Beranda Edupedia Guru Menulis Disteachia Guru

Disteachia Guru

15
0
BAGIKAN
HASAN ALBANA, M.Pd Guru Inspiratif SDIT Ahmad Yani, Jl. Kahuripan 12 Malang

Koranpendidikan.com – Bila guru datang terlambat berarti beliau pemalas, namun bila siswa datang terlambat berarti ia tidak menyukai pelajaran gurunya. Bila guru marah-marah berarti ia memiliki kelainan jiwa, namun bila siswa marah-marah berarti ia menuntut rasa keadilan. Bila guru sering tidak masuk, berarti ia sok penting dan sok sibuk, namun bila siswa sering tidak masuk berarti ia sudah muak dengan sekolah.

Siswa ibarat mutiara, ia bernilai sangat tinggi. Ia tersembunyi dibalik wajah-wajah polos yang penuh kreatifitas dan unik. Masing-masing dari mereka memiliki karakter masing-masing, tidak ada dan tidak akan pernah ada karakter siswa yang sama persis. Menghadapi keragaman tersebut, kadangkala kita jumpai seorang pendidik sedang malapraktik kepada siswa yang ‘cerdas’ namun dianggap nakal.

Sering kali guru beranggapan bahwa sudah banyak melakukan aneka pendekatan, tetapi tetap saja, belajar itu tidak menghasilkan apa pun sehingga ujung ujungnya adalah menyalahkan anak sebagai pembelajar yang tidak peka, tidak kreatif, malas, dan aneka cap/ labeling negatif lainnya. Padahal, ketika anak yang sudah terlanjur di cap negatif tadi ditangani oleh guru yang tepat, justru bisa belajar dengan baik bahkan akan muncul menjadi sosok yang berprestasi.

Atas dasar fenomena inilah, Munif Chatib dalam bukunya, Sekolahnya Manusia, menyebutkan bahwa ada gangguan dan gejala penyakit yang terjadi pada pengajar kita (guru). Penyakit tersebut disebut disteachia. Sebuah penyakit yang diderita oleh guru-guru yang gagal mencerdaskan anak-anak yang ‘cerdas’. Penyakit guru ini dapat sembuh dengan senantiasa berpositif thingking kepada seluruh siswanya, baik itu cerdas sungguhan maupun cerdas yang masih tersembunyi. Tantangan guru adalah menemukan siswa yang cerdas tersembunyi atau cerdas yang kadangkala terselubung dibalik pelabelan “nakal’ seorang anak. Tingkah laku seorang cerdas tersembunyi kadangkala anomali tidak sama seperti pada umumnya anak-anak seusianya. Tingkah laku tersebut dapat dibentuk dengan beberapa cara oleh guru.

Penyakit disteachia dapat disembuhkan ketika guru senantiasa mengatakan I am the best teacher and you are the best student’, sehingga guru senantiasa memberikan yang terbaik pada siswanya, serta menganggap setiap siswanya adalah siswa terbaik, ketika mendapati siswanya bertingkah aneh dan memiliki model belajar yang berbeda, sang guru akan memberikan yang terbaik baginya dengan metode maupun cara cerdas dengan tidak melabeli siswa tersebut dengan label negatif terlebih dahulu, akan tetapi senantiasa memberikan label positif pada siswanya, kemudian perlahan menemukan potensi kecerdasan sesungguhnya melalui cara cerdas oleh guru cerdas untuk siswa cerdas sesungguhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here