Beranda Opini Pelaku dan Perilaku Positif untuk Pendidikan

Pelaku dan Perilaku Positif untuk Pendidikan

198
0
BAGIKAN

Tidaklah berlebihan bila kita mencoba melihat kembali secara jernih cita-cita Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia yang mendudukkan makna pendidikan secara arif  yaitu memanusiakan manusia

Setiap ada permasalahan dalam mengelola negeri ini,  pemerintah dan masyarakat terkesan cenderung untuk mengkambing-hitamkan sistem (mekanisme, aturan dan undang-undang), sehingga menjadi kewajaran bila solusi pertama pun yang sering terjadi adalah merubah sistem. Demikian juga fenomena bidang pendidikan, ketika kualitas pendidikan kita terus merosot dan tertinggal dari Negara-negara lain, juga hal yang wajar bila para pengambil kebijakan mencoba mengotak-atik sistem pendidikan, pembaharuan sistem, pembaharuan kurikulum dan sebagainya.

Kesempurnaan  sistem mungkin tidak akan kita temui – setiap sistem selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Bila kita mengkaji sejarah-sejarah pendidikan di Negara-negara maju, seperti Jerman, Jepang, Singapura, keberhasilan mereka menata pendidikan adalah lebih besar oleh faktor perilaku positif dari orang-orang yang menjadi pelaku dalam sistem itu. Hal ini perlu sekali rasanya kita mencoba mencontoh tidak sekedar menduplikat sistemnya, tetapi lebih kepada  perilaku dan perlakuan pemerintah dan masyarakatnya terhadap pendidikan itu.

Memang sebagai bangsa sudah lelah rasanya setelah setengah abad lebih merdeka selalu berkutat pada penyempurnaan sistem – sejarah menunjukkan adanya orde lama, orde baru, orde reformasi, bahkan tidak menutup kemungkinan lima atau sepuluh tahun ke depan kita akan merubahnya lagi menjadi “orde reformasi baru”.  Namun menjadi bijak bangsa ini bila segera berintrospeksi bahwa sampai hari ini bangsa Indonesia masih   tertinggal dalam bidang pendidikan. Sebagaimana  laporan dari Liga Global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson bahwa   pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia (www.bbc.com/11/27/ 2012). Bahkan dalam laporan tersebut juga disebutkan faktornya  kualitas guru, sehingga perlunya mencari cara untuk merekrut guru yang terbaik, termasuk status dan rasa hormat serta besaran gajinya.

Sikap dan Motivasi

Tidaklah berlebihan bila kita mencoba menengok kembali secara jernih cita-cita Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia yang mendudukkan makna pendidikan secara arif  yaitu memanusiakan manusia – kemudian telah kita tafsir dalam harapan bersama membangun manusia Indonesia seutuhnya – slogan Tut Wuri Handayani secara filosofis ingin mengedepan perilaku dalam pendidikan secara humanis.  Membenahi “pelaku dan perilakunya” dari sistem pendidikan yang kita sempurnakan  akan menjadi langkah maju bila bisa dimulai dari cara pandang pola laku yang positif.

Bila kita simak sejarah bahwa dunia pun mengakui mayoritas anak-anak bangsa ini cerdas dan mumpuni, setiap tahun kita bisa bangga melihat anak-anak bangsa ini menjuarai berbagai oliampiade sains di berbagai negara –  namun ironisnya jarang dari mereka yang cerdas dan unggul itu bercita-cita menjadi guru.  Dokter, insinyur, pengusaha dan sebagainya adalah lebih menggiurkan mereka– lalu siapa yang menjadi guru selama ini? Apakah mereka-mereka yang kurang cerdas?  Tidak bermaksud berlebihan bila dikatakan anak-anak bangsa ini melanjutkan kuliah di jurusan keguruan mayoritas karena tidak diterima di jurusan-jurusan favorit – atau karena tidak punya biaya untuk kuliah di jurusan-jurusan itu. Bagaimana  bisa bangsa ini menggantung harapan untuk melihat  pendidikan yang berkualitas, bila input tenaga pendidik adalah pelarian-pelarian dari jurusan lain. Berpuluh-puluh tahun pula bangsa ini melihat fakta di tengah masyarakat berapa banyak sarjana yang tidak diterima kerja dimana-mana, lalu mengambil akta mengajar untuk sekedar jadi guru dari pada menganggur.  Mengapa demikian? Mungkin jawabannya  adalah karena sikap dan motivasi pemerintah terhadap guru yang tidak penuh. Berapa puluh tahun guru hanya dikebiri dengan slogan pahlawan tanpa tanda jasa, penghasilan rendah, bahkan harus kerja tambahan.

 

Barulah  sepuluh tahun setelah reformasi (2007/2008),  guru mulai merasakan sedikit kesejateraaan – itu pun masih setengah hati pemerintah melayani guru dengan pola sertifikasi seperti saat ini yang tercermin dari banyaknya masalah dalam pembayaran dan persyaratan-persyaratan dalam sertifikasi.  Memang setelah diterbitkan UU No 14. Tahun 2005 tentang guru dan dosen, pemerintah sudah mengalokasikan dua puluh persen APBN. Dana yang begitu besar, kalau tidak dikelola oleh pelaku-pelaku yang baik, maka besar kemungkinan tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk dunia pendidikan. Terbukti selama ini berapa banyak masalah yang mencuat setiap tahunnya dalam penggunaan dana pendidikan tersebut?  Orientasi penggunaan dana lebih besar menjadi proyek-proyek yang mudah bocor. Kita tetap berharap pemerintah memiliki sikap tegas dan motivasi yang tinggi untuk memposisikan profesi guru dalam dunia pendidikan sebagai sebuah profesi yang bergengsi dari sisi penghasilan dan kesejahteraannya, setara dengan guru-guru di Negara maju, sehingga diminati oleh siswa-siswa yang cerdas dan berprestasi.

Dukungan masyarakat

Dana yang besar juga tidak akan berdampak besar, bila  perilaku pemerintah dan masyarakat terhadap pendidikan tidak mendukung terwujudnya iklim pendidikan yang baik. Sekarang animo siswa-siswi mulai meningkat terhadap jurusan keguruan, haruslah dibarengi oleh seleksi yang ketat untuk mendapatkan input yang baik. Pendidikan di perguruan tinggi terutama jurusan keguruan hendaknya juga mendapatkan prioritas pembangunan dan peningkatan kualitas dengan dana yang besar itu, sehingga outputnya nanti bisa melahirkan  guru-guru yang handal dan berkualitas tinggi. Jangan sampai animo siswa terharap jurusan keguruan tersebut hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak perguruan tinggi dengan orientasi komersial untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya  tanpa ada seleksi yang ketat dan peta kebutuhan guru yang wajar –  dengan membuka  kelas-kelas di jurusan itu sebanyak-banyaknya. Tentu harapan terbesar kita adalah semua elemen masyarakat mendukung terwujudnya guru-guru berkualitas  yang dirintis mulai dari rekrutmen di perguruan tinggi sampai menjadi guru. Sehingga negeri tercinta ini dapat bangun dari keterpurukan dengan guru-guru yang benar-benar profesional dan bermoral tinggi dalam mendidik anak-anak bangsa ini.

Tantangan ke depan

Begitu besar tantangan bangsa ini ke depan seiring dengan kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi – bila anak-anak bangsa ini tidak memiliki keteguhan pondasi budaya bangsa dan moral agama, maka bangsa ini tidak hanya kalah dalam persaiangan global, tetapi siap untuk menjadi mangsa. Sebagai bangsa sebenarnya kita memiliki akar budaya yang kokoh serta falsafah bangsa ideal. Bangsa ini berketuhanan yang Maha Esa, beradab dalam hubungan sesama manusia. Bangsa ini sudah menanamkan budaya musyawarah dan bermufakat. Namun begitu kuatnya pengaruh media sosial dan mudahnya akses internet akan menjadi kontraproduktif – anak-anak di rumah di sekolah sudah terbiasa dengan smart phone, tablet dan laptop dan murahnya pulsa – begitu satu kata terketik di laman google, youtube dan sebagainya – segera mereka akan diserang oleh begitu banyak pengaruh-pengaruh dari tampilan website-website baik yang disengaja atau pun tidak dibuka, maka disitu tertampang pornografi, kekerasam, penyimpangan perilaku dan sebagainya – setiap waktu siap menyerang anak-anak genereasi penerus bangsa ini. Gejala-gejala sosial sudah begitu banyak untuk kita perhatikan satu per satu – mulai dari pelecehan seksual, pergaulan bebas, pembunuhan, penipuan, bunuh diri dan sebagainya – dan  tidak hanya menimpa anak-anak saja, namun hampir semua lapisan masyarakat di negeri ini – siswa, guru, sopir, ibu rumah tangga, pekerja, anggota dewan, aparat keamanan, aparat hukum dan sebagainya – sebagai korban dari derasnya dan mudahnya arus teknologi dan informasi. Semua itu tanggungjawab siapa?  Tentu adalah tanggungjawab kita semua, dan harus kita pikirkan besama dan kita tanggulangi bersama sesuai porsi dan posisi kita masing-masing sebagai pewaris bangsa yang besar ini. Besar peran dan tanggungjawab guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk segera menempatkan diri kita sebagai bangsa untuk segera berdiri diatas budaya dan moral agama yang kita miliki –  kemudian berpacu untuk mengejar ketertinggalan kita dalam usaha memanusiakan manusia Indonesia kini dan masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here