dengan masa depan maupun masyarakat. Mereka cenderung kuliah terbengkalai dan tidak dihargai masyarakat.

Tipologi diatas paling tidak menjadi refleksi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa, mengingat mahasiswa sangatlah ditunggu untuk memperbaiki peradaban suatu Bangsa. Pergerakan mahasiswa Indonesia cukup kontributif dalam mengawal setiap aksi kebijakan. Tantangan yang berat pada kondisi mahasiswa saat ini adalah Miskinnya bangsa dari guiding ideas (krisis gagasan kebangsaan), Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang terus bertambah sesuai perguliran zaman (krisis identitas), Lemahnya pengertian terhadap tanggung jawab dan kewajiban (krisis kepercayaan dan kebertanggungjwaban), Kebutuhan akan pemimpin yang layak dan kompeten tidak pernah tercukupi (krisis kepemimpinan).

Sejarah telah membuktikan kita, entah berapa banyak pejuang kebenaran dan pembela orang-orang tertindas yang kemudian akhirnya “kalah”, bukan karena musuhnya, tapi ketidakmampuan menghadapi dirinya sendiri, padahal perjuangan ini membutuhkan orang-orang yang “ sudah selesai dengan dirinya”, agar ia bisa memberi. Moga bermanfaat*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here