Beranda Opini Jurnal Belajar dan Penguatan Kesadaran Metakognitif

Jurnal Belajar dan Penguatan Kesadaran Metakognitif

234
0
BAGIKAN
Husamah, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Koranpendidikan.com – Mengajar tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi suatu proses mengubah perilaku peserta didik sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu dalam proses pembelajaran terdapat kegiatan membimbing, melatih keterampilan intelektual, psikomotorik, memotivasi agar memiliki kemampuan inovatif dan kreatif, serta mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki sebagai bekal hidup. Seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, yaitu kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang lain yang bukan guru. Itulah sebabnya guru adalah pekerjaan profesional yang membutuhkan kemampuan khusus hasil dari proses pendidikan dan pengembangan diri guru.

Salah satu aspek penting lainnya yang juga harus dikembangkan dalam pembelajaran adalah kesadaran metakognitif peserta didik. Kesadaran metakognitif tidak hanya diperlukan oleh peserta didik di sekolah tetapi selama hidupnya. Mumford sebagaimana dikutip habibah (2008) mendefinisikan orang yang mempunyai keterampilan ini tahu tahap dari proses belajar dan mengerti tentang pendekatan yang disukai atau diminati dalam belajar, seseorang yang dapat mengidentifikasi dan mengatasi rintangan pada belajar akan dapat membawa belajar dari off the job learning pada on the job situasion.

Melalui kesadaran metakognitif peserta didik mampu menjadi pebelajar yang mandiri, menumbuhkan sikap jujur dan berani melakukan kesalahan dan akan meningkatkan hasil belajar secara nyata. Dapat bahwa kesadaran metakognitif perlu untuk diberdayakan dalam kegiatan pembelajaran. Secara teoritis, peserta didik yang memiliki kesadaran metakognitif lebih tinggi akan lebih berhasil dalam belajar sebab mereka mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh pada situasi nyata untuk mengatasi masalah yang ada.

Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru sebagai upaya membangun dan menguatkan kesadaran metakognitif adalah dengan “jurnal belajar”. Apa itu jurnal belajar? Apa sebenarnya kesadaran metakognitif itu? Bagaimana pula jurnal belajar dapat meningkatkan kesadaran metakognitif peserta didik? Berbagai informasi akan diulas lebih rinci pada bagian selanjutnya dalam artikel ini.

Kesadaran Metakognitif

Perkembangan dalam psikologi bidang pendidikan berjalan sangat pesat, salah satunya adalah perkembangan konsep metakognisi yang pada intinya menggali pemikiran orang tentang berpikir ” thinking about thinking”. Metakognitif secara sederhana didefinisikan sebagai berpikir mengenai bagaiamana kita berpikir. Metakognitif mengarahkan kepada proses berpikir tingkat tinggi yang melibatkan kontrol aktif proses kognitif dalam pembelajaran. Howard (2004) menjelaskan bahwa metakognitif mengacu pada pengetahuan seseorang mengenai proses-proses dan produk-prosuk kognitif orang itu sendiri. Para peserta didik harus aktif memantau penggunaan proses-proses pemikirannya dan mengaturnya menurut tujuan-tujuan kognitifnya. Istilah metakognisi menunjukkan upaya pengendalian kesadaran secara sengaja seseorang kepada proses kognitifnya

Menurut sejarah konsep metakognisi pertama kali diperkenalkan oleh John Flavell pada tahun 1976 yang didasarkan pada konsep metamemori. Flavell (1976) menggunakan istilah metakognisi mengacu pada kesadaran seseorang tentang pertimbangan dan kontrol dari proses dan strategi kognitifnya. Sejak pertama kali diperkenalkan oleh Flavell sudah banyak arti yang diberikan pada istilah metakognisi. Metakognisi mempunyai peranan ganda yaitu sebagai suatu bentuk representasi kognisi yang didasarkan pada proses monitoring dan kontrol guna pada kognisi yang didasarkan pada representasi dari kognisi.

Bila kita menyadari, sebenarnya selama beraktivitas dalam keseharian setiap orang selalu bekerja dengan metakognitifnya. Kesadaran akan keberadaan metakognisi memungkinkan seseorang berhasil sebagai pelajar, dan hal itu berkaitan kecerdasan atau inteligensinya. Mengetahui dan menyadari bagaimana kita belajar dan mengetahui strategi kerja mana yang terbaik adalah sebuah kecakapan berharga yang membedakan pebelajar ahli (expert learners) dari pebelajar pemula (novice learners).

Menurut Schraw & Dennison (1994) metakognisi mulai dengan membangunan suatu kesadaran berpikir di antara pelajar bahwa metakognisi itu ada, akan sangat membantu dalam menjadikan peserta didik menjadi lebih dasar dan peduli akan kemampuan yang dimilikinya, dan ini tentu sedikit berbeda dengan kognisi dan pengaruh sukses akademis. Jadi memang langkah pertama untuk mencapai pengertian yang mendalam terhadap mental model kita sendiri sederhananya adalah menjadi individu yang sadar akan proses berpikirnya sendiri.

Indikator-indikator kesadaran metakognitif yang akan dikembangkan yaitu: (1) mengidentifikasi tugas yang sedang dikerjakan, (2) mengawasi kemajuan pekerjaannya, (3) mengevaluasi kemajuan ini, dan (4) memprediksi hasil yang akan diperoleh. Selanjutnya proses-proses yang diarahkan pada pengaturan proses berpikir juga akan membantu (1) mengalokasikan sumber daya-sumber daya yang dimiliki untuk mengerjakan tugas, (2) menentukan langkah-langkah penyelesaian tugas, dan (3) menentukan intensitas, atau (4) kecepatan dalam menyelesaikan tugas. Indikator-indikator keterampilan metakognitif tersebut dituangkan dalam inventori keterampilan metakognitif (Hadi, 2007).

Untuk mengukur kesadaran metakognitif digunakan Metacognitive Awareness Inventory (MAI) yang dibuat oleh Schraw & Dennison (1994) dan dikembangkan pula oleh Imel (2002) dan diadaptasikan oleh Pantiwati (2010). MAI terdiri dari 52 item sebagai penjabaran dari pengetahuan tentang kognisi dan koordinasi kognisi.  Setiap diri dari 1 pertayaan dengan 3 jawaban pilihan jawaban yaitu ya, tidak jelas, dan tidak. Namun, Wicaksono (2009) menggunakan 6 pilihan jawaban yaitu Selalu (100%), Sangat Sering (>70%-<100%), Sering (>50%-70%), Jarang (>30%-50%), Sangat Jarang (>0%-30%) dan Tidak Pernah (0%).

Jurnal Belajar dan Penguatan Kesadaran Metakognitif

Jurnal belajar diterjemahkan dari log learning atau learning journal yakni merupakan dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang. Jurnal belajar biasanya ditulis oleh peserta didik, sebagai rekaman terhadap perkembangan materi yang sedang dipelajari. Jurnal belajar  merupakan wadah untuk menuliskan hasil refleksi peserta didik tentang pembelajaran yang telah diikuti. Bagaimana tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran, dituliskan dalam jurnal belajar.

Menruut Priyanto (2012) jurnal belajar sebagai wadah yang memuat hasil refleksi peserta didik tentang pembelajaran dapat dimanfaatkan pendidik (guru), kepala sekolah dan bahkan orang tua dapat membacanya sebagai bahan masukan untuk melihat kemampuan peserta didik dalam bidang yang dipelajarinya. Peserta didik mengisinya dengan hasil bacaan, hasil diskusi, refleksi terhadap temuan dalam pembelajaran, hasil pengamatan, hasil abstraksi atau apa saja yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Jurnal belajar bukan hanya ditulis oleh peserta didik yang mempunyai karya yang berkualitas dapat mengisinya.

Jurnal belajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan akademis semata akan tetapi diharapkan melalui kebiasaan menuliskan pengalaman belajar, peserta didik tersebut terbiasa mengekspresikan perasaan, pemikiran ataupun harapannya tentang pembelajaran yang diberikan pendidik. Jurnal belajar sebagai alat untuk komunikasi dan diseminasi informasi, pemikiran, hasil pengamatan tentang pembelajaran (Priyanto, 2012).

Tujuan membuat jurnal belajar  adalah bagaimana agar peserta didik memperoleh keuntungan dari jurnal tersebut. Dengan menuliskan sesuatu yang bermakna atau pemikiran peserta didik tentang pengalaman berharga dalam belajar, selain sebagai bahan refleksi dapat dijadikan rujukan oleh pembaca/peserta didik lain yang menghadapi hal yang sama. Jurnal belajar  diharapkan menjadi wadah untuk saling sharing informasi, pengalaman belajar, hasil pemikiran, hasil bacaan, pertanyaan kepada pendidik dan lain sebainya.

Menurut Harlita & Probosari (2010) di dalam jurnal belajar peserta didik dapat mendiskripsikan kembali apa yang sudah dipelajari, menuliskan hal-hal yang menarik, menantang, dan membingungkan pada hari itu . Sementara itu pendidik dapat menemukan hal-hal yang masih dirasa lemah dan dipandang belum belum bisa dimengerti dengan baik oleh peserta didik sehingga kelak dapat memperbaiki langkah-langkah yang akan datang guna meningkatkan keberhasilan pembelajaran. Pendidik harus bisa berperan sebagai fasilitator yang bersama-sama dengan peserta didik selalu aktif mencari sumber materi yang up to date serta mendukung pembelajaran aktif. Jurnal belajar ini sekaligus menjadi bagian refleksi diri dalam pembelajaran, baik untuk peserta didik dan pendidik sehingga terjadi harmoni yang serasi. Pendidik dan peserta didik senantiasa termotivasi untuk terus meningkatkan pengetahuan serta saling berbagi pengalaman belajar.

Husamah (2013) telah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) terkait topik ini. Hasilnya adalah penerapan pembelajaran kooperatif STAD terintegrasi pada PjBL dengan tugas menulis jurnal belajar dapat meningkatkan kesadaran metakognitif mahasiswa kelas VB pada Matakuliah Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Prodi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Semua indikator atau komponen Pengetahuan tentang Kognitif mengalami peningkatan.  Persentase Pengetahuan Deklaratif meningkat 5,5% pada Siklus I dan 7,44% pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 12,94%. Persentase Pengetahuan Deklaratif meningkat 3% pada Siklus I dan 7,25% pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 10,25%. Persentase Pengetahuan Kondisional meningkat 4,9% pada Siklus I dan 5,1% pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 10%. Semua indikator atau komponen Koordinasi Kognitif mengalami peningkatan Persentase Perencanaan meningkat 6% pada Siklus I dan 5,7% pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 11,7%. Persentase Strategi Manajemen Informasi meningkat 2,8% pada Siklus I dan 8,1% pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 10,9%. Persentase Pemantauan Pemahaman meningkat 7,5% pada Siklus I dan 5,6% pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 13,1%. Persentase Perbaikan meningkat 9,9% pada Siklus I dan 3,7 % pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 13,6%. Persentase Evaluasi meningkat 3,75% pada Siklus I dan 7,9 % pada Siklus II sehingga total peningkatan sebesar 11,7%.

Bagaimana mahasiswa secara berangsur-angsur menguasai keterampilan metakognisi ini mungkin memerlukan suatu proses yang cukup lama. Namun demikian, pendidik (dosen) dapat memulai pembelajaran lebih awal di perguruan tinggi dengan tugas menulis jurnal belajar ini, dengan secara spesifik melatih mahasiswa dalam keterampilan dan strategi khusus (seperti perencanaan atau evaluasi, analisis masalah), dan dengan struktur mengajar mereka sedemikian sehingga para mahasiswa terfokus pada bagaimana mereka belajar dan juga pada apa yang mereka pelajari.

Selain itu, menurut Aris (2007) dalam pembelajaran pendidik perlu menerapan jurnal belajar untuk dapat menilai seberapa dalam pemahaman peserta didik terhadap materi yang baru dipelajari, sekaligus mengoreksi kelemahan dan kesalahan peserta didik. Pengetahuan tentang proses berpikir siswa ini dapat dijadikan sarana bagi pendidik untuk meningkatkan motivasi belajar dengan cara memotivasi melalui komentar konstruktif  pada jurnal belajar.

Jurnal belajar dikembangkan untuk membantu siswa untuk belajar secara mandiri, dan memperoleh hasil yang optimal melalui kesulitan-kesulitan yang dapat dapat teridentifikasi dan memungkinkan perbaikan yang perlu dilakukan oleh guru. Jurnal belajar merupakan wadah bagi para siswa untuk menuliskan ide dan perasaan yang dialaminya ketika belajar. Melalui jurnal belajar, siswa dapat menuliskan secara rutin dan disiplin mengenai yang dipelajarainya, apa yang masih dipandang lemah, dan kemungkinan perbaikan yang perlu dilakukan oleh guru. Hal ini berarti kesadaran metakognitif, dan sekaligus hasil belajar dapat ditingkatkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here